Neli Eponi, SPd: Wanita Tangguh Itu Telah Kembali Kepada-Mu ya Rabb

 

SWARNANEWS.CO.ID, INDRALAYA  Semua yang hidup dan bernyawa pasti akan mati. Firman Allah yang tertera dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya 34-35 tersebut telah berlaku atas istriku, Neli Eponi, SPd (47 tahun) hamba-Mu ya Allah yang telah menghembuskan nafas terakhir dan kembali keharibaan Illahi Rabbi, Ahad, 23 Januari 2022 pukul 15.00 WIB di RSMH Palembang.

Wanita Tangguh itu telah kembali keharibaan Allah dalam senyum dan wajah teduh. Meski tak kasat mata, mata batinku dan anak-anak merasakan para malaikat menyambut ruhnya  pulang keharibaan Allah SWT dengan husnul khotimah. Tergambar keridhoan Allah menyambutnya moga para malaikat menyambut ruh suci wanita solehah itu saat memasuki alam barzakh.

Ketangguhan itu dia buktikan dalam kurun waktu kurang lebih delapan bulan ini almarhumah terus berjuang melawan penyakit radang usus yang dideritanya tanpa keluh kesah. Keluar masuk rumah sakit baik RS Ar Royyan  di Inderalaya maupun  RSMH dan RS Hermina di Palembang nyaris tak terhitung lagi jumlahnya.

 

Almarhumah Neli Eponi, SPd saat bertugas sebagai Anggota KPU Kabupaten Ogan Ilir 2013-2018

Wanita kelahiran Benawa Kecamatan Teluk Gelam Kabupaten Ogan Komering Ilir Sumsel, 8 Agustus 1974 putri ketiga dari H Asminuddin dan Hj Solhawati ini dikenal luas oleh para sahabatnya sebagai sosok wanita baik yang tangguh.

Baik para sejawatnya yang menempuh pendidikan di sekolah dasar di Desa Benawa, SMPN di Pulau Gemantung Kecamatan Tanjung Lubuk, SMA YPBI Palembang hingga Prodi Pendidikan Biologi FKIP Unsri angkatan tahun 1994. Maupun saat mengemban tugas sebagai anggota KPU Kabupaten Ogan Ilir periode 2013-2018. Demikian juga di kalangan ustadz Ustadzah dan para santri Ponpes Al-Ittifaqiah saat almarhum mengabdikan diri di lembaga pendidikan Islam tersebut baik sebelum maupun sesudah bertugas sebagai komisioner KPU OI.

“Almarhumah sangat cinta profesinya. Meski kondisi badannya belum benar-benar sehat masih selalu hadir untuk mengajar para santri,” ujar Umi Rosidah alhafizah saat menjenguk almarhumah ketika pulang dari rumah sakit usai menjalani perawatan.

Apa yang diutarakan oleh Umi Rosidah tersebut benar-benar saya dengar sendiri sebagai suaminya.

“Kak, meski kondisi badan begini akan terus berangkat mengajar ke pondok Kak. Bertemu santri memberikan ilmu menjadi hiburan tersendiri bagiku,” ujarnya suatu ketika ketika aku memintanya untuk istirahat mengajar di pondok saat kondisinya belum pulih benar.

 

 

Agar dia selalu nyaman saat pulang pergi ke pondok aku tak pernah mengizinkannya lagi mengendarai sepeda motor scoopy yang menjadi kegemarannya. Untuk itu aku luangkan waktu untuk antar jemput almarhum saat mengajar di pondok dan tak jarang menunggu di lokasi mengajarnya hingga selesai.

Kami menikah, 30 Juni 1996 di Desa Benawa. Akad nikah yang sakral itu berlangsung di Masjid Istianah dengan khidmat. Resmi menjadi suami istri kami memulai menjalani kehidupan dengan penuh perjuangan. Sebab saat itu sebagai suami aku usai tamat pendidikan di FKIP Unsri sedangkan almarhum baru semester 3 di prodi yang sama. Perkuliahan terus dia jalani dengan penuh semangat. Kos di Perumahan Bakti Guna Indralaya pulang pergi ke kampus Unsri tak jarang dia jalani dengan mengendarai sepeda. Setahun setelah itu putri pertama kami Hidayati Fadhilah lahir. Kehadirannya menjadikannya terus bersemangat untuk terus belajar menyelesaikan pendidikan meski beban makin berat. Harus membagi waktu mengasuh membesarkan anak dan menyelesaikan SKS untuk bisa sampai tamat. Alhamdulillah kurun lima tahun pendidikan untuk meraih gelar sarjana S1 itu dapat dia lalui dengan baik.

 

 

Usai pendidikan itu kemudian ibu dari Hidayati Fadhilah, S. Tr.Keb (23), Muhammad Harits, S.H (20) dan Ahmad Najih Ainan (FH UI) ini memulai pengabdian di Ponpes Al-Ittifaqiah tahun 2001. Di sela kesibukan mengajar tersebut ketika suami mendapatkan amanah menjadi anggota Panwaslu Kabupaten OI 2008-2010 yang bersangkutan ternyata berminat juga untuk terjun dalam mengawasi dinamika politik dengan menjadi Panitia Pengawas Lapangan (PPL) person pengawasan pemilu di tingkat desa almarhumah bertugas mengawasi kegiatan Pemilu di Desa Permata Baru Kecamatan Indralaya Utara Ogan Ilir 2008. Tak lama berselang ketika ada rekrutmen Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) yang bersangkutan lulus dan menjadi Panwascam Kecamatan Indralaya Utara. Semua tugas dan tanggung jawab itu ditunaikannya dengan baik.

Berbekal pengalaman, penguasaan regulasi tentang kepemiluan dan lain-lain. Saat ada seleksi untuk menjadi anggota KPU Kabupaten OI periode 2013-2018 dia pun ikut tes dan alhamdulillah berhasil lulus. Usai dilantik di Hotel Peninsula Palembang tahun 2013 mulailah almarhum memulai tugas sebagai anggota KPU di bawah ketua An-Nahrir dengan anggota Dra. Masyuryati, Amrah Muslimin, SE, Msi dan Amrah Muslimin, ST.

“Neli orangnya baik dan fair. Kami biasa berdebat untuk hal-hal tertentu untuk mencari yang terbaik dalam pelaksanaan tugas. Tapi usai itu tak ada dendam dan tetap penuh kekeluargaan,” ujar Ketua KPU OI Dra Masyuryati mengenang saat kebersamaannya dengan almarhum.

Amrah Muslimin, SE Msi yang saat ini menjadi Ketua KPU Provinsi Sumsel dan hadir juga saat takziah pemakaman juga berujar, “almarhum baik suka humor, pandai bergaul dengan sejawat di kantor. Cepat adaftasi dan suka belajar untuk memahami berbagai hal tentang Pemilu.”

 

Almarhumah juga dikenal sangat dekat dengan teman-teman anak-anak. Baik teman Hidayati Fadhillah, Muhammad Harits maupun teman Ahmad Najih Ainain.

“Tante orangnya baik. Care dengan teman-teman Haris,” ujar Syavira Ramadhanti yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum Unsri.

Hal yang sama juga diakui oleh Widad Muntazhor. Demikian juga pengakuan Rizky teman sejawat Ahmad Najih Ainain saat sama-sama menjadi santri di Ponpes Al-Ittifaqiah.

Kini wanita tangguh itu telah kembali. Lantunan doa-doa para santri yang membahana setiap usai solat-solat wajib mereka terus terngiang di telinga kami. Air mata kami suami dan anak-anaknya tak bisa terbendung lagi ketika perjuangan kami lebih kurang delapan bulan untuk tetap menyehatkan ibunya tak berhasil. Tapi kami semua ikhlas atas ketentuan Allah itu. Dia pulang keharibaan Allah dengan senyum, mata teduh dan pipi kemerahan. Diriku tak bisa menahan tangis saat menyambut dan mengazankannya di liang lahat TPU Permata Baru.

“Jadilah manusia yang baik. Ketika menunaikan sesuatu jangan setengah-setengah,” ujar almarhumah semasa hidup saat menasehati suami dan anak-anaknya.

Itu yang membekas di Hidayati Fadhilllah S.Tr.Keb yang saat ini bertugas sebagai Bidan desa di Desa Tebedak I Kecamatan Payaraman OI. Begitu juga bagi M Harits SH yang baru saja menamatkan pendidikan di FH Unsri. Lebih mendalam lagi bagi Ahmad Najih Ainain yang saat ini masih menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI).

Ada rasa syukur dan lega saat mereka menunjukkan rasa bakti dan kasih sayang kepada ibu hingga menjelang napas terakhir. Tuntun kami ya Allah untuk terus mewujudkan harapan almarhumah untuk menjadi hamba yang bertaqwa. Aamiin.

 

Foto: Dok Keluarga

Teks/Editor: Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait