Saatnya Bela Negara

Oleh: Husnil Kirom, M.Pd
(Alumni Wasbang P4TKPKnIPS dan Anggota PGRI-NPA)

 

SWARNANEWS.CO.ID | Bela Negara, dua kata yang mudah diucapkan tetapi sulit direalisasikan dalam sikap dan tindakan. Sejarah membuktikan bahwa negara tidak pernah sepi dari berbagai ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan yang datangnya dari dalam dan luar negeri. Oleh karenanya dibutuhkan partisipasi seluruh warga negara untuk ikut membela negara dengan cara menjaga kedaulatan, keutuhan wilayah, serta keselamatan bangsa dan negara. Muncul pertanyaan, mengapa negara perlu dibela oleh warganya? Bukankah sudah ada alat pertahanan negara dan penegak hukum di Indonesia.

Membangun Kesadaran Bela Negara

Menjawab pertanyaan tentang mengapa negara harus dibela? Hal ini dikarenakan negara sebagai kesatuan sosial masyarakat memiliki fungsi dan peran besar dan sangat penting bagi seluruh warga negara dalam kerangka pengembangan diri sebagai manusia dan bangsa. Negara mengemban tugas pokok melindungi seluruh warga negara dalam wilayah kekuasaannya terhadap segala ancaman, menyediakan pelayanan bagi masyarakat di berbagai bidang kehidupan, serta bersikap netral dalam konflik sosial di masyarakat dengan menyediakan suatu sistem peradilan yang bebas, adil, tidak memihak manapun.

Tanpa kehadiran negara, cita-cita bersama warga negara tidak akan dapat diwujudkan. Setiap warga negara harus tahu, mau, dan mampu, serta memiliki kesadaran dalam membela negaranya. Memang benar kesadaran membela negara tidaklah tumbuh dengan sendirinya pada diri setiap warga negara. Diperlukan upaya sadar, terencana, dan matang dari pemerintah untuk menanamkan kecintaan terhadap bangsa sendiri, kerelaan berkorban untuk tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara dilandasi Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945 dengan semangat persatuan dan kesatuan tetap tegaknya NKRI di bawah semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Bagaimana membangun kesadaran bela negara bagi seluruh warga negara, terutama Gen Z dan Alpha? Membangun kesadaran bela negara bagi setiap warga negara utamanya generasi milenial dikenal dengan Gen Z dan Alpha dapat dilakukan melalui pendidikan, pembimbingan, dan pemberian motivasi dalam berbagai cara dan bentuk yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman dan teknologi.

Sebagaimana nawacita pemerintah berkenaan dengan Bela Negara adalah “menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh WNI, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpercaya dan pembangunan pertahanan negara Tri Matra Terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim” (www.kemhan.go.id). Kewajiban membela negara dalam UU nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara Pasal 9 ayat (1) menyebutkan “setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pertahanan negara”. Artinya membela negara Indonesia ini menjadi hak sekaligus kewajiban yang harus dilaksanakan oleh kita semuanya.

Membangun kesadaran warga negara dalam membela negara melalui pendidikan, seperti pembelajaran PPKn di persekolahan, dilanjutkan dengan perkuliahan wajib untuk matakuliah Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan di perguruan tinggi. Kemudian diselenggarakan lewat pelatihan dasar kemiliteran secara wajib, melalui ekstrakurikuler di sekolah dan Unit Kegiatan Mahasiswa di kampus seperti Pramuka, Resimen Mahasiswa, Pecinta Alam dan sebagainya. Kesadaran bela negara diselenggarakan melalui pengabdian sebagai prajurit TNI dan Polri secara wajib dan sukarela. Upaya membela negara dapat dilakukan melalui pengabdian sesuai profesi masing-masing, seperti guru, dokter, pengacara, profesi lainnya (Dirjen Potensi Pertahanan, 2010).

Saatnya Kita Bela Negara

Salah satu hari bersejarah yang tidak boleh dilupakan bangsa Indonesia adalah Hari Bela Negara (HBN). Hal tersebut dikarenakan tanggal 19 Desember 1948 menjadi momentum Deklarasi Pemerintahan Darurat Republik Indonesia disingkat PDRI oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Sejarah mencatat, pemindahan ibukota negara ke Bukit Tinggi diakibatkan telah didudukinya ibukota Yogyakarta oleh kolonial Belanda. Sehingga para pemimpin Indonesia ketika itu ikut diasingkan ke luar Jawa, tepatnya di Bukit Tinggi Provinsi Sumatera. Konsekuensi dari keadaan tersebut yang melahirkan PDRI dijadikan sebagai eksistensi bahwa negara Indonesia masih ada dan siap melaksanakan pemerintahan dimanapun berada meskipun ibukotanya sudah dikuasai Belanda.

Sekilas tentang masa pendudukan Jepang, Bukit Tinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian pemerintahan militernya untuk kawasan Sumatera bahkan sampai ke Singapura dan Thailand. Sebelumnya Bukit Tinggi tersebut diberi nama Stadsgemeente Fort de Kock yang diubah menjadi Bukit Tinggi Si Yaku Sho. Wajarlah jika akhirnya pusat pemerintahan Indonesia ketika diduduki kembali oleh Belanda dipindahkan kesana, selain karena daerahnya luas juga strategis bekas kedudukan Komandan Militer Kempetai dipimpin Mayor Jenderal Hirano Tayoji.

Setelah kemerdekaan, berdasarkan ketetapan Gubernur Provinsi Sumatera Nomor 391 tanggal 9 Juni 1947 Bukit Tinggi menjadi ibukotanya. Akhirnya penetapan Hari Bela Negara ini sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia tertanggal 18 Desember 2006 oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Sejak saat itu setiap tanggal 19 Desember di Indonesia diperingati sebagai HBN. Tahun ini adalah peringatan HBN ke-13 tahun di Indonesia dengan tagar #saatnyabelanegara.

Lalu, apa yang bisa kita perbuat untuk membela negara pada peringatan HBN tahun ini? Tujuan membela negara adalah menjaga dan melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah, serta keselamatan segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dari segala bentuk ancaman. Di era globalisasi sekarang ini, bentuk ancaman yang kita hadapi begitu kompleks. Bukan lagi fisik militeristik atau non fisik militeristik, tetapi gabungan keduanya dikenal dengan Asymetric Warfare (perang tanpa bentuk).

Ancaman fisik-militeristik berupa gerakan separatisme, terorisme, dan gangguan negara lain, sedangkan ancaman non fisik yang harus diwaspadai berbentuk praktik KKN, merosotnya moral bangsa, menurunnya semangat nasionalisme dan patriotisme warga negara, memudarnya rasa bangga terhadap bangsa sendiri, terpengaruh dampak negatif kemajuan teknologi, seperti provokasi dan hoax. Berbagai tren ancaman terkini yang dihadapi negara-negara di dunia termasuk Indonesia pada era digitalisasi, yakni financial warfare, trade warfare, cyber warfare, media warfare, cultural warfare, legal warfare, biological warfare, enviromental warfare. Jika dulu semboyan berperangnya adalah rebut, duduki, dan kuasai, maka saat ini berubah menjadi kuasai, duduki, dan rebut (Riyandi, 2019).

Kita harus memiliki kemampuan deteksi dini dan cegah tangkal, khususnya gen Z dan Alpha melalui pendidikan, pelatihan, pembinaan, dan pembimbingan secara rutin dan terprogram. Secara khusus membela negara melalui Pendidikan Kesadaran Bela Negara menekankan penanaman nilai, norma, moral, etika, dan karakter bangsa. Membela negara diwujudkan dengan cara ikut mengamankan lingkungan sekitar melalui ronda malam, membantu korban bencana alam, menjaga kebersihan lingkungan, menyatakan perang terhadap narkoba, mencegah terjadinya perkelahian dan tawuran, mencintai produksi dalam negeri, melestarikan budaya nasional Indonesia, berprestasi di tingkat nasional dan internasional, dan sebagainya.

Momentum Peringatan HBN Tahun 2019 ini harusnya bukan semata seremonial belaka, tetapi konkrit dalam bentuk aksi atau gerakan nyata yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga sampai ke unit kerja. Selalu ada peluang dan kendala dalam pertahanan negara, maka kita harus siap sedia dan berkomitmen tetap setia membela negara kapanpun dan dimanapun dibutuhkan selama hayat masih dikandung badan.

Salah satunya melalui kegiatan Pelatihan Kesadaran Bela Negara dan Wawasan Kebangsaan yang harusnya diinisiasi oleh organisasi profesi, semisal PGRI Provinsi Sumatera Selatan bagi pengajar dan pelajar di Sumsel. Bertujuan untuk membangkitkan dan memperkuat kembali rasa nasionalisme dan patriotisme, khususnya generasi milenial (Gen Z) di Sumsel ini. Demi Indonesia Tercinta, Saatnya Kita Bela Negara!

Editor : Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait