Ketika Puluhan Ton Sampah Produktif Kawasan Musi II mulai Jenuh Butuh Relokasi

‘Ratusan Juta per Hari Berputar di Sini’

Oleh : Asih Wahyu Rini
Siang itu (01/10) Swarnanews sengaja istirahat di warung kopi pinggiran Jembatan Musi II yang kini makin gagah dengan jembatan duplikat di sampingnya. Sayangnya, indahnya jembatan ini tidak seindah pemandangan di area bawah jembatan, kini makin sesak dipenuhi oleh sampah produktif bernilai ratusan juta per hari masuk di area seputar bawah jembatan ini. Tak heran, sesaat mata memandang ke atas jembatan nampak segar dipadu dengan aliran Sungai Musi, tapi jenuh sesaat kemudian saat berpasang mata mulai mengarahkan tatapanya ke area bawah jembatan.

 

Aktifitas Loading sampah produktif.

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG | Kunjungan Swarnanews di CV. Sampah Naga Emas, letaknya tak jauh dari area bawah jembatan Musi II, sempat berdecak kagum. Gunungan karung di pinggiran jalan masuk arah Karanganyar Gandus, di kanan kiri jalan seakan tak mempedulikan siapa saja yang mau lewat di area ini.

Debu bertabur dengan panasnya cuaca siang itu, makin membuat siapapun lewat di sini pasti tak mengenali misi Palembang BARI (Bersih Aman Rapi Indah) bahkan Palembang EMAS (Elok, Madami, Aman, Sejahtera). Faktanya, area ini masih jauh dari misi itu.

Kendati gunungan sampah ini bukan sembarang sampah biasa yang berbau busuk. Sebaliknya gunungan sampah di sini merupakan sampah produktif yang menyimpan ratusan rupiah per harinya dengan tingkat transaksi jual beli sampah produktif mencapai angka minimum Rp. 5 juta hingga 20 juta per pelanggan masuk di sini. Namun belum berbanding lurus kontribusi mereka untuk ikut menciptakan Palembang EMAS dan BARI, khususnya bersih dan rapi.

Pantauan Swarnanews di lokasi, tidak ada batas penutup khusus untuk area penampungan sampah produktif ini. Apalagi gudang khusus, harusnya sudah mereka miliki sendiri, untuk menjaga kerapian dan kebersihan di sekitar aktifitas usaha ini.

Bahkan, keinginan Swarnanews mencari tahu tingkat kepedulian lokasi ke beberap pejabat setempat, tak bisa ditemui lantaran sedang ke luar kantor. Hanya beberapa warga setempat mengaku, tidak ada penertiban apapun lokasi ini, bahkan saat bakal ada pejabat pusat datang pun area ini tetap menjadi pemandangan lumrah.

Pemilik CV. Sampah Naga Emas, Azwari didampingi istrinya Leli, mengaku hanya menertibkan pinggiran badan jalan tersapu kotoran sampah saja bila bakal ada pejabat lewat ini, diinstruksikan langsung oleh Rt dan lurah setempat. Selepas itu, aktifitas kembali seperti biasa.

Padahal di area ini menurut Azwari, bukan sampah produktif miliknya saja berserakan di punggiran hingga menggunung. Tapi ada sekitar 7 pemilik usaha serupaa di sepanjang area bawah jembatan ikut menyumbang aktifitas loading sampah produktif ini.

“Ya, kalau soal planning rencana mau relokasi dan buat gudang sendiri, belum ada. Kami fikir tidak perlu gudang, karena setiap hari kami angkut sampah ini dijual ke pusatnya bisa 3 sampai 4 mobil. Tapi itulah, datang lagi setiap hari bisa sampai 10 mobil. Jadi bisa 6 mobilan tidak terangkut dan menunggu angkut besok selanjutnya sampai menggunung di sini,” jelas Azwari.

Gunungan sampah di area bawah jembatan Musi II.

Bicara soal duit, Azwari tersenyum lebar. Menurut Azwari, dalam sehari ia harus memegang uang cash minimal Rp. 100 juta, untuk membeli barang barang dari sampah produktif (bekas botol aqua, botol minuman, kardus dan besi bekas).

“Bisa bayangin dek, sekali orang anter jual ke kita, minimal bisa berton ton sampai Rp. 5 jutaan. Bahkan, jika datang dari dusun dusun yang dibawa dari ketek sungai, sekali beli sampah mereka bisa sampai Rp. 20 jutaan. Ini rutin, kalau dalam kota tiap hari, sedangkan dari dusun bisa tiap 10 hari sampai 15 hari sekali,” bebernya.

Jadi, potensi sampah produktif menurutnya memang luar biasa. “Kita saja punya karyawan sampai 20 orang. Dari pekerja sortir harian memilah sampah sampai di kantor Palembang juga di pabrik penggilingan sampah plastik di Talang Jambi,” jelasnya.

Setelah disortir bersihkan, dipisah warna, ia akan giling plastik aqua kecil untuk dijadikan bijih plastik dijual di pabrik plastik di OKI.

Gambaranya, ia beli sampah aqua plastik dari masyarakat hanya Rp 3000 per kilogram, setelah digiling jadi biji plastik kering dijual seharga Rp. 10.000 per kilogram. “Dari sisi nilai tambah besar meman.Sayangnya baru sebatas itu belum ada gagasan buat pabrik pencetakan ember dll terbuat dari plastik, padahal peluanganya besar. Tapi modal pabriknya juga besar,” bebernya lagi.

Diakui Azwari, CV miliknya sudah mengantongi SIUP, SITU, makanya pihaknya tetap merasa tenang dan tidak takut digusur atau direlokasi. Jika ada izin resmi, jika direlokasi pasti akan ada kompensasi yang pantas.

Harga Sampah pun Fluktuatif

Kantor CV. Sampah Naga Emas lengkap dengan CCTVnya.

Meski omsetnya menggiurkan. Kadang pihaknya juga harus rugi dan menanggung margin keuntungan tipis. Khususnya bulan Ramadan, biasanya harga kardus dan sampah produktif ini anjlok jauh hingga 50 persen.

Jika saat ini normal kardus Rp. 1.100 sampai 2.000 per kilogram, saat tertentu turun hingga Rp. 700 sampai 800 per kilogram. Faktornya, bos di Jakarta sedang tutup order dan sedang keluar negeri atau alasan lainya sifatnya sangat tergantung pengumpul di Jakarta.

Makanya ia selalu memantau harga sampah ini setiap hari. Rugi, jika hari ini beli dari masyarakat dengan harga kemarin. Ternyata Jakarta menggunakan harga baru dan turun, ini akan sangat merugikan pihaknya.

Untuk harga harga rata rata saat ini, jenis botol Marjan Rp. 100 per botol, Kecap Rp. 500, botol bir Rp. 800, aqua cangkir Rp. 3.000 per kg, kardus Rp. 1.100 per kg dan besi bekas Rp. 4.700 per kg.

Untuk distribusi, jenis besi ia langsung kirim ke pabrik di Jakarta, 2x dalan seminggu. Sedangkan kardus dikirim di pabrik kardus di Palembang letaknya tak jauh dari Musi II ke araha jalan Gandus. Untuk sampah aqua plastik ia menggiling sendiri menjadi biji plastik dan baru dijual di pabrik plastik di OKI.

Disinggung soal potensi sampah produktif di Palembang, menurutnya bisa mencapai ratusan ton per hari.

Ia sebagai salah satu pelaku usaha ini yang sudah hampir 10 tahun, per hari bisa menampung minimal 10 ton. Di Palembang ada puluhan penampung seperti ia lakukan. Jika dibuatkan pabrik khusus di Palembang akan lebih efektif dan hasilnya akan lebih bagus. Tidak repot mengirim barang dan penampungan menggunung gunung.

Diakui Azhari sampai hari ini, ia belum ada bayangan lokasi untuk relokasi.

Sementara itu, hal sama juga diungkapkan Ayas, pemilik usaha Sampah Produktif di kawasan tak jauh dari CV. Sampah Naga Emas, sayangnya ia tak memiliki badan usaha khusus, menurut Ayas, usahanya baru uji coba selama 2 tahun ini, sehingga sampah yang ia produksi hanya 200 kiloan per hari.

“Modalnya dek belum ada kalau nak nampung banyak dan ngurus izin. Kalau ini bekembang, kito pengen jugo ngurus apa itu, SIUP dan izin lain buat perusahaan dewe,” jelas Ayaz.

Ia berharap jika ada relokasi diberikan tempat tidak terlalu jauh akses jalan besar.

Bahkan beberapa pabrik seperti pabrik Kardus berlokasi arah Gandus sempat dikunjungi Swarnanews, belum bisa memberikan komentarnya lantaran pimpinan utamanya sedang di luar kota. (*)

Teks/Editor : Asih

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait