Strategi Media di Era Digital, Wartawan Harus Multi Talenta

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG | MENYIKAPI perkembangan media yang cepat, wartawan tak hanya membekali dirinya dengan kemampuan jurnalistik tapi juga harus menguasai teknologi sejalan dengan perkembangan platform media saat ini.

Hal itu menjadi benang merah diskusi ringan dikalangan Wartawan saat menghadiri acara selamatan dan syukuran yang digagas H Firdaus Komar di Kantor Koran Extra News, Sabtu (8/1).
Hadir dalam acara itu wartawan dari berbagai usia dan media flatform menuangkan gagasan, ide sampai pada pengalaman masing-masing.

Seperti disampaikan Anwar Rasuan wartawan senior mengatakan, sejak 90’an pers mengalami perkembangan luar biasa. Terutama media online dari sisi konten dan kecepatan berita.
Namun demikian, Anwar Rasuan mengaku tetap optimis jika dalam 5 tahun kedepan, media cetak akan kembali berjaya.

“Saat ini wartawan online sudah jenuh. Karena 80 persen wartawan online tak memenuhi standar berita. Karena itu wartawan harus membenahi sumber daya manusia agar mampu bersaing,” ujarnya.

Dikatakan Anwar, banyak media online tak berkembang karena SDM nya kurang. Memang media Online mempunyai keunggulan yaitu kecepatan berita. Namun Wartawannya masih banyak yang muda dan pintar tapi harus banyak belajar,” ujarnya lagi.

Sementara, wartawan senior Sriwijaya Post, Azwir menyebutkan, media jangan tabu jika mempunyai bisnis sampingan diluar bisnis media.

“Sebab Kompas Group itu banyak mempunyai banyak unit usaha diluar bisnis media. Dan Firdaus Komar sudah sukses memulainya,” ujarnya.

Azwir menyebutkan, media bisa berkembang jika didukung oleh bisnis yang baik agar bisa bertahan ditengah persaingan. Sementara, wartawan sekarang mempunyai tugas yang lebih kompleks. Khususnya
Liputan kerja wartawan online.

Situasi saat ini bahwa menggarap online tak bisa hanya satu orang tapi harus ada bagian tugas tidak bisa sambilan: “Apalagi peluang media online bisa meraup dolar,” paparnya. .Tantangannya, harus bisa multitalenta mulai video, foto maupun streaming.

Sementara, wartawan muda juga akrab dalam podcast Riza Pahlevi atau akrab disapa Eja mengatakan, di era sekarang ini digitalisasi maka produktifitas harus ditingkatkan jika tidak akan tertinggal.

“Karena generasi muda dekat dengan teknologi. Maka itu, wartawan harus banyak belajar,” ujarnya.

Selain itu, wartawan harus jadi magnet agar mampu kita berhasil menjadi pusat perhatian melalui gagasan dan ide. “Sehingga dapat membuka peluang untuk menjalin kerjasama dengan pihak lain,” ujarnya.

Eja mengingatkan wartawan harus patuhi mode etik jika tidak akan terbawa arus untuk kepentingan pihak tertentu.
Misalnya, ikut konferensi pers wartawan harus punya gagasan sendiri tidak harus ikut arus dan didekte oleh narasumber,” ujarnya.

Sementara, Asri berbagi pengalaman dalam dunia wartawan dari bawah. Mulai dari loper koran hingga
belajar otodidak seperti membuat koran, majalah serta memulai media online sejak 2016. “Sampai bisa melayani membikin jasa buat online bahkan cari duit dari online,” paparnya.

Dunia wartawan dituntut serba bisa. Jangan mudah menyerah, banyak orang memulai membuka media namun berhenti ditengah jalan. “Kami berani buka media sendiri karena ditempa dari kepahitan,” ujarnya.

Ditempat sama, Oktaf Riyadi Ketua PWI Sumsel dua periode menilai, Firdaus Komar bukan hanya sukses sebagai wartawan tapi juga sukses usaha.
Kuncinya wartawan itu harus belajar. Wartawan harus banyak membaca. Kebanggaan wartawan itu mampu menulis bagus. Kemampuan harus terus diasah.

“Ada rasa puas bagi wartawan jika tulisannya bagus. “Memang perkembangan media online mengharuskan wartawan menyampaikan berita dengan cepat. Namun harus taati kode etik. Jika sudah pintar menulis berita harus taati kode etik,” pesannya.

Sementara Firdaus Komar sebagai penggagas acara menyampaikan, kegiatan ini sebagai bentuk rasa syukur dengan apa yang diperoleh selama ini.

Teks/Editor : Ril/Asri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait