Profesor Kehormatan

Oleh Destika Cahyana
Kolumnis di Berbagai Media Nasional
SWARNANEWS.CO.ID |Suatu hari pada Juli 2001, saya sedang berjalan melintas di depan Laboratorium Kimia dan Laboratorium Fisika Tanah yang bersebelahan di sebuah kampus di Sumatera.
Sayup-sayup terdengar suara–entah dari radio siapa–tentang lengsernya KH. Abdurrahman Wahid yang kemudian digantikan Megawati. Ketika itu memang masyarakat kampus sangat perhatian dengan isue perpolitikan nasional meskipun media sosial belum ada. Informasi masih berasal dari televisi, radio, dan surat kabar.
Saya kaget bukan kepalang. Sedih karena KH. Abdurrahman Wahid, sang pembela kaum minoritas yang terpinggirkan–secara ekonomi, kultural, gender, etnis, bahkan agama–dijatuhkan oleh sekelompok orang. Tragisnya Gus Dur, sapaan Abdurrahman Wahid, dilengserkan oleh kelompok yang dulu mengusungnya.
Saya termasuk yang meremehkan penggantinya: Megawati. Ketika itu bagi saya, Megawati hanya perempuan yang ketiban pulang tanpa kompetensi kepemimpinan. Setiba di rumah kost, saya bertaruh dengan seorang teman bahwa Megawati juga akan dilengserkan. Teman saya sebaliknya menyatakan bahwa Megawati akan mampu menyelesaikan masa jabatannya.
Sejarah membuktikan. Saya kalah taruhan. Megawati mampu menyelesaikan masa jabatannya walau tak terpilih kembali. Mega kalah oleh mantan anak buahnya SBY.
Namun, di partainya pengaruh Megawati ternyata tetap kuat bahkan bertambah hebat meskipun tak lagi menjadi presiden. Ia memimpin oposisi dengan kokoh dibantu suaminya. Saya geleng-geleng kepala dengan kemampuannya. Megawati bahkan mampu menyelesaikan konflik internal partai dengan baik di partai yang terkenal sangar itu.
Saya masih ingat betapa gemetarnya saya (seorang anak muda laki-laki) di era 99-an sampai 2005-an bila berpapasan dengan rombongan kampanye partai yang dipimpin Megawati itu. Mereka sangar-sangar. Namun, Megawati dapat meredam setiap kesangaran para pendukungnya di akar rumput. Punya ilmu apa Megawati? Saya tak tahu persis. Barangkali Megawati punya ‘sima’ yang hanya tampak di mata para pendukungnya. Mungkin sima itu tak terlihat oleh orang-orang yang konon terpelajar yang kerap meremehkannya.
Ternyata kemampuan Megawati itu tak dimiliki para pemimpin partai lain. Sebut saja KH. Abdurrahman Wahid tak mampu membendung PKB menjadi terbelah pasca lengser. Demikian pula SBY tak bisa mencegah pernah retaknya Demokrat usai menjadi presiden. Pada konteks ini Megawati mengalahkan semua pemimpin partai.
Megawati juga banyak melahirkan para pemimpin baru yang inovatif, tetapi tetap tunduk pada ‘sima’ dirinya. Mereka para bupati, gubernur, bahkan presiden.
Megawati benar-benar praktisi politik yang ulung. Banyak akademisi dan peneliti politik–bergelar master, doktor, dan profesor–yang tak mampu ketika terjun ke politik praktis. Karya dan bacaan jurnal maupun buku dengan segudang teori seolah tak berdaya ketika dipraktekkan langsung.
Pun sebaliknya, mungkin Megawati pun tak akan mampu jika diminta menulis berlembar-lembar jurnal.
***
Kini publik dikejutkan sebuah berita bahwa Megawati dianugerahi gelar profesor kehormatan alias guru besar tidak tetap dari Universitas Pertahanan. Ia menjadi yang kedua setelah sebelumnya SBY mendapat gelar serupa dari universitas yang sama pada 2014. Indonesia juga punya profesor kehormatan di bidang musik yaitu Rhoma Irama.
Tentu banyak akademisi dan peneliti yang terganggu dengan hadirnya gelar atau jabatan tersebut. Maklum, mencapai jabatan itu butuh persyaratan berat yang berdarah-darah. Tak semua akademisi dan peneliti sanggup apalagi semakin mutakhir persyaratan semakin sulit.
Banyak argumentasi bagi yang kontra. Tentu perdebatan tidak akan pernah selesai apalagi bila persyaratan profesor kehormatan dianggap sama dengan profesor yang ada di dunia akademisi dan peneliti. Tidak akan pernah ketemu dan tidak akan pernah memenuhi syarat. Tidak akan pernah. Megawati tidak layak dalam kacamata itu.
Apalagi bila persyaratan Megawati untuk merawat jabatan tersebut kelak harus publikasi di jurnal internasional Q1 atau Q2 secara rutin. Dia tidak layak.
***
Namun, kita lupa. Dimensi profesor Megawati dengan profesor dari dosen dan dari peneliti berbeda. Tentu kebutuhan perawatan gelarnya juga berbeda.
Kultur Indonesia selalu unik. Gelar ‘kyai’ disematkan pada manusia hingga dianugerahkan pada keris, tombak, gamelan, hingga kerbau keramat. Intinya mereka yang ‘ter’ dalam konteksnya masing-masing layak menjadi ‘kyai’ yang penyematannya menggunakan banyak ritual.
Pun istilah ‘pangeran’ dan ‘gusti’ juga disematkan pada anak raja, raja, hingga penyebutan pada ‘tuhan’. Bagi yang tak paham memang sulit. Saya pernah dituduh keluar dari Islam gara-gara berdo’a: “Duh ‘gusti’ nu Maha Agung, tulungan sim kuring. Teu aya deui ‘pangeran’ nu tiasa nulungan kuring kecuali Anjeun.”
Kembali pada gelar untuk manusia seperti kyai juga sulit dipahami. Kyai yang disematkan pada manusia juga standar dan levelnya berbeda-beda.
Ada ‘kyai’ seperti Prof. Quraish Shihab yang harus menempuh pesantren lalu lanjut S1-S3 hingga mengajar. Beliau menulis tafsir dan buku berjilid-jilid serta membimbing mahasiswa.
Namun, ada ‘kyai’ di kampung yang tak lulus SD dan hanya memimpin mushalla dan kobong (nama asrama kecil di bawah mushalla untuk anak-anak).
Bahkan, ada pula gelar ‘kyai’ di sebuah kampung yang disematkan pada seorang sersan tentara. Itu karena jasanya mewakafkan tanah untuk masjid. Kami menyebutnya Kyai Sersan, kadang Haji Sersan.
Ya, dimensi ke-kyaian-nya berbeda-beda. Demikian pula pada profesor kehormatan bagi Megawati, SBY, dan Rhoma Irama yang dimensi keprofesorannya berbeda dengan profesor yang berasal dari akademisi dan peneliti.
Tentu sulit membandingkan dan menggugat dimensi yang berbeda. Bahkan, sekadar menyegarkan ingatan, ketika ide profesor riset dimunculkan dulu kala, publik juga terkejut. Banyak pula yang kontra. Setiap yang baru biasanya memang menghebohkan.
***
Terlepas dari uraian di atas. Ide dasarnya sebetulnya sederhana. Pada sebuah bidang. Apapun bidangnya (musik, politik, teknik, bahasa, ekonomi, dsb) ada 3 golongan yang menggelutinya: akademisi, peneliti, dan praktisi.
Di setiap golongan itu ada maestro-nya masing-masing. Barangkali (mungkin) profesor itu nama lain untuk para maestro tersebut.
Selamat Bu Megawati!
Saya salah pernah meremehkan anda 20 tahun silam. Anda telah menjadi maestro dan saya bukan maestro di bidang apapun.
****
Maestro, barangkali demikian pendekatan sinonim yang saya sematkan pada gelar atau jabatan profesor di berbagai belahan dunia pada tulisan pertama pekan silam. Ya, definisi dan legalitas profesor di setiap negara memang berbeda-beda karena terikat waktu dan ruang. Profesor dapat saja merupakan gelar, tetapi bisa juga jabatan.
Maestro itulah yang dapat kita temukan di setiap bidang. Ia dapat saja berwujud akademisi, peneliti, maupun praktisi. Walau dalam prakteknya maestro lebih banyak disematkan pada ahli seni: musik, sastra, patung. Pada konteks itulah maestro dangdut Indonesia, Rhoma Irama, juga pernah diberi gelar profesor kehormatan.
Jauh sebelum gelar profesor ‘dibajak’ oleh lembaga formal sebagai satu-satunya gelar yang dimonopoli oleh universitas, institut, atau ma’had modern, sebenarnya sebutan profesor juga disematkan pada pemimpin spiritual atau pemimpin religius. Namun, lambat laun hilang setelah gelar profesor hanya untuk pengajar universitas di berbagai belahan dunia. Kemudian akhirnya gelar tersebut terbuka kembali untuk peneliti: profesor riset.
Sejujurnya, baik istilah profesor maupun maestro bukan asli istilah Indonesia. Ia kosakata impor. Profesor dari bahasa Latin. Maestro dari bahasa Italia. Artinya kurang lebih sama: orang pakar atau orang mahir di bidang masing-masing baik sebagai akademisi, peneliti, maupun praktisi. Mereka maha guru yang menjadi rujukan semua orang. Walau pada prakteknya bukan menjadi rujukan semua orang, tetapi maha guru atau guru besar bagi segelintir orang di bidangnya saja.
Tanah Nusantara sebetulnya punya padanan dekat untuk istilah profesor dan maestro di berbagai bidang. Istilah itu adalah ‘mpu’ atau ‘empu’ yang berasal dari bahasa klasik: sansekerta.
Dalam bahasa Sansekerta empu berarti mulia, berilmu tinggi, atau pembuat suatu karya agung. Empu juga seorang guru besar di padepokan agama atau silat. Saya tak tahu, apakah dapat dikatakan istilah empu juga impor dari India.
Pada perjalanan sejarahnya empu dianggap hanya gelar untuk pembuat senjata seperti keris atau tombak yang hebat. Sebut saja Empu Gandring. Karya Empu Gandring adalah senjata keris yang digunakan Ken Arok untuk menikam Tunggul Ametung. Jauh sebelum membuat keris itu sebetulnya banyak senjata hebat lainnya karya Empu Gandring sehingga dirinya bergelar empu.
Bukti empu bukan monopoli pembuat senjata adalah karya gubahan berupa Kitab Sutasoma. Buku yang didalamnya berisi ajaran agama itu sumber dari ungkapan terkenal ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang kita kenal. Kitab itu karya Empu Tantular yang sangat populer. Tantular sebagai penulis dan ahli agama juga seorang empu. Tentu di bidang tersebut.
Gelar empu juga disematkan pada Empu Daksa dan Empu Sindok. Keduanya Raja Medang yang berkuasa ratusan tahun silam. Konon, Empu Sindok memang bangsawan yang merupakan pejabat karir yang pintar di zamannya. Ia akhirnya menjadi raja dan mendirikan wangsa tersendiri.
Baik Empu Gandring, Empu Sutasoma, maupun Empu Sindok biasanya memiliki pengikut maupun murid informal. Uniknya empu di masa silam dapat berdomisili di pusat kota hingga di pedesaan di kaki gunung atau lembah terpencil.
***
Kesadaran bahwa orang-orang mahir, pandai, dan berilmu–yang berprofesi sebagai akademisi, peneliti, dan praktisi–bertebaran di berbagai penjuru bumi itu dipegang erat oleh dua sahabat saya: Kang Syahroni Yunus dan Kang Azwar Hadi (alm). Yang pertama alumni Jurusan Tanah Universitas Sriwijaya dan yang kedua alumni Jurusan Tanah Institut Pertanian Bogor.
Maklum, keduanya banyak sekali melakukan perjalanan ke berbagai daerah lalu berjumpa dengan banyak cerdik cendikia di desa-desa. Dalam perspektif keduanya, seringkali kemahiran orang-orang tersebut melampaui guru atau peneliti formal di universitas, institut, atau ma’had bahkan di lembaga riset ternama.
Keduanya memang berlatarbelakang pertanian. Sehingga cerdik cendikia yang keduanya maksud umumnya di bidang pertanian. Mereka terkadang pemulia padi. Terkadang pemulia perkutut, lovebird, cupang, koi. Kadang juga pencetak tanaman hias bunga tumpuk atau berdaun indah yang sebelumnya tak pernah ada.
Ada pemulia burung kenari yang latar belakangnya agronomi. Ada pemulia tanaman hias yang latar belakangnya hukum. Ada pemulia anggrek yang latar belakangnya IT. Namun, karya-karya mereka diakui oleh rekan-rekan di bidangnya bahkan hingga ke mancanegara.
Kelemahannya adalah cerdik cendikia itu tak memiliki bukti karya tulisan yang menunjukkan kepakaran mereka di bidang tersebut. Ya, dunia modern memang hanya menganggap ‘bukti tulisan’ sebagai sebuah bukti kepakaran. Yang juga menyulitkan adalah bukti tulisan tersebut harus dipublikasikan pada jurnal-jurnal ternama. Tentu sulit dicapai karena dimensi kepakaran para cerdik cendikia tersebut berbeda.
Syahroni dan Azwar punya cita-cita merekam perjalanan orang-orang hebat tersebut. Mereka bahkan punya gagasan membuat jurnal alternatif yang isinya menampung tulisan para cerdik cendikia dari golongan bukan kampus itu. Mungkin karena mereka melihat beberapa NGO membuat buku perjalanan para aktivisnya dalam bentuk jurnal.
Mereka bahkan–bersama Syamsul Asinar Radjam dan Fransiaca Callista–membuat yayasan bernama belakang ‘Institute’ untuk menandingi lembaga pendidikan formal. Namanya INAgri atau Institut Agroekologi Indonesia. Biar keren katanya. Agar tak kalah dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) atau Institut Pertanian Bogor (IPB) katanya lagi.
Salah satu tujuannya menghimpun para cerdik cendikia di desa-desa. Merekam aktivitas mereka dalam tulisan pada jurnal alternatif. Goal akhirnya mencetak 1000 profesor desa, maksudnya 1000 maestro desa, atau mungkin lebih tepatnya mencetak 1000 empu di desa-desa. Mereka perlu dimuliakan karena di tangan merekalah sebetulnya perubahan di desa bertumpu.
Sayang, salah satu dari mereka–Azwar Hadi–telah pergi ke pangkuan Ilahi sebelum cita-cita menghimpun 1000 profesor desa tercapai. Saya juga tak tahu apakah rekan-rekannya mampu meneruskan cita-citanya.
Namun, kita beruntung sebelum ada 1000 profesor desa–yang tentunya adalah profesor kehormatan–Indonesia telah punya minimal 3 profesor kehormatan: Susilo Bambang Yudhoyono, Rhoma Irama, dan Megawati. Bedanya, mereka bukan dari desa, tetapi masih dari kota.
Selamat datang profesor-profesor baru. Selamat datang empu-empu baru!***
(Ditulis dari celotehan Gus Wau)
Editor: Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait