Menteri BUMN, Anggota Wantipres, Kepala BPH Migas dan Pertamina Sosialisasikan Pendirian Pertashop di Pesantren

SWARNANEWS.CO.ID, PEKALONGAN | Lontaran ide pengembangan Pertashop di lingkungan pondok pesantren oleh Kepala BPH Migas M. Fanshurullah Asa yang secara konsisten terus menerus diikhtiarkan dalam setiap kesempatan kiranya akan berbuah konkrit. Berbagai pihak memberikan apresiasi dan dukungan, hingga bermuara pasca launching Pertashop di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Qur’an di Desa Surusunda, Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap, beberapa waktu lalu, kini melibatkan pondok pesantren se Jawa Tengah.

Pendirian Pertashop di lingkungan pesantren secara masif bakal segera terwujud setelah BPH Migas bersama Ke
menterian BUMN, PT. Pertamina (Persero) dan Bank Syariah Indonesia menggelar sosialisasi pendirian Pertashop dihadapan 50 pimpinan pondok pesantren se Jawa Tengah bertempat di kediaman Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, Pekalongan, Jawa Tengah (30/04/2021).

Hadir pada kegiatan sosialisasi tersebut Anggota Wantimpres Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, Menteri BUMN
yang sekaligus Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Erick Thohir, Kepala BPH Migas M Fanshurullah Asa, Direktur Utama BSI Hery Gunardi, Sekjen MES Iggi Haruman, Direktur Utama PT Pertamina Retail Iin Febrian, Executive General Manager PT Pertamina (Persero) MOR IV Sylvia Grace Yuvenna, Walikota dan Bupati Pekalongan beserta Satuan Kerja Perangkat Daerah.

Kepala BPH Migas M Fanshurullah Asa pada kesempatan tersebut menyampaikan BPH Migas adalah lembaga yang ditugaskan pemerintah menjamin ketersediaan dan distribusi BBM di seluruh wilayah NKRI. Karena itu BPH Migas mendorong Pertamina dan badan usaha lainnya untuk membangun Mini SPBU di seluruh pesantren-pesantren yang ada di Indonesia yang jumlahnya 30.529 dan juga di desa-desa yang jumlahnya 74.953. Ifan sapaan M. Fanshurullah Asa berharap pendirian Pertashop di Pesantren bisa mendapat dukungan pembiayaan dari Bank Syariah Indonesia sebagai bentuk perwujudan ekonomi kerakyatan. Kehadiran Pertashop di Ponpes selain untuk menjamin ketersediaan dan distribusi BBM juga dimaksudkan untuk pemerataan ekonomi dan peluang usaha sehingga akan membuka lapangan kerja dan pada akhirnya akan memperkuat ketahanan ekonomi umat. Oleh karena itu dirinya berharap kesempatan ini bisa dimanfaatkan agar pendirian Pertashop dilingkungan Pesantren dapat segera terwujud.

“Saat ini, kita ada di tempat yang insya Allah membawa berkah, hadir lengkap mulai dari Anggota Wantimpres, Menteri BUMN, BPH Migas, PT. Pertamina dan juga BSI yang siap mendukung pembiyaan Pertashop untuk Pesantren. Maka sebaiknya ikan sepat, ikan gabus, bukan ikan lele, makin cepat makin bagus dan jangan bertele-tele. Saatnya kebangkitan ekonomi masyarakat dimulai dari lingkungan pesantren,” ujar Ifan. Namun lanjutnya, agar dikaji secara matang, agar jangan sampai rugi. Karena kita ingin, Pertashop memberikan manfaat bagi sebanyak banyak masyarakat.

Executive General Manager PT Pertamina (Persero) MOR IV Sylvia Grace Yuvenna dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pertashop adalah singkatan dari Pertamina Shop. Pertamina memiliki lebih dari 7.000 SPBU namun sebaran belum merata, masih banyak yang belum terjangkau SPBU. Dari total 7.196 kecamatan, 53 % belum memiliki SPBU. Mulai Februari 2020 tahun lalu, Pertamina melakukan MoU dengan Kementerian Dalam Negeri untuk pengembangan Pertashop di wilayah seluruh Indonesia yang masih jauh dari SPBU, dengan harga sama dengan SPBU. Karena itu Pertashop diharapkan menjadi solusi mendekatkan kepada masyarakat. Menurutnya hingga 25 April 2021 sudah ada 1.670 unit Pertashop di Indonesia, tersebar di seluruh provinsi.

Untuk pondok pesantren beberapa minggu lalu diresmikan Habib Luthfi dan Menteri BUMN di Surusunda Cilacap. “Pertashop merupakan peluang bagi masyarakat untuk memiliki Penyalur Mini, SPBU skala kecil , resmi dan investasi kecil. Selain menjual BBM, juga bisa menjual LPG dan pelumas Pertamina,” ujar Sylvia.

Lanjutnya, keuntungan Pertashop ada 6, yaitu kerjasama saling menguntungkan, margin lebih besar dari SPBU biasa , produk berkualitas, bisa menjual produk lain, dan luas areal kisaran 210 m2 relatif kecil, serta adanya jaminan ketersediaan kuota. Berbeda dengan Pertamini yang tidak resmi dan tidak ada jaminan. Persyaratannya jauh lebih ringkas dari SPBU. Jenis Pertashop yang paling diminati adalah gold yang investasi kisaran 250 juta.


Selanjutnya Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Hery Gunardi menyampaikan menyangkut pembiayaan, BSI siap untuk mensupport pendirian 1.000 Pertashop dilingkungan Pesantren yang ditargetkan Menteri BUMN. BSI sebagai bank syariah terbesar di Indinesia tetap mensupport dan menumbuhkan usaha kecil, termasuk untuk pesantren akan membantunya dengan cash manajemen system. “Bantuan pembiayaan diberikan secara bertahap seiring kelayakan, akan tetapi jika lancar maka peluang nilai bantuan akan semakin meningkat,” ujar Hery.

Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) yang juga Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan pentingnya menggerakkan, membangun ekonomi umat di era pandemi. “Pandemi mengajarkan kebersamaan, disaat ekonomi masyarakat terganggu, Pemerintah wajib menggerakkan korporasi untuk menjadi lokomotif keseimbangan ekonomi” ujar Erick Tohir. Erick melanjutkan, termasuk memastikan pesantren menggerakkan ekonomi. Dalam hal ini, dari target 10.000 Pertashop, 1.000 diarahkan untuk digarap oleh pesantren. “Saya apresiasi kolaborasi Pertamina, BSI, BPH Migas dan juga Masyarakat Ekonomi Syariah untuk bahu-membahu dan jadi katalisator untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat”ungkap Erick Thohir

Wantimpres Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya menyampaikan tausiah pasca berbuka puasa, rasa syukur atas kehadiran lengkap yang diundang, sekaligus berpesan bahwa sudah saatnya membuktikan kemandirian pesantren, karena pasti ada cara diluar ketergantungan dari sebagian yang masih menggunakan pola lama, diantaranya pola proposal setiap ada kegiatan. Pertashop memberikan peluang itu, maka wajib untuk didukung. Dengan cara bisnis, berusaha maka ada kemandirian dilingkungan pesantren. “Negara lain sudah maju, kita masih sering berkutat dengan persoalan yang seharusnya sudah lewat, dan saatnya menatap kedepan.
Hidup, tidak kenal masa covid-19 atau tidak. Makam para wali saja walaupun beliau-beliau sudah meninggal, tetapi tempat itu bisa memberi makan bagi yang hidup, masih mempersatukan orang, mengukhuwahkan orang. Karena itu, kita yang masih hidup, harus bisa lebih jauh lagi.” Ungkap Habib Luthfi Bin Yahya

Lanjut Habib Lutfi mengungkapkan termasuk pengembangan Pertashop, kuncinya manajemen harus diatur dengan baik, jangan dicampur dengan yang lain-lain, prioritas tumbuhkan dulu. Prinsip bisnis harus ditaati, jangan dicampur hutang-hutang pribadi disitu, ini kuncinya.

Prinsipnya, saling menguntungkan dan yang saling merugikan tentu dihindari.

Jaman kerajaan, keyakinan berbeda-beda tetapi ekonomi bisa maju saat itu. Inilah yang mesti dicontoh untuk memajukan dunia usaha juga dunia pendidikan. “Yang kita perlukan kombinasi ahli, dokter hafisz Qur’an, ekonom hafisz Qur’an dan lain-lain, itu yang kita perlukan untuk ketahanan nasional, bukan ahli khilafiyah yang membuat terus menerus beradu pendapat yang membuat kita berkutat tak maju-maju, lalu kapan kita mau bekerja, “ujar Habib Luthfi . Acara dilanjutkan dengan sesi photo bersama dengan pimpinan pondok pesantren se Jawa Tengah secara bergantian sebagai bentuk ukhuwah kebersamaan.

Teks: Rel. BPH Migas
Editor:Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait