Dari Teriakan Hore Sampai Teriak Amplopnya Tidak Sampai

Oleh : Asih Wahyu Rini-Hendri

SWARNANEWS.CO.ID | “Mendung tak berarti hujan”. Masih ingatkah dengan penggalan lagu milik penyanyi kawakan Deddy Dores, menggambarkan kondisi pencoblosan pagi kemarin (27/6).

Tak hanya mereka yang pakai sendal jepit, yang memakai sepatu, baju seragam keluarga hingga sengaja datang dengan memamerkan mobil barunya pun ada.

Masyarakat dengan bangga dan sumringah rela hadir pagi pagi hanya untuk antri di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Tak heran yang tidak terdaftar di pemilih tetap pun rela menunggu hingga jam 12 baru bisa mencoblos.

Lebih menggelitik lagi, warga yang punya kesibukan berdagang sayuran dari pukul 04.00 wib hingga pukul 09.00 wib pagi hari harus ihlas menunda jam tidur siangnya dari biasany pukul 10.00 wib pagi menjadi pukul 15.00 wib.

“Weleh weleh dak papalah sesekali 5 tahunan juga. Saya akan tunggu ni antrian sampai mau tau hasil QC jam 2 an siang, padahal saya ngantuk banget,” kata Halim.

Ya, meski cuma sekedar mecoblos, bagi Halim dan warga lainya, menjadi momen hajatan besar negeri gemah ripah loh jinawi ini.

Mereka juga tidak mau banyak tahu, siapa yang menang. Hal paling pokok adalah perut mereka kenyang dan mudah mendapatkan semua akses kehidupan.

“Soal siapa menang terserahlah dek, penting enak aman. Kito idak tau lah soal KPU, trus ap itu yang ngawas ngawas. Penting nyoblos pilihan aku sesuai yang aku senengi be. Kalu dak menang juga kito masih gawe mak nilah, menang juga masih gawe mak inilah,”ungkap Yanto penjaja Ikan pasar Alang Alang Lebar.

“Nah kalu pemilihan RT aku baru tahu nian ,” imbuhnya tertawa.

Di tempat terpisah, perhitungan suara di beberapa TPS seperti tak mengenal cuaca. Guyuran hujan di TPS 22 Talang Kelapa contoh saja tak menyurutkan para petugas KPPS, saksi dan masyarakat berinsut dari tempat mereka duduk. Tak mau ketinggalan info, deretan kaki kaki bersandal jepit merk Swallow sampai merk Carvil tegak lurus beridiri mengelilingi para petugas makin asyik satu per satu memberi kode dan penjumlahan perhitungan surat suara.

“Satu” artinya Paslon nomor 1 muncul dalam surat suara sudah dicoblos. Dengan serta merta bahkan ada sampai bergetar jemarinya saat menulis di papan hitung, terus dihitung sampai selesai.

Begitupun dengan “Dua” paslon dua yang muncul, tak banyak reaksi masyarakat. Sebab kedua paslon ini kendati selisih jauh namun sama mendapatkan suara lumayan banyak.

Hanya sesekali saja teriak warga “PNS” artinya pendukung paslon 1 pasti PNS membuat warga saling lempar senyum lantaran banyak profesi warga sama sama PNS.

Di balik semua itu, ada hal dalam bahasa gaul ‘gokil’ membuat warga teriak ‘hore’ bahkan ‘ya, amplopnya tidak sampe,’ saat petugas hitung menyebutkan perolehan suara untuk paslon nomor ‘3’ bahkan lebih parah lagi paslon nomor ‘4’.

Pemandangan asyik di bawah guyuran rintik hujan ini terus menghangatkan suasana dan membuat tugas tadinya grogi jadi senyum senyum sendiri dan sesekali berteriak ‘sabar,sabar y’.

Sementara di tempat terpisah Lokasi TPS 3 Sako baru RT 3 dan 14 jln. Pangeran Ayin. Ketika mulai perhitungan surat suara gubernur dan walikota dikeluarkan dari boxs  tertulis berjumlah 715, ketika dihitung ulang sebelum dilakukan pencoblosan surat suara gubernur berjumlah 712.

Surat suara walikota tercatat sebanyak 714, dengan jumlah DPT (daftar pemilih tetap) 697.

Ketika pencoblosan akan dimulai ada salah satu saksi dari tim HD- MY, yang salah TPS, yang seharusnya nya menjadi saksi di TPS 3 Sako lama RT 1 dan 3, bukan di TPS 3 sako baru Rt.3 dan 14.

Begitupun untuk saksi terdapat dua saksi yang tidak hadir untuk pasangan cagub nomer urut 2 dan untuk cawako nomor urut 3.

Ketika pencoblosan para saksi mencatat jumlah orang yang mencoblos sebanyak 307, terdiri dari 280 menggunakan surat keterangan/ undangan, dan 27 hanya menggunakan KTP.

Sedangkan dari pihak panitia tercatat sebanyak 306, terdiri 279 menggunakan surat keterangan dan 27 menggunakan KTP.

Saat penghitungan dimulai surat suara tersisa sebanyak 409 untuk gubernur dari 712, sedangkan walikota sebanyak 405 surat suara dari 715.

Bahkan surat suara gubernur berjumlah 303 terdiri dari 286 surat suara sah dan 17 surat suara tidak sah, sedangkan walikota sebanyak 310 terdiri dari 292 surat suara sah dan 18 surat suara tidak sah.

Tampak dalam perhitungan surat suara di TPS 3 Sako baru, bahwa pasangan cawako nomer urut 3 dan 4 tidak banyak yang memilih, nomer urut 3 perolehan surat suara hanya 10 suara, sedangkan nomer urut 4 perolehan surat suara hanya 18 suara.

Hasil terbanyak di dominasi pasangan 1 Harno Joyo dan  2 Sarimuda dengan perolehan yang berbanding banyak. (*)

Editor : Asih WR

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait