PD IWO Samosir Berkunjung ke IWO Banyuasin, Takjub Melihat Rumah Bari

SWARNANEWS.CO.ID, BANYUASIN | Mempererat tali silaturahmi merapatkan persaudaraan.
Ketua PD IWO Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara berkunjung ke PD IWO Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan pada, Kamis (1/4/2021).

Dalam kunjungannya Ketua PD IWO Samosir Fernando Sitanggang SH.,MH didampingi Wakil ketua Ranto Limbong, diperkenalkan budaya dan kearifan lokal bumi sedulang setung yang memiliki beragam budaya, adat istiadat dan benda peninggalan sejarah yang harus dilestarikan. Supaya generasi muda mengetahui dan memahami seni dan budaya asli Bumi Sedulang Setudung.

Dari sekian banyak seni dan budaya yang masih tersimpan salah satunya adalah rumah adat Marga Pangkalan Balai (Rumah Bari), yang terletak di Jalan Rioseli, Kelurahan Pangkalan Balai, Kecamatan Banyuasin III. Rumah ini merupakan peninggalan Depati Abdul Madjid yang dibangun pada tahun 1901.

Guna mengetahui lebih detil cerita Rumah Bari, ketua PD IWO Banyuasin yang akrab dipanggil Irawan (Deni Ganevo), langsung menjumpai bapak Hazairin Zabidi. Keturunan ke-20 dari Depati Abdul Madjid.

Setibanya di sana Bapak Hazairin Zabidi menceritakan kondisi rumah bari. Bahwa pada tahun 2006 lalu di awal pemerintahan Bupati Amiruddin Inoed, Pemkab Banyuasin pernah menjanjikan rumah yang telah berusia 113 tahun ini ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya. Bahkan, pada tahun 2008 lalu sudah dibuat rencana anggaran biaya (RAB) untuk memperbaikinya. Namun, hingga saat ini janji itu tak kunjung terealisasi.

“Kami sangat berharap Pemerintah Banyuasin dapat membantu menjaga dan melestarikan rumah adat Marga di Banyuasin, termasuk rumah ini dengan menetapkannya sebagai cagar budaya. Jika tidak, kami khawatir kondisinya akan rusak seperti rumah adat lainnya seperti milik Marga Suak Tapeh, Marga Supat (Sungai Lilin) dan Marga Muara Telang,” papar anak ketiga dari Pesirah Zabidi Madjid.

Lanjut mantan Kades Pangkalan Balai periode 1984-1993 ini, rumah adat Marga Pangkalan Balai itu memiliki seluas 16×40 meter, terdiri dari lima kamar itu menyimpan sejumlah koleksi bersejarah. Mulai dari keris, tombak, guci, lemari, brangkas besi dan lainnya, yang berusia ratusan tahun. Pada zaman pemerintahan Depati Abduil Madjid, rumah itu juga digunakan sebagai kantor, tempat pertemuan adat dan musyawarah.

Tambahnya pula, sejumlah pejabat tinggi pernah menginap di sana, mulai dari Wakil Presiden RI Adam Malik, Bupati Muba Arifin Jalil, Amir Hamzah, Sulistiono, maupun Gubernur Sumsel Sainan Sagiman dan Ramli Hasan Basri. Bukan hanya pejabat, bentuknya yang unik dan bersejarah mengundang sejumlah wisatawan dari berbagai daerah datang dan melihat langsung rumah tersebut dengan berbagai koleksinya.

“Ya, sejak dibangun tahun 1901, rumah belum pernah dirombak dan tetap mempertahankan bentuk asli sesuai permintaan dari Depati Abdul Madjid. Kalaupun ada, itu hanya renovasi kecil yakni mengganti bagian lantai yang rusak karena termakan usia dan atap bagian depan pada tahun 1992 lalu. Selebihnya bangunan lama,” jelas mantan Ketua Dewan Kesenian, Kabupaten Banyuasin.

Pihaknya sudah beberapa kali mengusulkan agar rumah beserta isinya ditetapkan sebagai benda cagar budaya sehingga dapat menerima dana untuk perawatan. Menurutnya, dibutuhkan banyak biaya untuk menjaga dan mengurus barang-barang peninggalan sejarah di sana. timpal pria yang juga masih menjabat ketua KONI Banyuasin ini.

Sementara itu, Fernando Sitanggang mengucapkan terimahkasih sudah disambut baik di banyuasin, dirinya mengaku prihatin semoga kedepan rumah bari ini mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat.

“Kami mengucapkan terimakasih semoga atas sambutanya, harapan kami kedepan rumah bari ini mendapat perhatian sehingga bisa tetap berdiri kokoh,” tutup Fernando Sitanggang. Sekaligus meminta izin hasil record video wawancara agar berkenan ditayangkan di media miliknya dan YouTube greenberita TV.

Pada kesepatan itu, Deni Ganevo meminta maaf jika dalam penyambutan banyak kekurangan dan ada hilaf kata, mengutip kata orang bijak. “Kita mungkin kita tidak sedarah, mungkin kita tidak sesusuku dan mungkin kita tidak seiman tetapi kita bersaudara satu organisasi. Hati – hati di jalan doa kami menyertai selamat sampai tujuan,” tutup Deni Ganevo melepas keberangkatan Tim PD IWO Samosir.(*)

Teks : Nasir
Editor : Maya

!-- Composite Start -->

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait