Rintihan Dibalik Gagahnya Even Asian Games Palembang

Miris, Biasanya Rp. 5 Juta Sehari, Tinggal Rp. 100 ribu Per Hari

Oleh : Asih Wahyu Rini-swarnanews.co.id – Palembang

Riuhnya gebyar pesta olahraga 45 negara di ajang Asian Games membanggakan banyak pihak ini, sering tak berbanding lurus dengan efek langsung yang dirasakan oleh masyarakat sekitar. Tak terkecuali, 150 pedagang yang tergabung dalam perkumpulan pedagang JSC Palembang merasakan imbasnya langsung. Mereka mengaku justru tersingkirkan dari pemanfaatan even akbar ini lantaran tidak boleh berjualan di sekitar JSC seperti saat even-even mendunia sebelumnya. Bahkan kini mereka dibiarkan liar berjualan di sekitaran Deskranasda dan area Media Center namun tetap dikenakan tarif hingga Rp. 400 ribu per pedagang selama even Asian Games. Kesempatan mendapatkan untung Rp. 5 juta sehari, kini pun tinggal mimpi lantaran yang bisa dikantongi hanyalah Rp. 100 ribu per hari.

Teriknya matahari siang inilah (30/8) membawa Swarnanews nekat membuka obrolan dengan para pedagang di area seputaran JSC kini dielu elukan oleh dunia.

Kemegahan Jakabaring hari ini bukan hanya letaknya sudah cukup strategis karena dekat dengan akses Tol, juga beberapa kawasan perkantoran utama. Namun juga lantaran banyaknya fasilitas olahraga mewah bertaraf internasional yangbterus disorot semua mata di dunia. Bahkan Jakabaring dikabarkan bakal masuk wilayah zona I layaknya Jenderal Sudirman saat ini, pasti akan berefek pada meroketnya nilai pajak di daerah ini.

Benar- benar woow, menggiurkan jika ditilik dari sisi nilai investasi. Sumsel patut bangga dengan semua itu. Ini akan jadi catatan penting negeri ini.

Sayangnya, catatan Swarnanews siang ini tak hanya sebatas ini saja menilai sebuah keberhasilan suatu daerah. Sisi lain tersembunyi semakin tidak tampak saat kaki pengunjung hanya tertuju memasuki gedung gedung megah di area venue JSC. Apalagi saat menaiki tangga LRT terpanjang di Jakabaring itu, rasanya sudah tidak ingin lagi naik mobil biasa yang kecepatanya jauh dari kecepatan super si LRT kini juga masih membuat penasaran banyak masyarakat yang belum menaikinya.

Oleh sebab itulah Swarna coba ajak Anda jauh sedikit melangkah ke arah gedung tua Dekranasda Jakabaring dan gedung lainya di kawasan tersebut. Di sana akan ada banyak sisi lain yang bisa dilihat dari kekurang adilan kebijakan para pemangku kebijakan saat ini.

Sebut saja Nani (45), pemilik warung Bakso dan Model 66 yang tergabung dalam perkumpulan 150 pedagang JSC dan sudah 11 tahun mendapatkan izin oleh Bagian Aset Daerah berjualan di kawasan JSC setiap hari.

Namun hari ini harus duduk termangu saja melihat gerobak miliknya dan teman temanya yang sepi pembeli karena berada di kawasan cukup jauh dari arena gelanggang even.

Jangankan kembali modal. Dalam sehari bisa masuk omset Rp. 100 ribu saja sudah untung, karena para pengunjung even ini menurut Nani sangat sepi. Jangankan bule yang muncul, penonton lokal warga sekitar pun jarang kata Nani sambil sesekali melempar pandangan kosongnya jauh kedepan.

Nani menceritakan kondisinya dan teman teman, merupakan pedagang asli kawasan JSC mangkal setiap hari tanpa absen, harus dilempar ke luar JSC dan berjualan liar di kawasan pinggiran jalan Jakabaring dengan masih tetap membayar uang iuran Rp. 400 ribu per pedagang selama even Asian Games ditambah jaga malam Rp. 10.000 per malam.

Kesedihanya bertambah, lantaran sangat sepi pembeli. Untuk mengantongi Rp. 100 ribu per hari saja sangat susah.

Kondisi ini jauh berbeda dengan gelaran even even besar dunia sebelumnya, baik ISG Islamic Solidarity Games, Sea Games dan PON lalu. Dimana masih dikelola oleh Badan Aset Daerah. Semua pedagang lama tergabung di Perkumpulan Pedagang JSC diakomodir dan diberikan tempat khusus bisa ikut berjualan di sekitar area JSC. Tapi nyatanya sejak Juli 2018 lalu, pihaknya sering mendapatkan kebijakan kurang memihak pedagang kecil dari pengelola baru PT JSC.

Terbukti di even Asian Games ini, para pedagang asli kawasab JSC yang sudah 11 tahun diizinkan di sana, dilempar ke luar JSC dan tidak boleh ikut berjualan di arena JSC.

Sekelas Nani saja merasa sanggup jika harus membayar tenan mencapai Rp. 5 juta selama even seperti even even dunia sebelumnya.

Prospeknya memang luar biasa. Sebagai gambaran pihaknya ikut berjualan di even besar sebelumnya di area JSC. Dalam sehari bisa tembus omset hingga Rp. 4 juta untuk jualan sekelas bakso dan model saja. Itupun pengunjung lokal banyak makan, belum dari pengunjung luar.

Pengunjung luar bahkan banyak membayar dengan dolar, ringgit bahkan riyal, tak sedikit ia mengantongi mata uang luar negeri lantaran dibayar begitu saja oleh wisatawan luar tanpa minta uang kembali.

Membuat pedih, sedikitpun pihaknya tidak diajak berunding oleh pengelola baru saat ini. Tiba tiba begitu saja, para pedagang diminta keluar JSC. Sedangkan di pihak lain, ia dengan teman teman menyaksikan dengan mata sendiri, truk besar besar masuk mengangkut barang dagangan ke kawasan JSC.

Miris, begitu keluh Nani. Sebagai pedagang kecil, ia berharap setidaknya hal seperti ini jangan diabaikan oleh pemda. Buktinya even dunia sebelumnya ia dan teman temanya tidak ada yabg diusur ke luar JSC, tapi malah diberikan tempat khusus di sana. “Bangga rasanya punya pimpinan adil. Tapi dengen even Asian Games yang semena mena ini memperlakukan pedagang seperti kita, sedangkan mereka bebas membawa orang baru lain masuk, rasanya sakit bener,”keluh Nani berkaca-kaca matanya.

Ia berharap ini didengar oleh pemerintah dan diberikan teguran bagi pengelolaan kurang adil dengan rakyat sekitar.

Ia berharap even ini tidak saja memberikan efek ekonomi pelaku bisnis besar. Tapi terkhusus bagi pelaku ekonomi kecil.

Hal senada juga dirasakan Ranggono (51), mengaku sempat ikut menyewa stan di Dekranasda berjualan dodol asli Garut.

Ia menilai tempat jualan dengan arena cukup jauh. Sehingga masih banyak barang daganganya tidak laku. Dalam sehari hanya laku 2,3 kilo gram dodol. Sedangkan biaya sewa harus dibayar Rp. 8 jutaan. Sehingga tidak balik modal. Untuk mengembalikan barang dagangan jualanya ke lokasi awal di Jawa Tengah, ia pun harus berhutang lantaran tidak mendapatkan untung.

Ia berharap posisi strategis stan dengan pagelaran harus bisa dilihat mata dan mudah dijangkau. Sedangkan gedung Dekranasda cenderung jauh ke dalam dan sisi nilai strategisnya sangat kurang.

Terpisah pengamat ekonomi, Dr. Sri Rahayu Ningtias mengaku sedih sedikit pilu melihat sisi lain masyarakat dibalik even akbar ini.

Kendati terlihat sepele, jebolan UI ini mengaku menjadi poin penting mengambil langkah di even even besar selanjutnya.

Ini harus jadi catatan Pemda. Semua harus ada porsi jelas dalam pemerataan ekonomi. Jangan hanya segelintir orang menikmati efek even ini, tapi harusnya lebih merata.

Masyarakat saat ini hanya butuh kebijakan populis. Jika ini sudah bagus, artinya masyarakat akan bisa berinovasi lebih lanjut. Tapi jika sisi kebijakan saja sudah kurang memihak, ini akan jadi warning membangkitkan ekonomi sektor real di sini.

Tidak ada harapan lebih dari setiap even, kecuali mampu mengangkat perekonomian setempat. Jika ini belum berhasil, artinya butuh evaluasi serius. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait