Meski Pandemi Covid Masih Melanda, Mesin Pencacah Plastik Pulau Semambu Terus Cetak Rupiah

SWARNANEWS.CO.ID, OGAN ILIR | Mesin pencacah plastik itu terus berputar. Selasa (26/1) telah tergiling plastik dengan kapasitas bahan baku lebih kurang 2 ton. Setelah dipilah dan lain berat itu biasanya mengalami penurunan atau penyusutan sekitar 30% untuk jenis untuk gelasan.

Demikian penjelasan Fait Muzamil ST Direktur Bumdes Desa Pulau Semambu Indralaya Utara didampingi Abdul Ghofur dan Lilik Rustiantini istri Fait di sela pengoperasian mesin cacah plastik tersebut.

Lilik menambahkan kalau yang sejenis ember penyusutan sekitar 10%.

Tim Bumdes dan perangkat Desa Pulau Semambu siap kembangkan usaha.

Saat ditanya mengenai proses pengerjaannya, Fait mengemukakan, bahan baku dari pelapak disortir oleh beberapa ibu PKK dan majelis taklim, tepatnya 6 orang, yang tempat tinggalnya di sekitar balaidesa. setelah disortir menjadi 34 jenis bahan berdasar jenis dan warna, mulai diproses.

Selanjutnya dikeringkan melalui mesin pengering dikemas per karung rata rata 12 – 14 kg. Hal itu didasarkan pertimbangan karena proses mesin pengering baru 90% masih perlu diangin anginkan hingga prosentase kadar air yang diinginkan khusus saat musim penghujan.

Tapi manakala musim kemarau cukup pengeringan alami dari matahari.

Untuk pengembangan usaha, ujar Lilik wanita asal Grobogan Jawa Tengah ini target dan acuan ke depan yaitu pembelian mesin press khusus untuk botol air mineral plastik.
Sedangkan ritme kerja tiap bulan. Waktu selama 3 minggu mengumpulkan bahan baku sekaligus sortir hingga terpenuhi kapasitas volume 2 ton. Kemudian dilanjutkan 1 minggu produksi melibatkan 6 orang bapak bapak sekaligus proses pengeringan dan pengemasan.

Lebih kurang 2 ton plastik cacahan yang sudah dikeringkan siap diangkut dan dijual ke pabrik bijih plastik di Palembang.

Pada pengerjaan bulan ini didapatkan hasil plastik cacahan kurang lebih 1,8 ton. Kemudian akan dijual ke pabrik di Palembang dengan harga Rp8.500.

“Bulan ini drop harganya. Sebelumnya mencapai Rp10.000 saat dijual ke pabrik Palembang, ” ujar Fait yang juga guru ngaji ini.

Meski harga jual sejumlah itu pihaknya masih bisa mendapatkan untung dipotong semua biaya dan upah pekerja. Tentu nominal rupiah yang diperoleh juga untuk kas desa.

Baik Fait, Ghofur maupun Lilik mengemukakan kendala alokasi dana dalam 1 tahun ini sudah 4 kali perubahan. karena kebijakan dan penyesuaian pandemi covid 19. Oleh karena itu pihaknya belum dapat mengembangkan usaha termasuk untuk pembelian mesin press khusus gelasan atau botol aqua.

Diharapkan pada tahun anggaran 2021 ini pembelian mesin pres dapat terealisasi. Sehingga jika itu terpenuhi maka nilai tambah produk plastik yang mereka daur ulang akan makin beragam dan hasilnya menambah pendapatan kas desa.

Teks/Foto: Lilik Rustiantini
Editor: Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait