Demokrat Sumsel Umumkan Nama-Nama ‘Begal Politik’ yang Ikut KLB di Sumut

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG | Gerakan Pengambilalihan Kepemimpinan Partai Demokrat (GPK PD) dari Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) oleh Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko masih terus menjadi perhatian publik.
Di Sumatera Selatan (Sumsel), Sekretaris DPD Partai Demokrat Sumsel, MF. Ridho, ST, MT mengungkapkan bahwa ada beberapa kader Partai Demokrat (PD) dan mantan kader PD, ikut hadir ke acara KLB ilegal di Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut) pada 5 Maret 2021 lalu.

Menurutnya, dari berbagai bukti dokumentasi yang diperoleh pihaknya diketahui mereka, para ‘begal politik’ tersebut ikut dalam KLB ilegal itu.
“Berbagai bukti dan dokumentasi yang kita diperoleh, tampak para ‘begal politik’ asal Sumsel diduga hadir pada KLB abal-abal di Deli Serdang lalu,” ungkap Ishak Mekki dalam siaran pers yang diterima media ini, Senin (29/3-2021).

Mereka adalah, Geo Ferlando, Ketua DPC Kota Pagaralam (Caleg gagal 2019), Addinul Ikhsan, Ketua DPC Ogan Ilir (Caleg gagal 2019), Hairul Ilyasa, Ketua DPC Musi Banyuasin (Caleg gagal 2019), AA.Hari Afriansah, Sekretaris DPC Banyuasin (Caleg gagal 2019), Gumari, mantan Ketua DPC OKU Timur (Caleg gagal 2019), Sahrulludin, Ketua Bakomstra DPC OKU Timur, Pahlevi, kader PD OKU, Sari Rafita Utari, anggota BPOKKC DPC PALI, Abu Herrry, mantan Ketua DPC Musirawas (Caleg gagal 2019), Ismun Yahya, mantan Plt Ketua DPC Musirawas (Caleg gagal 2019), Tabrani Yauzi, mantan Pengurus PD Muratara, Ridwan, Ketua PAC Kecamatan Ilir Timur II Palembang, Abdul Rizal, Wakil Ketua Bendahara DPC PALI.

MF Ridho yang juga Anggota DPRD Sumsel ini mengatakan, mereka para ‘begal’ tersebut telah dilaporkan ke DPP PD di Jakarta dan telah diambil sanksi tegas berupa pemecatan baik dari jabatan maupun sebagai kader partai. Ia juga menyesalkan, bahwa ada dua kader senior asal Sumsel yang turut memotori GPK PD yakni, Marzuki Ali, mantan Sekjen DPP PD 2009-2014 dan Syofwatilah (Opat, Caleg DPR RI gagal 2019) yang telah memberikan contoh buruk tentang demokrasi di Sumsel.

“Mereka pernah diberi kesempatan berkiprah, besar, dan menikmati jabatan melalui Partai Demokrat karena jasa Pak SBY, namun ketika mereka gagal nyaleg, mereka berduyun-duyun ikut dalam gerombolan ‘begal politik’ yang merampok, menghina dan memfitnah SBY serta Ketum AHY,” kata Ridho sembari menegaskan bahwa mereka adalah contoh buruk bagi generasi muda Sumsel dalam berdemokrasi.

Ridho sangat menyesalkan perilaku mereka – para ‘begal politik’ yang telah menodai citra politisi dan partai politik di mata masyarakat. Padahal, lanjutnya, masih banyak sekali politisi dan partai politik yang berjuang dengan cara yang benar, mengedapankan etika dan berjuang sungguh-sungguh demi kepentingan dan aspirasi masyarakat.

“Mari selamatkan demokrasi, cegah perbuatan melawan hukum yang merusak demokrasi kita dari para ‘begal politik’ di daerah kita ini. Jangan salahkan bila publik menghukum mereka dengan sanksi sosial,” pungkasnya.*

Teks : Rilis

!-- Composite Start -->

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait