Penggunaan Media dalam Pembelajaran Bruto, Netto dan Tara di Masa Pandemi Covid 19

oleh: Rakhmawati, S.Pd

Guru SMPN 1 Pemulutan Barat Ogan Ilir Sumatera Selatan

SWARNANEWS.CO.ID Sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional yang tercantum dalam Keputusan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 719/P/2020 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Pada Satuan Pendidikan Dalam Kondisi Khusus, ”Pembelajaran dalam Kondisi Khusus tetap dilaksanakan berdasarkan prinsip aktif yaitu pembelajaran mendorong keterlibatan penuh Peserta Didik dalam perkembangan belajarnya, mempelajari bagaimana dirinya dapat belajar, merefleksikan pengalaman belajarnya, dan menanamkan pola pikir bertumbuh”. Untuk menerapkan apa yang tertulis dalam Keputusan Menteri itu, guru harus dapat memotivasi siswa agar dapat berperan aktif dalam pembelajaran di masa pandemi Covid-19 ini, dimana pembelajaran dilaksanakan secara Daring (Pembelajaran dalam Jaringan). Salah satu cara memotivasi dan menarik minat siswa dalam pembelajaran yaitu penggunaan media sebagai alat bantu.

Media sangat berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk untuk peningkatan kualitas pendidikan Matematika. Matematika merupakan suatu disiplin ilmu yang mempunyai kekhususan dibanding dengan disiplin ilmu lainnya yang harus memperhatikan hakikat matematika dan kemampuan siswa dalam belajar. Tanpa memperhatikan faktor tersebut tujuan kegiatan belajar tidak akan berhasil. Seorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan dalam diri orang itu terjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku (Sundayana, 2013:29). Dengan menggunakan media, konsep dan simbol Matematika yang tadinya bersifat abstrak menjadi konkret.

Penggunaan media pembelajaran dalam membantu pengajar untuk menyampaikan materi sangat penting, karena dengan bantuan media yang menarik, siswa akan lebih mudah memahami materi pelajaran, hal ini akan berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa. Media sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar dipilih atas dasar tujuan dan bahan pelajaran yang telah ditetapkan. Oleh karena itu guru sebagai subyek pembelajaran harus dapat memilih media dan sumber belajar yang tepat, sehingga bahan pelajaran yang disampaikan dapat diterima siswa dengan baik.

Penggunaan media pembelajaran dalam matematika dapat kita terapkan pada materi Aritmatika Sosial tentang Bruto, Netto dan Tara. Pada Kurikulum 2013, materi ini dipelajari pada kelas VII SMP semester 2. Bruto, Netto dan Tara sebagai salah satu materi dalam mata pelajaran matematika sangat penting untuk diajarkan pada siswa karena materi ini sangat terkait dengan kehidupan sehari-hari. Penggunaan media pembelajaran pada materi ini juga penting karena dapat membantu siswa dalam memahami Bruto, Netto dan Tara. Mengingat pentingnya materi ini, oleh karena itu penulis tertarik untuk menulis tentang “Penggunaan Media dalam Pembelajaran Bruto, Netto dan Tara di Masa Pandemi Covid-19”.

Didasarkan pada pemikiran tersebut maka diperlukan langkah-langkah bagaimana Penggunaan Media dalam Pembelajaran Bruto, Netto dan Tara di Masa Pandemi Covid-19?”

Penulisan artikel yang juga berupa Best Practice ini mempunyai tujuan untuk mengetahui bagaimana Penggunaan Media dalam Pembelajaran Bruto, Netto dan Tara di Masa Pandemi Covid-19”.

Tulisan ini diharapkan bermanfaat sebagai  Best Practice bagi siswa, dapat mengembangkan kreativitas siswa terutama pada pelajaran matematika. Sedangkan bagi guru, dapat mengembangkan media pembelajaran. Di sis lain bagi sekolah, dapat menjadi masukan guna menunjang proses pembelajaran matematika dalam rangka peningkatkan kualitas pendidikan.

Kata Media Pembelajaran, kata media  berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata Medium yang secara harpiah berarti perantara atau penyalur (Sundayana, 2013:4). Media pembelajaran adalah suatu alat atau sejenisnya yang dapat dipergunakan sebagai pembawa pesan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Pesan yang dimaksud adalah materi pelajaran, dimana keberadaan media tersebut dimaksudkan agar pesan dapat lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh siswa.

Sedangkan  Fungsi Media dalam Proses Pembelajaran terdapat enam fungsi pokok media pembelajaran dalam poses belajar mengajar menurut Sudjana dan Rivai (1998) yaitu:            Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif. Media pengajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar. Ini merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan oleh seorang guru..         Dalam pemakaian media pengajaran harus melihat tujuan dan bahan pelajaran..     Media pengajaran bukan sebagai alat hiburan, akan tetapi alat ini dijadikan untuk melengkapi proses belajar mengajar supaya lebih menarik perhatian peserta didik.         Diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar serta dapat membantu siswa dalam menangkap pengertian yang disampaikan oleh guru.   Di samping itu penggunaan alat ini diutamakan untuk meningkatkan mutu belajar mengajar.

Berbagai Jenis Media Pembelajaran,       Menurut Sanjaya (2006) dilihat dari sifatnya, media dapat dibagi 2 yaitu:                Media auditif adalah media yang hanya dapat didengar saja, atau media yang hanya memiliki unsur suara, seperti radio dan rekaman suara dan     Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat saja, tetapi tidak mengandung unsur suara. Jenis media yang tergolong ke dalam media visual yaitu film slide, foto, transparansi, lukisan, gambar dan berbagai bentuk bahan yang dicetak sperti media grafis dan lain sebagainya.

 

Kriteria utama dalam pemilihan media pembelajaran adalah ketepatan tujuan pembelajaran, artinya dalam menentukan media yang akan digunakan pertimbangannya bahwa media tersebut harus dapat memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan yang diinginkan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan media pembelajaran ini, diantaranya:

  1. Dukungan terhadap isi bahan pelajaran, artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi, sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami peserta didik.
  2. Kemudahan dalam memperoleh media yang akan digunakan, artinya media yang diperlukan mudah diperoleh. Media grafis umumnya mudah diperoleh bahkan dibuat sendiri oleh guru.
  3. Keterampilan guru dalam menggunakannya. Apapun jenis media yang diperlukan, syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam proses pembelajaran.
  4. Tersedia waktu untuk menggunakannya, sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pembelajaran berlangsung.
  5. Sesuai dengan taraf berpikir siswa, sehingga makna yang terkandung di dalamnya mudah dipahami oleh siswa.

 

Bruto, Netto dan Tara

Bruto diartikan sebagai berat dari suatu benda bersama pembungkusnya. Bruto juga dikenal dengan istilah berat kotor. Netto adalah berat dari suatu benda tanpa pembungkusnya. Netto juga dikenal dengan istilah berat bersih. Sedangkan Tara diartikan sebagai selisih antara bruto dan netto  (Kemendikbud, 2017).

Hubungan antara bruto, netto dan tara adalah

  1. Bruto = Netto + Tara
  2. Netto = Bruto – Tara
  3. Tara = Bruto – Netto

Contoh:

Sebuah karung gabah bertuliskan Bruto = 73 kg dan netto = 71,5 kg. Berapakah taranya?

Penyelesaian:

Tara = Bruto – Netto = 73 kg –71,5 kg =1,5 kg

Salah satu indikator keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah terjadinya perubahan positif dari diri peserta didik. Perubahan tersebut mencakup perubahan aspek  pengetahuannya (kognitif), dan aspek keterampilannya (psikomotorik). Untuk dapat menguasai aspek tersebut diperlukan upaya mengatasi masalah yang ada dalam proses pembelajaran tersebut. Jika tidak diatasi maka permasalahan itu selanjutnya menjadi penghambat dalam keberhasilan proses pembelajaran.

Pada proses pembelajaran matematika di kelas 7 SMPN 1 Pemulutan Barat yang selama ini berlangsung ditemukan permasalahan dimana pembelajaran selalu berpusat kepada guru baik dalam pembelajaran secara daring maupun luring. Siswa hanya menyimak materi yang disampaikan oleh guru. Hal ini menyebabkan kurangnya kreatifitas siswa dalam melakukan pembelajaran matematika. Oleh karena itu dalam pembelajaran secara daring, Guru mengajak siswa kelas 7 terutama kelas 7b, 7c dan 7d untuk mengenal Bruto, Netto dan Tara dengan praktek langsung di rumah. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 3 Maret 2021 dengan siswa kelas 7b sebanyak 28 orang, kelas 7c sebanyak 30 orang dan siswa kelas 7d sebanyak 29 orang. Hal ini disampaikan Guru melalui media online yaitu Whatsapp.

Pada awal kegiatan Guru meminta siswa untuk menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan untuk praktek di rumah berupa 3 jenis makanan ringan, gunting, kertas, isolasi, dan timbangan. Guru memberi waktu selama 3 hari untuk melaksanakan kegiatan ini karena untuk mengumpulkan alat-alat dan bahan-bahan yang diperlukan oleh siswa.

Setelah alat-alat dan bahan-bahan terkumpul, Guru meminta siswa mengamati kemasan 3 jenis makanan ringan itu. Tulisan apa saja yang terdapat pada kemasan tersebut. Setelah mereka mengamati dan menemukan tulisan bruto (berat kotor) atau netto (berat bersih) maka siswa diminta mencatat angka yang tertera pada kemasan tersebut.

Guru meminta siswa menimbang 3 jenis makanan tersebut dan mengecek apakah beratnya sesuai seperti yang tertera pada kemasan kemudian mencatatnya.

Kemudian siswa diminta membuka kemasan 3 jenis makanan tersebut dan menempelkan pembungkusnya pada kertas yang sudah disediakan. Mereka menimbang isi dari kemasan tersebut dan mengecek apakah beratnya sesuai seperti yang tertera pada kemasan.

Setelah itu, siswa diminta menghitung selisih berat makanan itu antara berat sebelum dan sesudah kemasannya dibuka dan mencatatnya (tara).

Setelah melakukan kegiatan semua itu, guru menyampaikan kepada siswa bahwa yang mereka lakukan itu adalah untuk memahami Bruto, Netto dan Tara.

Hasil Kegiatan Pembelajaran Memahami Bruto, Netto dan Tara.

Hasil yang dicapai pada kegiatan ini dapat diuraikan sebagai berikut:

Proses pembelajaran secara daring mengenal Bruto, Netto dan Tara berlangsung aktif dan menyenangkan terutama pada saat kegiatan penimbangan makanan ringan tersebut. Dalam pembelajaran daring, siswa juga menjadi lebih aktif merespon pertanyaan dari guru, termasuk mengajukan pertanyaan pada guru. Pada pembelajaran ini juga meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis. Hal ini dapat dilihat dari tingkat partisipasi siswa untuk bertanya dan menanggapi topik yang dibahas dalam pembelajaran. Bahkan siswa yang selama ini cenderung pendiam dan hanya menyimak apa yang disampaikan guru, ikut berperan aktif dalam kegiatan ini.

Pembelajaran ini meningkatkan kemampuan siswa dalam melakukan transfer knowledge. Setelah melakukan praktik, siswa dapat memahami apa itu Bruto, Netto dan Tara.

Masalah yang dihadapi pada pembelajaran ini yaitu:

Pada alat yang digunakan berupa timbangan, karena tidak semua siswa memilikinya.      Keakuratan berat barang yang ditimbang dengan timbangan biasa tidak seakurat dengan timbangan digital, terutama untuk makanan ringan yang dipakai pada praktek ini.              Ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan mengitung selisih antara Bruto dan Netto.

Untuk itu cara mengatasinya:.    Pada masalah timbangan, Siswa diminta meminjam timbangan pada tetangga atau kerabat siswa yang memiliki timbangan.                Jika berat barang tidak tepat pada garis yang ada pada timbangan, siswa diminta memperkirakan berapa berat barang tersebut. Untuk siswa yang menemui kesulitan mengitung selisih antara Bruto, Neto dan Tara maka Guru meminta siswa yang bisa untuk membantu mengatasi kesulitan tersebut secara daring.

Berdasarkan pada uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa siswa dapat memahami Bruto, Netto dan Tara dengan cara praktek di rumah masing-masing dengan menggunakan media pembelajaran berupa timbangan. Pembelajaran ini dapat meningkatkan keaktifan siswa dan kemampuan siswa dalam melakukan transfer pengetahuan dan berpikir kritis.

Berdasarkan hasil pembelajaran ini dapat disarankan Guru seharusnya tidak hanya mengajar dengan mengacu pada buku siswa dan buku guru, tetapi berani melakukan inovasi pembelajaran yang kontekstual sesuai dengan latar belakang siswa dan situasi dan kondisi sekolahnya. Hal ini akan membuat pembelajaran lebih bermakna. Di pihak siswa diharapkan mampu menerapkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam belajar, tidak terbatas pada hafalan teori. Kemampuan belajar dengan cara ini akan membantu siswa menguasai materi secara lebih mendalam dan lebih tahan lama (tidak mudah lupa).

(Naskah ini telah  dipresentasikan pada Lomba Penulisan Karya Tulis Ilmiah yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Ikatan Guru Indonesia (IGI ) Kabupaten Ogan Ilir  Sabtu (27/11/2021) dan menjadi Juara II)

Editor: Sarono P Sasmito

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait