Mengenal Sosok Margaret Kerabat Dekat Gus Dur yang Terpilih Aklamasi di Kongres Fatayat NU

Oleh : Asih Wahyu Rini-Nora

Perhelatan Kongres Fatayat NU ke-16 menyisakan banyak tanya. Sosok Margaret Aliyatul Maimunah diboyong secara aklamasi oleh 34 Propinsi se-Indonesia melalui sidang forum resmi Kongres ke-16 menyisakan penasaran banyak pihak. Siapakah sebenarnya sosok wanita kelahiran 1979 kini juga menyandang sebagai Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sekaligus Dosen Program Studi Kajian Wanita Metodologi Feminis dan Pengalaman Penelitian Perempuan UI yang mampu menggoyang 34 propinsi mengantarkanya memimpin Fatayat NU periode 2022-2027.

Meski sosok Margaret sudah familiar di kalangan nahdliyin NU. Namun masih belum di kalangan umum.

Bagi para aktivis. Sosok Margaret Aliyatul Maimunah bukanlah nama baru. Ia adalah kader besutan dari Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).

Soal leadership, ia telah teruji, karena pernah memimpin banyak organisasi sejak remaja, termasuk ketua umum PP IPPNU.

Bahkan secara genetik, sejak masih dalam kandungan, Margaret Aliyatul Maimunah sudah NU, karena ia adalah cicit dari pendiri NU, KH M Bisri Syansuri.

Dikutip dari berbagai sumber, Ning Aliya, sapaan akrabnya, lahir di lingkungan pesantren Jombang, Jawa Timur. Putri kedua dari KH Mohammad Faruq dan Hj Lilik Chodijah itu lahir pada 11 Mei 1979.

Hj Lilik Chodijah sendiri adalah putri dari KH Aziz Bisri yang merupakan putra dari KH M Bisri Sansuri, ulama ahli fiqih pada zamannya.

Sejak kecil Margaret atau sering disapa Neng Aliya dididik dan digembleng dengan kultur khas pesantren yang penuh kesederhanaan, tradisi ngaji kitab, dan berbagai kekhasan lainnya. Bahkan sejak MTS/SMP ia sudah terbiasa dibebani dengan tanggung jawab ikut mengajarkan ilmu yang ia miliki pada anak-anak sekolah MTS yang didirikan oleh orang tuanya sendiri.

Ia juga ditempa di pendidikan formal keagamaan yang ada di lingkungan pesantren, sejak Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Hingga akhirnya ia melanjutkan S1 UIN Sunan Ampel Surabaya dan S2 Universitas Indonesia (UI).

Sejak remaja Ning Aliya sudah terbiasa berorganisasi, sehingga wajar bila jiwa organisatorisnya telah mendarah daging.

Bahkan secara genetik, Ning Aliya sudah darah organisasi, sejak cicitnya yang mendirikan dan aktif mengembangkan NU di awal-awal periode atau saat masa penjajahan.

Ia juga menceritakan bahwa ayahnya adalah sepupuan dengan Gus Dur . Saat ia masih MI atau seusia SD, sering melihat Gus Dur mampir ke rumahnya datang di tengah malam untuk sekedar ngobrol dengan ayahnya. Lalu Gus Dur pergi di pagi hari saat usai subuh. Begitu seringanya datang tengah malam. Membuatnya kagum bahwa Gus Dur pejuang luar biasa karena tidak mengenal rasa lelah melanjutkan perjalanan sana kemari.

Ia juga bercerita kedekatanya dengan sejumlah tokoh NU mulai dari Gus Ipul hingga Cak Imin menurutnya memiliki ciri khas dan karakter luar biasa dekat dengan keluarganya.

Darah kiai tokoh-tokoh NU dekat denganya dan kultur NU mendarah daging juga sosok ibunya menjadi trigger luar biasa dalam dirinya karena ibunya sangat mandiri dalam segala hal. Seakan menjadi oleh oleh ia berjuang membesarkan Fatayat NU atau pemudi NU kedepanya.

Tak hanya organisasi ke-NU-an, Ning Aliya juga sejak kecil aktif di organisasi umum mulai dari OSIS, Pramuka, dan lainnya.

Ketua Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri PMII) Rayon Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya (2000-2001).

Ketua PMII Komisariat Adab Cabang Surabaya Selatan (2001-2002).

Pengurus Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Timur (1999-2001).

Bendahara II PW IPPNU Jawa Timur (2001-2002). Sekretaris Umum PP IPPNU (2006-2009)

Ketua Umum IPPNU (2009-2012). Wakil Koordinator Bidang Ekonomi PP Fatayat NU (2009-2015). Sekretaris Umum PP Fatayat NU (2015-2020). Ketua Umum PP Fatayat NU (2022-2027)

Dari perjalanannya berorganisasi sejak belia hingga saat ini banyak hal yang dilakukan Ning Aliyah dalam menggerakkan roda organisasi sudah layak diacungi jempol.

Sementara itu kilas balik perjalanan Kongres NU ke-16 mampu mengantarkan Margaret alias Neng Aliya menduduki kursi empuk berkat dirinya cukup fair membangun komunikasi dengan semua PW di 43 propinsi sejak ia menjabat sebagai Sekum Fatayat NU periode 2015-2020.

“Jadi bukan hal instan ya saya dipilih secara aklamasi. Bukan juga pesanan politik dari tokoh NU. Tapi murni memang saya dekat dengan mereka semua. Sekecil apapun persoalan PW saya coba hadir menyelesaikan dengan baik cepat sejak saya jadi Sekum, ” ungkapnya.

Kegiatan ini dilaksanakan di Jakabaring Sport City, Kota Palembang (14-17) Juli 2022.

Meski sudah tertunda selama 2 tahun dikarenakan covid 19 ini dijelaskan Ketua Umum PP Fatayat NU Demisioner yaitu Anggia Erma Rini, namun Kongres ini tetap bisa dilangsungkan dengan baik dibuka oleh wakil presiden yaitu Ma’ruf Amin juga Mentri Pertahanan RI Prabowo Subianto.

Sementara itu penutuoan Kongres dihadiri langsung oleh Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Ida Fauziyah dan Ketua PB NU Yahya Cholili Tsauf menutup acara.

Beberapa tamu undangan penting turut hadir Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati. Ketua Baznas RI Noor Achmad, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Gubernur Sumatra Selatan H Herman Deru serta dihadiri juga oleh 520 pimpinan cabang hadir dari 34 propinsi.

Dalam pesan khusus komgres. Pada orasinya Prabowo Subianto sekaligus Menhan RI berpesan. Dalam amanat UUD 1945. Semua warga berhak ikut andil dalam membela negara.

Khususnya ibu-ibu menjadi ujung tonggak membimbing generasi ini kuat atau lemah.

Ratusan kepulauan kita didatangi bangsa bangsa asing. Sehingga butuh orang orang khususnya wanita wanita tangguh menyumbangkan pemikiran juga support terbaiknya mendidik generasi hebat melindungi negeri ini.

“Maksud saya itu kaum perempuan adalah yang melahirkan generasi penerus, kaum ibu melahirkan dan mendidik dan membesarkan generasi-generasi penerus kita. Kalau kaum ibu-ibu, kaum perempuan Indonesia lemah berarti anak-anak yang dilahirkan akan lemah, berarti generasi penerus kita akan lemah, otomatis bangsa kita akan lemah,”ungkapnya berapi api.

Melalui Kongres Fatayat inilah ia berharap menghasilkan terobosan yang membawa kemajuan untuk organisasi. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait