Memahami Urgensi Nilai-Nilai Dasar Bela Negara

Oleh Dr. Ir. Parlaungan Adil Rangkuti MSi

Ketua Umum FOKUS BELA NEGARA

 

SWARNANEWS.CO.ID, |Menindaklanjuti “pemahaman arti bela negara” pada artikel sebelumnya, setiap warga negara memerlukan pemahaman tentang nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya dan urgensinya untuk membangun karakter bela negara yang ampuh dalam rangka membangun ketahanan nasional yang kokoh, kuat dan handal serta mensukseskan pembangunan nasional menuju NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang gemilang. Karakter bangsa Indonesia sebagai jatidiri yang memiliki sikap dan perilaku bela negara yang didukung oleh pemilikan nilai-nilai dasar bela negara diharapkan akan menjadi kekuatan yang dahsyat dalam mengantisipasi dan mengatasi berbagai bentuk nilai-nilai yang dapat melemahkan atau menghancurkan NKRI, seperti; individualisme, materilalisme, kapitalisme, hedonisme, radikalisme, egoisme, sukuisme, daerahisme dan sebagainya.

Peran Nilai Etik Dalam Karakter Bela Negara

            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), kata nilai mempunyai arti yang luas yakni dapat diartikan sebagai harga, angka kepandaian, kadar/mutu, sifat yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Dalam menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya, nilai dan etika berhubungan erat. Nilai etika bagi manusia merupakan nilai pribadi yang utuh seperti kejujuran, nilai yang berhubungan dengan akhlak, nilai yang berkaitan dengan benar dan salah yang dianut oleh golongan atau masyarakat. Nilai etika memuat elemen pertimbangan yang membawa ide-ide seorang individu mengenai hal-hal yang benar dan baik, atau yang diinginkan. Secara umum suatu nilai etika yang meliputi berbagai ragam atau kumpulan nilai etika (nilai-nilai dasar) dapat mempengaruhi sikap dan perilaku setiap individu dalam membentuk karakter seseorang dalam kehidupannya.

Pembangunan karakter seseorang ditentukan oleh dua aspek utama yakni sikap dan perilaku yang tumbuh sebagai karakter serta terbentuk dari nilai-nilai karakter bawaan sejak lahir dan nilai-nilai baru yang tumbuh dalam proses kehidupannya. Proses tumbuhnya karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan, pendidikan dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Karakter seseorang dapat berubah dari berkarakter yang baik menjadi tidak baik atau sebaliknya, dan perubahan ini dapat diintervensi dari luar. Pembangunan karakter bela negara seseorang dapat terbentuk melalui proses pendidikan, pembinaan dan kebiasaan yang dilakukan berdasarkan nilai-nilai dasar bela negara secara terus menerus.

Untuk memahami kandungan nilai-nilai dasar bela negara, perlu memahami terlebih dahulu Konsepsi NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945  serta Konsepsi Kebangsaan berwawasan Nusantara. Konsepsi NKRI mencakup bentuk negara Indonesia yakni negara kesatuan dengan sistem presidensial berdasarkan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara dengan sistem ketatanegaraan yang diatur dalam pasal-pasal yang ada dalam UUD 1945. Dalam Sidang kedua BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) tanggal 10 Juli 1945, telah membahas secara mendalam bentuk negara Indonesia merdeka yang merujuk kepada beberapa usul yakni; bentuk republik atau kerajaan (monarchie), dan bentuk federal (federalisme) atau kesatuan (unitarialisme). Setelah diskusi mendalam dan diikuti dengan pemilihan, sidang BPUPKI memutuskan bentuk negara Indonesia merdeka adalah berbentuk kesatuan dan berbentuk republik yang kemudian dikenal dengan NKRI. Konsepsi kebangsaan merupakan pandangan bangsa Indonesia terhadap wilayah Nusantara sebagai satu kesatuan wilayah laut dan daratan dengan penduduk berbagai suku, etnis dan agama dalam keberagaman yang menyatu sebagai bangsa Indonesia dengan semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika”. Wawasan Nusantara sebagai konsepsi kebangsaan diperkuat dengan konsepsi Ketahanan Nasional, Kewaspadaan Nasional dan konsepsi Politik Luar Negeri Bebas Aktif. Mengalir dari pemahaman nilai-nilai dasar bela negara dari berbagai sumber, “Modul Utama Pembinaan Bela Negara” yang disusun Dewan Ketahanan Nasional (2018) menunjukkan bahwa nilai-nilai dasar bela negara dapat dikelompokkan dalam enam kelompok ruang lingkup nilai sebagai berikut:

  1. Rasa cinta Tanah Air
  2. Sadar berbangsa dan bernegara
  3. Setia kepada Pancasila sebagai ideologi negara
  4. Rela berkorban untuk bangsa dan negara
  5. Mempunyai kemampuan awal bela negara
  6. Mempunyai semangat untuk mewujudkan negara yang berdaulat adil dan makmur.

 

Urgensi Nilai-Nilai Dasar Bela Negara

Nilai-nilai dasar bela negara mempunyai posisi strategis dalam membangun karakter bangsa yang sadar bela negara, karena akan mampu membangun kekuatan bangsa yang sangat dahsyat dalam mengantisipasi dan mengatasi setiap nilai-nilai yang akan melemahkan atau menghancurkan NKRI. Sejak kemerdekaan NKRI pada tanggal 17 Agustus 1945, telah tumbuh rasa cinta Tanah Air, semangat kebangsaan dan jiwa kejuangan atau patriotisme menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia. Dengan kekuatan nilai-nilai dasar bela negara, bangsa Indonesia telah berhasil mengantisipasi dan mengatasi berbagai bentuk AGHT yang datang dari dalam negeri atau dari luar negeri dengan pengorbanan yang luar biasa hingga saat ini.  Memasuki era baru yakni era kemajuan teknologi dan globalisasi yang sangat cepat, telah berkembang bentuk-bentuk AGHT yang sangat kompleks dan dinamis masuk ke seluruh sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin sulit diditeksi. Oleh karena itu pembangunan karakter bela negara berciri nilai-nilai dasar bela negera bagi setiap warga negara sebagai bagian dari jati diri bangsa semakin penting untuk diaktualisasikan (aksi bela negara) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Urgensi nilai-nilai rasa cinta Tanah Air sangat terkait erat dengan hati yang paling dalam untuk merasa bangga sebagai warga negara Indonesia dan ikut serta memiliki NKRI serta mempertahankannya sepanjang masa. Menurut Bung Karno secara geopolitik Tanah Air adalah Nusantara dan menjelma menjadi NKRI sebagai hasil perjuangan dengan pengorbanan yang luar biasa. NKRI terbentuk atas dasar kesepakatan bersama berlandaskan Pancasila dengan sistem ketatanegaraan yang diatur dalam naskah UUD 1945. Rasa cinta Tanah Air akan dapat tumbuh jika seseorang mengenal NKRI secara utuh meliputi; sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah, dan keindahan panoramanya yang luar biasa (zamrud khatulistiwa), sehingga mempunyai keyakinan masa depan yang gemilang. Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam rasa cinta Tanah Air memerlukan penjabaran yang lebih spesifik agar benar-benar dapat menyentuh hati dan tumbuh sebagai nilai-nilai rasa cinta NKRI meliputi; rasa bangsa sebagai warga negara Indonesia, rasa memiliki sebagai anak bangsa pejuang atas keberadaan NKRI, dan rasa tanggungjawab atas masa depan NKRI.

Urgensi nilai-nilai kesadaran berbangsa dan bernegara dimaksudkan agar setiap warga negara mempunyai sikap mental sadar berbangsa dan bernegara sebagai satu kesatuan nilai yang utuh lahir dari pemikiran dan jiwa yang jernih sesuai dengan semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika”. Sebagai bangsa yang majemuk memiliki kekayaan nilai-nilai budaya yang luar biasa, namun di lain pihak perlu disadari bahwa di balik keragaman tersebut ada potensi konflik horizontal yang bisa terjadi jika tidak berhasil membangun nilai-nilai kesadaran kebangsaan sejak dini secara berkelanjutan bagi generasi penerus. Kesadaran berbangsa dan bernegara, merupakan sikap yang tulus dan ikhlas memiliki sikap dan perilaku kebangsaan dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan sebagai satu bangsa yang utuh dan kuat. NKRI lahir sebagai hasil dari semangat kebangsaan yang tidak mengenal mayoritas atau minoritas, semua pihak berjuang bersama untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia tanpa mengenal perbedaan suku, etnis maupun agama. Nilai-nilai semangat kebangsaan merupakan nilai-nilai yang akan menjamin keutuhan NKRI meliputi; nilai kebersamaan dalam keberagaman, nilai kekeluargaan sebagai bangsa pejuang, dan nilai toleransi dalam kerukunan hidup bergotong royong.

            Urgensi nilai-nilai kesetiaan kepada Pancasila, merupakan sikap dan perilaku atas hidup matinya NKRI, karena Pancasila telah disepakati sebagai ideologi alternatif yang tepat bagi bangsa dan negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Setelah NKRI merdeka selama 74 tahun dengan berbagai bentuk AGHT dari dalam negeri dan luar negeri berhasil diatasi, saatnya seluruh komponen bangsa meningkatkan kesetiaannya kepada Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara dengan menerapkan nilai-nilai yang ada di dalam sila-silanya secara konsisten dan konsekwen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan sikap dan perilaku setia kepada Pancasila akan dapat mengantisipasi dan mengatasi berbagai bentuk ideologi yang yang tidak seiring bahkan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila yang dapat melemahkan atau menghancurkan NKRI. Nilai-nilai yang termuat dalam sila-sila Pancasila perlu dijabarkan lebih operasional agar setiap warga negara dapat berperan aktif mengaktualisasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara umum nilai-nilai yang ada dalam sila-sila Pancasila memiliki;

  1. Nilai-nilai relijius berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa seperti; nilai keimanan, kejujuran, kebersihan, kedisiplinan, dan nilai toleransi beragama.
  2. Nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, seperti; nilai hak asasi setiap warga negara, anti kekerasan, anti diskriminasi, dan nilai saling menjunjung tinggi hak asasi individu dan sosial.
  3. Nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam keberagaman, seperti; nilai kejuangan/patriotisme, kekeluargaan, kebersamaan dan nilai gotong royong.
  4. Nilai-nilai kedaulatan rakyat dengan sistem “demokrasi” mengutamakan musyawarah mufakat, seperti; nilai demokrasi, musyawarah, mufakat, dan nilai kearifan lokal.
  5. Nilai-nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, seperti; nilai keadilan dalam sosial politik, ekonomi dan nilai sosial budaya.

Urgensi nilai-nilai sikap rela berkorban untuk bangsa dan negara, merupakan kekuatan moral dan fisik ikut serta menjaga, membangun dan menjamin kelangsungan hidup NKRI sepanjang masa. Tanpa pengorbanan dari setiap warga yang memilki rasa cinta Tanah Air, sadar berbangsa dan bernegara serta setia kepada ideologi Pancasila, hanya akan merupakan slogan tanpa arti karena dalam upaya bela negara diperlukan sikap rela berkorban di atas kepentingan pribadi atau pun golongan. Merujuk kepada sikap dan tekad para pejuang bangsa, telah menunjukkan pengorbanan jiwa raga para pejuang tersebut baik dalam merebut kemerdekaan maupun pada masa mempertahankan NKRI. Para pejuang pahlawan bangsa yang tersebar di seluruh Nusantara, baik di Taman Makam Pahlawan maupun dipemakaman umum telah menjadi saksi sejarah atas kekuatan nilai-nilai kejuangan bangsa Indonesia yang rela berkorban jiwa raga bagi bangsanya. Secara rasional dapat dipastikan bahwa tanpa nilai-nilai sikap rela berkorban dari para perjuang bangsa, NKRI sudah berakhir di perjalanan. Namun berkat sikap rela berkorban dari para pejuang bangsa dan atas ridho dari Tuhan Yang Maha Esa, NKRI tetap eksis hingga saat ini. Untuk melanjutkan perjuangan menuju terwujudnya cita-cita bangsa, melestarikan nilai-nilai sikap rela berkorban yang termuat dalam Jiwa, Semangat dan Nilai juang 45 (JSN 45) yang sudah dirumuskan Angkatan 45 menjadi sangat menentukan. Nilai-nilai sikap rela berkorban yang terkandung dalam JSN 45 antara lain; nilai patriotisme, percaya diri, pantang mundur, anti penjajahan, serta ulet dan tabah.

Mempunyai nilai-nilai kemampuan bela negara, merupakan kemampuan sikap dan perilaku baik secara fisis maupun secara fisik untuk mengantisipasi dan menghadapi berbagai bentuk AGHT agar upaya bela negara berdaya guna secara optimal. Pada dasarnya nilai-nilai kemampuan bela negara telah tumbuh pada bangsa Indonesia, dan telah melakukan upaya bela negara hingga saat ini. Seiring dengan perkembangan bentuk-bentuk AGHT yang semakin komplek dan dinamis perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kemampuan bela negara dengan memiliki kemampuan dalam menganalisis AGHT yang muncul di lapangan agar dapat diantisipasi dan diatasi, baik secara individu maupun bersama secara optimal. Analisis AGHT secara sederhana dapat menggunakan analisis SWOT (strength, weakness, opportunities, threats), yakni mengetahui tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang ditemukan di lapangan. Dengan memahami hal tersebut diharapkan masyarakat dapat mencari solusi untuk berperan aktif melakukan aksi bela negara, baik oleh individu maupun komunitas (bersama) sesuai dengan profesi dan kemampunannya di lingkungan masing-masing atau lingkungan publik. Dalam perkembangan peradaban yang semakin modern seiring dengan perkembangan teknologi dan globalisasi telah berkembang nilai-nilai yang tidak seiring atau bertentangan dengan nilai-nilai dasar bela negara, akan dapat diantisipasi dan diatasi jika ketahanan nasional semakin kokoh, kuat dan handal. Bentuk-bentuk AGHT yang dapat melemahkan atau menghancurkan NKRI memerlukan pembangunan nilai-nilai yang terdapat dalam konsepsi Ketahanan Nasional yang meliputi lima aspek (panca gatra) yakni; nilai ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan nilai pertahanan keamanan.

Urgensi nilai-nilai semangat untuk mewujudkan negara yang berdaulat adil dan makmur, merupakan “energi potensial” untuk diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menuju terwujudnya cita-cita bangsa. Untuk mencapai sukses pembangunan nasional dengan tingkat ketahanan nasional yang kuat, kokoh dan handal memerlukan semangat yang tinggi dan partisipasi seluruh rakyat Indonesia secara holistik berdaya guna secara optimal. Semangat yang berlandaskan sikap dan perilaku bermuatan nilai-nilai mewujudkan negara yang berdaulat adil dan makmur merupakan kekuatan yang dahsyat menjuju terwujudnya cita-cita bangsa. Nilai-nilai yang terkandung dalam semangat mewujudkan negara yang berdaulat adil dan makmur merupakan nilai-nilai yang termaktub dalam cita-cita bangsa Indonesia yang meliputi; nilai melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta nilai ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial (sesuai dengan Pembukaan UUD 1945).

 

Editor: Sarono PS

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait