Meningkatkan Minat Siswa Melalui  Pembelajaran Narrative Text Menggunakan  Aplikasi Assemblr EDU di SMP Negeri 1 Kandis

Oleh:

Raden Ayu Aminah, SPd

(Guru di SMPN 1 Kandis Ogan Ilir)

SWARNANEWS,CO,ID Pendidikan di masa pandemi covid-19 bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Banyak kebijakan pemerintah yang dikeluarkan berkaitan dengan pendidikan selama pandemi. Salah satu kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan yaitu diberlakukannya pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi seluruh murid. Kebijakan tersebut dibuat untuk memutus rantai penyebaran covid-19 di masyarakat khususnya di lingkungan sekolah. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah merupakan pembelajaran yang dilakukan secara daring atau online. Pembelajaran berlangsung seperti biasa, hanya saja tidak ada lagi pertemuan tatap muka antara guru dan murid secara langsung. Guru dan murid memanfaatkan fasilitas belajar online selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Materi dan tugas akan diberikan kepada murid melalui berbagai aplikasi seperti whats app, google classroom, quizziz dan lain-lain. Applikasi aplikasi tersebut bisa digunakan melalui gadget/gawai/smartphone atau secara umum kita kenal dengan sebutan HP(handphone).

Di samping dampak positif penggunaan smartphone dalam dunia Pendidikan terdapat pula dampak negatifnya. Banyak sekali konten konten yang dapat berpengaruh buruk dengan pembelajaran mereka dirumah.Apalagi tampa pengawasan orang tua. Murid dapat leluasa mengakses game online dan konten konten yang bisa memberikan pengaruh buruk yaitu ketergantungan untuk terus bermain game sehingga mereka menjadi malas belajar. Dengan alasan mengerjakan tugas dari guru mereka sengaja tidur sampai larut malam padahal yang dilakukannya adalah bermain game. Ketika saatnya untuk mengumpulkan laporan kegiatan pembelajaran dirumah murid tersebut terlupa untuk mengerjakannya.

Permasalah baru pun timbul kembali, guru tidak bisa memberi laporan hasil belajar murid tersebut karena mereka tidak mengumpulkan sesuai waktu yang telah di tetapkan, orang tua dihadapkan dilema ketika sekolah memanggil untuk dating kesekolah atas laporan anak tidak pernah mengumpulkan hasil belajar mereka melalui HP. Padahal orang tua sudah membelikan HP dan juga paket kuota untuk belajar. Pada akhirnya banyak orang tua dan juga murid mengeluh dan mengusulkan ke sekolah untuk diaktifkan lagi kembali pembelajaran di sekolah seperti biasanya.

Kementerian Pendidikan, Kebudayan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan Kementerian Agama (Kemenag) telah meluncurkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUDDikdasmen) di Masa Pandemi Covid-19 secara daring di Jakarta, pada Rabu (2/6).(Kemendikbudristek,2021)

Terbitnya panduan ini disambut antusias oleh para pemangku kepentingan di daerah. Banyak daerah yang menyatakan siap melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, namun dengan penuh kehati-hatian. Panduan yang  diluncurkan dapat menjadi acuan seluruh daerah agar PTM terbatas dapat terselenggara dengan aman dan nyaman bagi seluruh warga sekolah, keluarga, dan masyarakat sekitar.

Sejak awal September 2021 pembelajaran tatap muka terbatas sudah mulai dilaksanakan di SMPN 1 Kandis dengan membagi satu kelas menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama belajar dari jam 8.00 -10.00 dan kelompok kedua 10.15-12.15, dibatasi dengan jadwal 2 kali seminggu sisanya tetap dilakukan dengan daring (pembelajaran jarak jauh).

Untuk pembagian waktu belajar mata pelajaran yang Penulis ampu terjadwal 1 kali tatap muka dalam satu minggu untuk masing masing kelas ( 3 kelas pararel kelas IX) dan sisanya dilakukan secara daring.

Pada awalnya kabar gembira ini disambut dengan rasa gembira oleh guru, murid dan para orang tua murid. Tetapi pada pelaksanaannya terdapat beberapa kelas yang hanya berisikan 50% dari kehadiran murid yang sudah dibagi 2 dari jumlah kelas asalnya. Ternyata karena selama belajar daring(menggunakan HP) beberapa murid menjadi kecanduan bermain game dan malas untuk sekolah.

Nah ini merupakan sebuah tantangan bagi kami untuk mencari solusi bagaimana murid tersebut bisa hadir ke sekolah sesuai dengan harapan terutama bagi penulis yang mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris. Sebagai mana yang kita ketahui mata pelajaran ini merupakan momok bagi beberapa murid.

Sebagai guru Penulis merasa tertantang untuk memotivasi diri Penulis sendiri untuk membuat perubahan terhadap lingkungan sekitar (terutama murid) dan diri Penulis sendiri dengan mau membuka diri terhadap pengalaman yang baru dilalui,selalu dan senantiasa membangun hubungan kerja yang positif terhadap seluruh pemangku kepentingan yang berada di lingkungan sekolah ataupun diluar sekolah, selalu bergerak dengan mengutamakan kepentingan murid dan tak kalah pentingnya senantiasa memunculkan gagasan-gagasan baru dan tepat guna terkait situasi tertentu ataupun pada permasalahan tertentu.

Selama PTM berlangsung proses adaptasi murid tetap diperhatikan demi berlangsungnya proses belajar dan mengajar yang lebih baik. Untuk mengetahui hasil dari pembelajaran murid, Penulis mengadakan Penilaian Harian berupa tes luring. Materi tes yaitu Kompetensi Dasar Pengetahuan 3.3 Membandingkan fungsi Sosial ,sruktur teks,dan unsur-unsur kebahasaan beberapa teks,naratif lisan dan tulis dengan memberi dan meminta informasi terkait fairy tales,pendek dan  sederhana sesuai dengan konteks kegunaannya. Tujuan pembelajaran ini setelah membaca teks narrative murid mampu mendapatkan informasi tertulis dan tersirat.

Hasil yang di dapat dari keseluruhan kelas (IX.2, IX.3, IX.4) beberapa anak belum mencapai batas KKM . Terutama dikelas IX.4 yang berjumlah 26 orang anak, tidak ada satupun anak yang mencapai batas KKM. Tentu saja hal ini membuat Penulis mempunyai pemikiran bahwa kesalahan pasti ada pada diri penulis sendiri karena belum optimal memberikan penjelasan terhadap materi tersebut, apalagi dalam bentuk teks yang memerlukan keterampilan khusus untuk memahami makna yang terdapat didalam teks tersebut.

Menurut Arikunto (2004) ada tiga unsur yang berkaitan langsung dengan Pendidikan atau pembelajaran. “ Tiga unsur utama dalam pembelajaran yaitu siswa yang sedang belajar, guru yang memfasilitasi siswa yang sedang belajar, serta kurikulum (materi) yang menjadi objek belajar”. Hal ini bearti guru juga memainkan peranan penting dalam meningkatkan mutu Pendidikan yang berdampak pada hasil belajar.

Menindak lanjuti permasalahan tersebut Penulis berusaha mencari solusi atau strategi pembelajaran guna mengatasi masalah bagaimana meningkatkan pemahaman murid terhadap narrative text yang ditandai meningkatnya hasil belajar murid tersebut. Setelah melakukan pengamatan Penulis tertarik untuk menggunakan Applikasi Assembler EDU.(https://id.edu.assemblrworld.com/). Assemblr EDU adalah sebuah platform  yang dibuat khusus untuk keperluan dunia Pendidikan dalam bentuk 3D dan AR sehingga membuat kegiatan belajar lebih menyenangkan. Dengan menggunakan Applikasi ini diharapkan murid lebih mudah memahami materi yang diberikan. Berdasarkan permasalahan diatas penulis memilih judul Pembelajaran Narrative Text Menggunakan Applikasi Assemblr Edu di SMPN 1 Kandis.

Beranjak  dari kondisi tersebut menurut  penulis perlu dlakuka langkah-langkah bagaimanakah  pembelajaran pada materi narrative text menggunakan applikasi assemblr edu pada kelas IX.4 di SMPN 1 Kandis? Kemudian apakah aplikasi assemblr ed meu dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kelas IX.4 di SMPN 1 Kandis?

Hal  itu dimaksudkan untuk mendeskripsikan  pembelajaran dengan materi narrative text menggunakan applikasi assemblr edu pada kelas IX.4 SMPN 1  Kandis.Kemudian untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada meteri narrative text teks di kelas IX.4 SMPN 1 Kandis dengan  menggunakan applikasi assemblr edu.

Bagi Guru langkah tersebut bermanfaat utuk memperoleh pengetahuan tentang strategi dan inovasi pembelajaran dalam  rangka meningkatkan hasil belajar siswa. Menjadi wahana guru dapat merefleksi  apa yang telah dilakukannya dalam pembelajaran  sehingga mendapat masukan untuk  melakukan  perbaikan  pembelajaran.  Sedangkan bagi siswa dapat  memperoleh  pembelajaran langsung  yang  lebih bermakna,menyenangkan dan interaktif  sehingga materi   yang  disampaikan akan berkesan dan  mudah dipahami  sehingga  hasil belajar  meningkat  serta  meningkatkan  keaktifan  siswa dalam belajar.

Di sisi lain bagi Peneliti memberikan pengalaman dalam proses pencarian permasalahan untuk  menemukan menemukan  cara pemecahan masalah serta memberikan dorongan dan semangat bagi peneliti lain untuk menemukan sesuatu  yang  berguna bagi dunia pendidikan.

Sedangka Bagi Sekolah memberikan  masukan  kepada sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan  pemenuhan  kebutuhan  sekolah  akan alat peraga edukatif .

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Salah satu pengertian pembelajararan dikemukakan oleh Gagne (1977) yaitu pembelajaran adalah seperangkat peristiwa -peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung beberapa proses belajar yang bersifat internal. Lebih lanjut, Gagne (1985) mengemukakan teorinya lebih lengkap dengan mengatakan bahwa pembelajaran dimaksudkan untuk menghasilkan belajar, situasi eksternal harus dirancang sedemikian rupa untuk mengaktifkan, mendukung, dan mempertahankan proses internal yang terdapat dalam setiap peristiwa belajar.

Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreativitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreativitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.

Narrative Text is a story or a description of a series of events. Narrative Text adalah sebuah cerita atau sebuah deskripsi dari serangkaian kejadian/ peristiwa. Narrative Text pada umumnya memiliki masalah (complication) dan juga penyelesaian (resolution) untuk masalah tersebut. Dalam Narrative Text, masalah tidak hanya terjadi satu kali, namun bisa muncul lebih dari satu kali yang diikuti dengan penyelesaian (resolution). (Cara Mudah Belajar Bahasa Inggris 2021)

Language Features/Ciri-ciri Kebahasaan Narrative text

a.) Penggunaan kata hubung waktu (time connectives) untuk menghubungkan kejadian – kejadian yang saling berkaitan dalam teks naratif.

Contoh: at the following day, long time ago, after that, dan sebagainya.

b.) Penggunaan kata kerja aksi (action verb)

Contoh: go, eat, play, kick, read, dan sebagainya.

c.) Penggunaan kata kerja yang menyatakan perasaan, poemikiran, dan perkataan (verbs to show feelings, thoughts, and speech)

Contoh: feel, think, wonder, imagine, talk, say, dan sebagainya.

d.) Penggunaan Past Tense dan Past Continuous Tense

Contoh:

PastTense

I walked to school alone at that day.

(Saya berjalan ke sekolah sendirian pada hari itu)

Past Continuous Tense

I was walking to school alone in the afternoon when someone stole the woman’s bag.

(Saya sedang berjalan ke sekolah sendirian pada siang hari ketika seseorang mencuri tas milik wanita itu)

e.) Penggunaan sudut pandang orang pertama (I) atau ketiga (she, he)

f.) Terdapat kalimat langsung dalam teks yang ditandai dengan tanda petik (“) di awal dan di akhir kalimat. (Cara Mudah Belajar Bahasa Inggris 2021)

Generic structures/Struktur Narrative Text

Dalam membuat narrative text, penting untuk mengetahui apa saja generic structure-nya. Generic structure suatu narrative text terdiri dari orientation, complication, evaluation, resolution dan re-orientation.

a.Orientation

Di paragraf ini kita mengenalkan inti cerita, tokoh/karakter, tempat, juga waktu dari cerita yang ingin kita tuliskan.

b.Complication

Di bagian ini, kita sudah bisa menuliskan konflik yang ada dalam cerita hingga ke titik klimaksnya. Dalam menulis sebuah konflik juga terdapat 4 hal berbeda, yaitu:

  1. Physical: ditandai adanya konflik antar tokoh secara fisik.
  2. Natural: ditandai adanya konflik antara tokoh dengan hal-hal yang berhubungan dengan kekuatan alam.

3.Social: ditandai dengan adanya pertemuan antar tokoh, namun memiliki kepentingan yang berbeda.

  1. Psychological: ditandai dengan adanya pertentangan di dalam diri sendiri antara memilih hal baik atau buruk, sifat yang sombong atau rendah hati, juga bisa pertentangan sifat yang rakus atau tidak.
  2. Evaluation

Bagian ini bersifat opsional, biasanya berisi sisipan penilaian atau evaluasi  tentang cerita atau konflik yang ada.

 

c.Resolution

Di bagian  ini kita bisa menunjukkan solusi atau penyelesaian dari konflik yang ada. Nah, ending-nya bisa happy atau sad. Namun, penulis bisa mempermainkan bagian ini dengan memberikan masalah lain yang membuat pembaca menjadi penasaran. Biasanya rasa penasaran ini sengaja dimunculkan pada tipe cerita mystery.

d.Re-orientation

Bagian terakhir dari narrative text ini juga opsional, Sobat. Sebagai penulis, kita bisa saja memberikan pesan moral, saran, atau pembelajaran di bagian penutup bagi pembaca yang berasal dari cerita.

Applikasi Assemblr Edu adalah aplikasi yang memungkinkan guru dan murid untuk membuat dan berbagi bahan belajar interaktif menggunakan teknologi Augmented Reality (AR) sehingga  menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan membuat momen momen disekolah terasa lebih bermamfaat. Gambar dan animasi 3D adalah media terbaik untuk menarik perhatian dan memicu kaingintahuan khususnya bagi pelajar pelajar di usia muda. Dengan Assemblr memungkinkan guru membuat konsep konsep yang rumit dan abstrak terasa lebih nyata dengan menghadirkannya di ruang kelas dengan menerangkannya dari setiap sudut. Dengan menggunakan teknologi 3Ddan AR guru dapat menghidupkan materi apapun dan memudahkan siswa menangkap pelajaran dengan lebih cepat(edu@assemblrworld.com:2021).

Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas ini dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan dan refleksi yang mungkin diikuti dengan perencanaan ulang. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan mengembangkan ketrampilan-ketrmpilan baru atau cara pendekatan baru untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung, memiliki dasar pemikiran dan kepantasan dari penelitian, pemahaman terhadap penelitian tersebut, serta situasi atau lembaga tempat penelitian dilaksanakan. Sedangkan lokasi penelitian di   SMP Negeri 1 Kandis beralamat di Dusun II Desa Kandis 1 Kecamatan Kandis  Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan.

SMP Negeri 1 Kandis menerapkan kurikulum 2013. Pada tahun pelajaran 2020-2021, SMPN 1 Kandis terdiri dari 12 rombel. Kelas IX dan kelas VIII  dan kelas VII terdiri dari 4 rombel dan masing-masing kelasnya terdapat maksimal 30-32 siswa.

Tenaga pendidik dan kependidikan yang berada di SMPN 1 Rantau Panjang 50% berstatus pegawai negeri sipil dan kualifikasi s-1 diantaranya s-2, 1% sisanya adalah guru dan pegawai honorer yang berkualifikasi s-1 .

Subjek penelitian pada PTK ini adalah siswa kelas IX.4 tahun pelajaran 2021/2022 terdiri dari 26 orang siswa dengan 13 laki-laki dan 13 perempuan. Umur anak-anak kelas IX.4 adalah kisaran 13 s.d. 14 tahun.

Kelas IX.4 terletak di samping laboratorium komputer sekolah. Posisi kelasnya di sebelah kelas IX.3. Posisi tempat duduk masih tradisional yakni berjajar kebelakang dengan masing-masing siswa memiliki satu kursi dan satu meja, meja guru terdapat di kanan depan dengan 1 papan tulis besar. Ruangan dilengkapi dengan 10 jendela dan 1 pintu dan dilengkapi dengan kipas angin sehingga aliran udara yang cukup baik.

Selama pembelajaran terbatas ini pelajaran Bahasa Inggris adalah setiap hari rabu secara daring parallel untuk seluruh kelas IX.2 s.d. IX.4. Untuk tatap muka terbatas 2  dalam 1 bulan selama 90 menit dengan 45 menit pertama group A untuk 13 siswa dan 45 menit ke-2 untuk group B untuk 13 siswa yang lainnya. Untuk proses penelitian ini, peneliti akan menggunakan jam diluar jam terjadwal mereka datang sekolah, yaitu diwaktu siswa tidak ada jadwal atau belajar di rumah tetapi tetap dilakukan di sekolah selama 30 menit untuk masing-masing group sebanyak 4 x 30 menit untuk mencukupkan 2 siklus.

Penelitian tindakan kelas ini akan diadakan selama 2 siklus, dengan masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan, dan setiap pertemuan adalah 1 x 30 menit. Pada pertemuan ke dua akan diadakan evaluasi untuk melihat perkembangan siswa, analisis dan persiapan siklus berikutnya.

Penelitian  dilakukan selama 1 bulan yaitu awal November adalah persiapan, pada pertengahan November  diadakannya penelitian dengan 2 siklus dan akan selesai pada akhir November..

Adapun yang menjadi sasaran penelitian

Perencanaan dan langkah-langkah dengan cermat diadakan agar penelitian ini dapat berjalan dengan lancar. Prosedur penelitian tindakan kelas ini menggunakan 4 tahap, yakni perencanaan, melakukan tindakan, observasi dan evaluasi. Refleksi pada siklus akan berulang kembali pada siklus berikutnya. Rangkaian dari langkah-langkah dari masing-masing siklus (dikutip dari Konsorsium Sertifikasi Guru. Modul Penelitian Tindakan Kelas. 2013),

 

 

Dalam kegiatan pelaksanaan pembelajaran ini dilaksanakan sesuai dengan Rancangan Rencana Pembembelajaran terbatas yang telah direncanakan. Dalam pelaksanaan penelitian ini yang menjadi guru adalah peneliti dan yang akan melakukan observasi adalah teman sejawat yang bernama ibu Tri Novianty,S.Pd. Dan pelaksanaannya dilakukan diluar jam wajib sekolah di mana siswa kelas IX.4 seharusnya datang hanya 2 hari, sisanya mereka belajar di rumah. Di sini peneliti menggunakan jadwal mereka belajar di rumah untuk datang ke sekolah untuk melakukan penelitian ini. Satu pertemuan dilaksanakan selama 90 menit, 45 menit pertama untuk grup A sebanyak 13 siswa dan 45 menit berikutnya untuk grup B dengan 13 siswa lainnya. Ini dilakukan karena masih masa pembelajaran terbatas karena pandemi korona yang membatasi seluruh kegiatan.

Dari kegiatan itu kemudian dilakukan pengamatan yang meliputi observasi dengan memakai format format uji kinerja tentang ketrampilan proses siswa yang sudah disiapkan untuk mengumpulkan data dengan dibantu oleh observer.                 Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format hasil lembar kerja siswa. Refleksi,pada tahap ini  peneliti dan observer akan mengevaluasi apa yang sudah dilakukan di dalam kelas.   Melakukan evaluasi pelaksanaan yang telah ditentukan, meliputi lembar kegiatan siswa menginterprestasikan data dan mengevaluasi hasil lembar kerja siswa.                Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai dengan hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya.

Dari kegiatan tersebut diperoleh kesimpulan bahwa  pembelajaran  narrative text pada kelas IX.4 dengan menggunakan applikasi assemblr edu tercapai pada penelitian ini ditandai dengan terlampauinya indikator kriteria kinerja yaitu sebanyak 80% siswa memperoleh nilai lebih atau sama dengan 70. Dari hasil penelitian, ada beberapa hal yang dapat penulis sarankan pada guru dan penelitian berikutnya yang akan menggunakan applikasi assemblr edu untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi narrative text yaitu: adanya variasi pembelajaran yang memfokuskan banyaknya aktivitas siswa;    memberikan latihan atau drill soal sehingga bisa menjadi sarana siswa untuk memahami teks menggunakan applikasi assemblr edu. Di sisi lain guru lebih aktif untuk memantau kegiatan siswa per individu maupun kelompok.

(Tulisan diadaftasi dari makalah yang dipresentasikan pada Lomba Penulisan KaryaTulis Ilmiah (KTI) yang diseenggarakan PD Ikatan Guru Indonesia (IGI) Ogan IIir, di Aula SMPN 1 Indralaya OI,Sabtu, 27 November 2021)

Editor : Sarono P Sasmito

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait