Kenalkan Kopi Sumsel, Atur Dulu Tata Niaganya

SWARNANEWS.CO.ID PALEMBANG | Sumatera Selatan adalah daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia. Sayangnya, meski terbesar kopi yang diperoleh dari 12 kabupaten/kota penghasil tersebut belum begitu menggaung secara nasional. Tata niaga yang belum baik, membuat kopi Sumsel kalah dari kopi luar.Ada banyak persoalan yang membuat kopi provinsi ini belum begitu menasional.

Salama Sri Susanti, Duta Kopi Indonesia yang juga Ketua Umum Indonesian Coffee Ambassador Forum menjelaskan, hambatan tersebut terkait dengan persoalan belum adanya pelabuhan berkapasitas besar yang beroperasional. Pelabuhan Boom Baru yang ada sekarang kapasitasnya terbatas.

“Makanya lebih banyak petani kopi kita menjual hasil kebunnya ke Lampung,” sebut dia, dijumpai di Sahaby Café.

Dikarenakan biaya transportasi jauh lebih murah dibandingkan kalau harus mengirim dari Sumsel.Selain itu, para pembeli dan peminat kopi dari Lampung seringkali datang langsung ke petani Sumsel untuk membeli kopinya. Petani lebih suka jual ke Lampung atau daerah lain sebab jaraknya dekat dengan lokasi kebun mereka.

Sayangnya, kondisi ini tidak membuat nama kopi Sumsel dikenal di kalangan pembeli dan peminat kopi. Sementara pengusaha di Lampung, tidak mencantumkan asal muasal kopi itu diperoleh. Mereka mematok kopi sebagai hasil produksi Lampung. Padahal, sebagai pengusaha sudah seharusnya bersikap jujur menjelaskan darimana kopi tersebut diperoleh.. misal kopi dari Semendo, atau dari Lahat.

“Kita sebagai pengusaha harus jujur, tidak boleh bohong. Sebab, yang namanya kopi itu ada rasa khasnya. Sampai dibawa kemanapun, penikmat kopi akan tahu kalau itu adalah kopi asal Semendo, walaupun ditulis dari Lampung.

”Untuk itu, Salama mengusulkan ke pihak terkait seperti Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perdagangan, dan Forum CSR Kesos, untuk disampaikan ke Gubernur Herman Deru agar segera membuat peraturan mengatur tata niaga ini. Alur keluar masuk kopi hendaknya diatur, sehingga diketahui kopi mana saja yang boleh masuk Sumsel. Termasuk dengan kelengkapan surat-suratnya. Begitupun dengan kopi-kopi Sumsel yang keluar daerah. “Ini untuk menghindari jangan sampai kopi asal Sumsel, diakui sebagai kopi luar Sumsel,” sebut wanita yang aktif juga sebagai Ketua South Sumatra Coffee Master.

Luas kebun kopi di Sumatera Selatan, 250 ribu Ha yang tersebar di 12 kabupaten/kota. Dikelola mandiri oleh rakyat sebanyak 204.615 KK. Dan, Sumsel menjadi penyumbang produksi kopi nasional 135-150 ribu ton, atau sekitar 20-22 persen dari total produksi nasional.

Adapun kebun kopi Robusta Sumsel, terluas di Indonesia.Produksi kopi Sumsel, antara lain, OKU Selatan luas lahan 70.700 Ha dengan produksi 22 ribu ton per tahun. Muara Enim luas lahan 22.404 Ha dengan produksi 24.257 ton pertahun. Pagaralam luas lahan 2.427 Ha dengan produksi 1.022 ton per tahun. OKU luas lahan 12.072 Ha dan produksi 10.200 ton pertahun.

Salama Sri Susanti.

Saat ini, diakui Salama, masing-masing daerah penghasil kopi, berusaha mengenalkan sendiri kopi-kopi produksi mereka. Yang lazim terdengar yakni Kopi Semendo, Kopi Pagaralam, atau kopi Lahat. Padahal penghasil kopi provinsi Sumsel masih banyak. Dan yang paling tinggi produksi kopinya justru Kabupaten OKU Selatan.

“Promosi kopi saat ini masih sendiri-sendiri, belum united (bersatu). Padahal semestinya, kita mengenalkan kopi asal Sumsel misalnya dengan brand Sriwijaya Kopi. Kalau mau memasukkan asal daerah produksinya, boleh. Seperti Sriwijaya Kopi Semendo, Sriwijaya Kopi Ranau, atau lainnya,” jelas dia.

Jenis kopi yang dihasilkan Sumsel, yakni Kopi Robusta dan Arabica. Mayoritas kopi yang dihasilkan adalah kopi jenis Robusta. Sedangkan Kopi Arabica banyak terdapat di Semendo Muara Enim. Perbedaan kedua jenis kopi ini terletak pada lokasi penanamannya, serta taste yang dihasilkan. Kopi Robusta, dapat ditanam di lahan 600 – 1000 MDPL (Meter Di atas Permukaan Laut). Sedangkan kopi Arabica, dapat ditanam di ketinggian 1.200-1.800 MDPL.Sedangkan rasa kedua kopi ini juga berbeda. Kopi Arabica, cenderung asam karena kandungan acid-nya tinggi sementara caffeine low (rendah), dan lebih mudah di-blend (campur).

Biasanya penikmat kopi Arabica adalah kalangan perempuan, maupun anak-anak muda. Adapun kopi Robusta, biasa dinikmati coffee addict (pecandu kopi), kandungan kafeinnya tinggi, rasanya lebih pahit, pekat. “Warga Sumsel paling banyak menikmati kopi Robusta ketimbang Arabica,” kata Salama.

Langkah awal mempromosikan kopi produksi lokal adalah dengan menyediakan kopi produksi Sumsel di rumah. Kopi Sumsel tersedia hampir di semua toko sampai warung tradisional.

“Tinggal konsumennya saja memilih mau kopi Pagaralam, atau Semendo, atau Ranau, atau lainnya, semua ada di warung. Jadi biasakanlah minum kopi buatan kita sendiri,” sebut Salama.

Diakui Salama, selama kurun waktu tiga tahun terakhir, perkembangan bisnis kopi Sumsel terbilang cukup tinggi. Dari yang biasanya kopi hanya disajikan di warung-warung tradisional dan hanya berupa kopi tubruk, kini seiring dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi, kopi sudah mengalami banyak inovasi.

Misalnya dengan mencampur caramel, gula aren, ice cream, cincau, coklat, dan lain-lain. Sehingga penikmat kopi kini sudah meluas sampai kalangan anak muda. Apalagi disertai banyak bertumbuh pula café-café anak muda, yang menyajikan kopi hasil blend, yang rasanya nikmat. Sumsel, harus merebut masa kejayaan kopinya yaitu pada sekitaran tahun 1980-1990, yakni saat ekspor kopi Sumsel sedang tinggi-tingginya. Kala itu, eksportir kopi ada kurang lebih 20 an perusahaan. Namun, kini jumlahnya hanya menyisakan 2 perusahaan eksportir saja.

Minimnya produksi untuk ekspor, serta kurangnya pengetahuan petani mengenali kualitas kopinya, membuat banyak petani lebih suka menjual kopi daerah terdekat seperti Lampung, dan bukan sampai ke luar negeri.

“Inilah yang menjadi tugas kami untuk membumikan kopi Sumsel di Provinsi Sumsel. Salah satunya dengan mengadakan pemilihan Duta Kopi Sumsel 2019. Jadi nanti akan dipilih anak-anak muda berbakat di bidang kopi untuk mewakili daerahnya guna mengikuti pemilihan Duta Kopi tingkat provinsi. Mereka yang diikutsertakan dalam pemilihan ini, antara lain harus mengusai mengenai tanaman kopi, serta memiliki keahlian di bidang mengolah kopi. Jika usai pemiliha level provinsi, akan kami ikutsertakan pada pemilihan tingkat nasional. Atau bahkan mengikuti ajang Miss Kopi Internasional,” seloroh Salama. (*)

Teks/Editor: Maya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait