IGI Kabupaten OI Gelar Seminar Kesharlindung: Pemateri Sajikan Topik Urgen dan Menarik, Peserta Antusias, Terpukau dan Penasaran

 

 

ANTUSIAS LUAR BIASA:  Begitulah kondisi psikologis peserta Seminar Keshalindung yang digelar oleh Pengurus IGI Kabupaten Ogan Ilir di Aula SMPN 1 Indralaya Ogan Ilir Sumsel,  Kamis (3/8/2023). 

 

SWARNANEWS.CO.ID,   INDRALAYA OGAN  ILIR– Antusias, terpukau hingga penasaran. Itulah kondisi yang terjadi pada seminar Kesharlindung yang digelar oleh Pengurus Daerah Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Ogan Ilir di Aula SMPN 1 Indralaya, Kamis (3/8/2023).

Acara yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten OI yang diwakili  Kabid PAUD, Romdoni, Sekretaris Dinas Pendidikan Hartawan, Ketua Wilayah IGI Provinsi Sumsel, Aswin, SPd, MSi, Ketua Daerah IGI Kabupaten OI Sapto Abadi, Dr. Giyono (Guru SMAN di Muaraenim) sebagai narasumber, Kepala SMPN 1 Indralaya Herlina, SPd, MPd, Sekretaris PGRI Saleh Bina, MPd, Sarono P Sasmito Ketua Dewan Pendidikan sekaligus dan Dewan Pembina IGI, Anton Supriyanto , SPd, MPd yang juga Dewan Pembina IGI serta 117 peserta yang terdiri atas guru dan kepala sekolah SD, SMP dan SMA.

Acara yang dipandu MC Eny  Comalasari dimulai dengan menyanyikan lagu  Indonesia Raya dan Mars IGI dipimpin oleh Dirigen Herisa Aji, SPd. Kemudian pembacaan doa oleh Ikhsan. Usai itu dilanjutkan

laporan Ketua Panitia Ahmad Yani SPd MPd. Ahmad mengemukakan, acara  seminar tersebut terlaksana berkat kekompakan panitia dan dukungan dari dinas Pendidikan Kabupaten OI, kepala SMPN 1 Indralaya Herlina, SPd, MPd dan berbagai pihak lain. Sedangkan jumlah peserta 117 orang terdiri atas kepala sekolah dan guru SD, SMP, SMA dan SMK di Kabupaten OI. Kegiatan ini menindaklanjuti adanya PERMENPANRB tentang kenaikan pangkat, serta Kesejahteraan Penghargaan dan Perlindungan (Kesharlindung) bagi guru. Kegiatan urgen ini hanya memungut biaya penyelenggaraan sangat ekonomis yakni kontribusi peserta Rp50ribu perorang.

Kemudian dilanjutkan sambutan Ketua daerah IGI Kabupaten OI  Sapto Abadi, SPd, MPd. Menurut Sapto IGI dan PGRI memang  serupa sesama organisasi guru namun tak sama dalam hal kegiatan. Secara usia IGI baru berusia 14 tahun. Sedangkan latar belakang penyelenggaraan Seminar Kesharlindung bagi profesi guru ini karena urgensi masalah dan banyaknya hal-hal yang perlu disosialisasikan sehingga para guru mengerti pokok masalah dan tindaklanjut yang harus dilakukan dalam mengurus kenaikan pangkat dan lainnya.

Menjelaskan mengenai keanggotaan IGI menurut Sapto  bersifat sukarela. Meski sudah menjadi organisasi profesi guru, namun profesi lain seperti perawat, dokter dan  lainnya bisa ikut menjadi anggota IGI Bernama anggota luar biasa. Untuk di OI IGI terbentuk tahun 2016. Namun demikian telah banyak kegiatan yang diselenggarakan seperti IGI Sumsel berbagi dan IGI OI termasuk paling aktif dalam menyelenggaran kegiatan daring saat covid 19 dan pesertanya justru dari luar OI bahkan sampai di luar negeri. Selain IGI OI berkomitmen untuk sering menggelar kegiatan luring.

Sementara itu Romdoni SPd sebagai Plh Kadisdik OI selama kadis dinas luar mengharapkan agar para peserta bisa mengikuti kegiatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Sedangkan para naras umber dipersilakan mempergunakan waktu sebaik-baiknya untuk memberikan ilmu dan keterampilan kepada peserta, ujar pria yang menjabat sebagai  Kabid Pembinaan PAUD dan PNM ini.

Usai pembukaan dilanjutkan dengan seminar dengan moderator Andi Kumaini dengan narasumber Aswin, SPd, MSi dan Dr. Giyono. Aswin yang membawakan materi tentang Kesharlindung menguraikan tentang Tunjangan Fungsional Guru,  kemudian mengupas UU RI Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, PP nomor 19 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas PP Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru, Permendikbud Nomor 10 tahun 2017 tentang Perlindungan Bagi Pendidik dan Tenaga Kependikan, Permendikbud nomor 15 tahun 2016 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah. Penjelasan yang rinci dan menarik menjadikan peserta benar-benar antusias dalam menyimak. Aswin menguraikan juga tentang kesejahteraan dan perlindungan guru yang masih harus terus diperjuangkan. Ada fenomena kesejahteraan guru di  satu daerah dan daerah lain berbeda penghargaan dan kesejahteraan. Kemudian sulitnya memperoleh Satyalancana, adanya guru tersandung masalah hukum  dan bagaimana perlindungannya.

“Jadi kegiatan ini kami selenggarakan karena hampir tiap hari dijapri oleh guru anggota IGI  dan bukan anggota IGI tentang adanya uang tunjangan yang dipotong, beras belum dikirim dan kasus-kasus lain,” ujarnya.

Termasuk juga minimnya tunjangan fungsional guru jika dibandingkan dengan profesi lain seperti hakim, pegawai pajak dan lainnya. Begitu juga tentang Perlindungan guru, seharusnya penyelesaiannya  di luar pengadilan sedangkan langkahnya bisa berbentuk konsultasi, mediasi dan pemenuhan dan atau pemulihan. Semua hal yang dbahas tersebut dituangkan dalam makalah sehingga para peserta dapat menyimak dan mempelajarinya usai mengikuti kegiatan tersebut.

Materi kemudian dilanjutkan oleh Dr Giyono SPd, MPd Si guru SMAN 2 Muaraenim yang mengetengahkan tentang  Sosialisasi PERMENPANRB nomor 1 tahun 2023 tentang Jabatan Fungsional.

Tak kalah menarik dan urgennya materi yang disajikan ini membuat para peserta menyimak dan banyak diantaranya yang tertegun. Mereka menyimak Isi Permen yang terdiri atas 25 bab dan 63 pasal. Mulai dari pasal yang terkait profesi guru, pengertian jabatan fungsional,  predikat kinerja,  angka Kredit,  konversi predikat kinerja tahunan menjadi ke angka kredit tahunan. Penilaian SKPP, tata cara penyesuaian AK, dan seluk beluknya dibahas terperinci oleh pria yang menamatkan S1-nya sebelum menjadi doktor di Prodi Pendidikan Fisika FKIP Unsri. Hal yang memprihatinkan ternyata Permen ini belum diikuti Juklak dan juknis PermenpanRB sampai sekarang belum ada.

Usai paparan narasumber Sarono P Sasmito memberikan tanggapan, atas berbagai poin yang diutarakan oleh Aswin dan Giyono. Dalam hal perlindungan hukum Sarono mengajak para guru untuk berhati-hati dalam menjalankan profesinya sebagai guru. Saat ini ada pergeseran luar biasa di kalangan orangtua terhadap guru. Guru yang memberikan sanksi kepada peserta didik dengan tindakan membina mendidik bahkan dimusuhi dan dipidanakan. Di sisi lain tunjangan guru masih kalah jauh dengan tunjangan hakim, dokter, pegawai kementerian keuangan dan lainnya. Sedangkan tentang reward dan punishment diharapkan para kepala sekolah menjalankan sebaik-baiknya sehinga para guru bersemangat. Tak kalah semangat Dina Renita dari  FKIP Matematika yang menjadi Tim Penilai Kabupaten OI juga memberikan berbagai masukan. Begitu juga Maulini Oktarita dari  SMPN 3 Indralaya Selatan, Risnawati dari  SDN di  Pemulutan Barat juga menceritakan permasalahan yang dihadapinya.

Foto: Dok Dewan Daerah IGI Kabupaten OI

Teks/Editor: Sarono P Sasmito, SPd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *