Persoalan Sampah Makin Menggunung

Pasukan Kuning Minta Naik Gaji

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG | Deretan persoalan sampah di kota ini masih belum usai. Tidak hanya tingkat kesadaran masyarakat terhadap kebersihan masih tergolong rendah. Khususnya di wilayah pinggiran kota, pemandangan gundukan sampah yang tidak pada tempatnya hal yang biasa. Belum lagi ditambah persoalan  pasukan kuning yang minta kenaikan gaji lantaran beratnya pekerjaan sampah yang harus dijalani.

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA).

Penuturan ini disampaikan langsung Een (panggilan-red) merupakan petugas sopir truk pengangkut sampah kebersihan kota Palembang. Saat ini gaji pasukan kuning Rp. 70.000 per hari. Dengan sistem kerja 24 jam saat dibutuhkan harus turun karena intensitas tumpukan sampah  yang tidak ada henti hentinya. Menurutnya sudah waktunya dinaikkan menjadi Rp. 80.000 atau Rp. 90.000 per hari, sehingga sebanding dengan tuntutan kerja.

Dalam sehari bisa sampai 6 x angkut bolak balik untuk rute pendek, untuk rute panjang bisa 4,5 kali sehari.

“Jam kerja mulai subuh sampai malam. Bahkan kadang jam 2 malam kita sudah keluar khususnya rute jalan jalan utama,” jelasnya.

Selain gaji hanya Rp. 70.000 per hari, Een mengaku tidak ada fasilitas lainnya dalam bentuk apapun, termasuk kartu jaminan kesehatan.

Ia berharap dengan pilkada ini ada solusi dan kabar gembira dari pemimpin baru.

Terpisah Perwakilan Kantor TPA Sukawinatan Sukabangun Bagian Penimbangan  Wawan, truk sampah menjelaskan, pengelolaan sampah sejauh ini belum maksimal. Hanya sebatas diangkut dari wilayah utama warga dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Nah, sampai di TPA juga hanya digundukkan saja.

Pola ini sudah berjalan sejak tahun 80 an. Artinya sudah 35 tahun lebih sistem persampahan di kota ini seperti itu.

Disinggung soal Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) yang pernah dibangun oleh pihak swasta dari Jepang tahun 2007 lalu. Wawan menyahut, kalau PLTSA lama buatan Jepang tersebut nganggur dan tidak bisa difungsikan lagi. “Baru sebatas uji coba saja waktu itu, dan sudah keluar listriknya dari pengolahan sampah. Namun tidak efektif dan masih sulit mengeluarkan gas sampah untuk dijadikan listrik sehingga aliran listrik yang dihasilkan belum maksimal dan akhirnya mesin itu tidak terpakai sekarang,” bebernya.

Alhamdulillah, tahun 2017 ada pihak swasta yang membangun PLTSA lagi letaknya lebih dekat dengan gundukan sampah dibandinkan PLTSA sebelumnya. Itupun sampai sekarng listriknya masih uji coba terus.

Upaya lain yang sudah dilakukan pemda apalagi? lagi lagi ia mengaku tidak tahu, selain upaya tersebut.

Melihat kondisi sampah terus membukit hingga menggunung ini masyarakat sekitar juga tidak ada upaya lebih kreatif, selain hanya memulung sampah yang layak jual lagi dan memanfaatkanya untuk pakan ternak sapi.

“Ada sekitar 50 ekor sapi yang hidup di antara perbukitan dan gunungan sampah dengan memakan sampah bekas setiap hari. Dari fisik sapi sapi tersebut memang tampak gemuk, tapi dari sisi kesehatan saya juga masih ragu, terkontaminasi apa tidak ya kesehatan sapi itu lantaran makan sampah bekas sayur dll yang bisa dimakan. Kan sapi sehat makan rumput, kalau makan sampah bagaimana kualitasnya. Ini juga harusnya diperhatikan dari Dinas Peternakan agar aman dan dijadikan lahan manfaat jika memang bagus,”terangnya.

Pantauan SWARNA NEWS di lapangan, setidaknya ada 700 rit sampai 800 rit per hari sampah yang diangkut ke TPA Sukawinatan ini. Bisa dibayangkan jika 1 rit nya berisi 4 ton, artinya bisa sampai 32.000 ton sampah per hari. Musim hujan intensitas sampah bisa naik sampai 30 persenan.

Titik terbanyak sampah kota Palembang di daerah IT I  arah Bukit Musi 2 dan wilayah IB I. Meski bukan kawasan industri tapi kawasan padat penduduk dan olahan pasar.

Dibincangi soal kebutuhan TPA saat ini masih butuh sekitar 5 unit mobil truk lagi dari total yang ada 105 unit.

Menyikapi kondisi di lapangan seperti daerah Kramasan Kertapati yang banyak kantong plastik berserakan di jalan utama. Lagi Een menggambarkan bahwa kesadaran masyarakat untuk menaruh sampah pada kotak sampah yang disediakan memang masih sangat rendah, sehingga kondisi di Kertapati tersebut tidak tuntas tuntas. Padahak per 4 sampai 4 jam sampah selalu diangkut lagi. Dalam satu wilayah bisa 2,3 kali diangkut dalam sehari.

Ini PR memperbaiki budaya kesadaran masyarakat Palembang agar tugas kedepan mengatasi sampah tidak makin ruwet.

Ia berharap ada pihak ketiga bisa mengelola sampah semaksimal mungkin agar bermanfaat dan tidak merusak lingkungan. (*)

Teks/Editor  : Asih

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait