Transaksi Pasar Modal Sumsel Tumbuh Pesat, 2021 Paling Tinggi

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG | Perkembangan pasar modal semenjak Pandemi Covid-19 tumbuh menggembirakan. Masyarakat yang ‘terjebak’ untuk melakukan seluruh kegiatan dari rumah, lebih banyak memilih pasar modal sebagai salah satu instrumen investasi. Akibatnya, transaksi pasar modal di Provinsi Sumatera Selatan tumbuh fantastis.

Kepala Perwakilan BEI Sumatera Selatan Hari Mulyono, dalam media gathering, di Hotel Santika, Kamis (28/7/2022) menjelaskan, pesatnya perkembangan pasar saham ini terjadi sejak pandemi dimulai yakni di awal 2020 lalu. Dan meraih level tertinggi di 2021. Namun kemudian, trennya agak sedikit turun setelah masuk 2022.

“Sebab, saat ini mobilitas sudah tidak dibatasi. Semua aktivitas hampir kembali normal seperti semula. Anak-anak mulai sekolah, bisnis jg sudah mulai bergerak. Perhatianya jadi terpecah,” jelas Hari.

Berdasarkan data BEI Perwakilan Sumsel, tahun 2020 lalu, total transaksi pasar modal untuk investor yang memiliki KTP Sumsel, berjumlah Rp 57 triliun. Sementara di tahun berikutnya, 2021, angkanya naik drastis ke Rp 109 triliun.

Sedangkan jumlah investor juga bertumbuh. Saat ini jumlah investor baru sudah mencapai 12.279 yang berinvestasi pada seluruh instrumen pasar modal. “Mayoritas investor baru itu berasal dari Palembang,” sebut Hari.

Diakuinya, dengan pencapaian ini perkembangan Pasar Modal Sumsel di nasional, sampai dengan Juni 2022, sudah ada di peringkat tujuh melampaui pencapaian Bali yang ada di posisi delapan. “Sebelumnya, Sumsel ada di peringkat 9 pada 2020, lalu naik dua tingkat ke peringkat 7 di 2021. Dan hingga kini tetap bertengger di sana. Mudah-mudahn posisi kita tidak digeser Bali atau Yogya hingga akhir tahun ini,” harap Hari.

Bukan hanya di Sumatera Selatan, peningkatan transaksi pasar modal juga terjadi secara nasional. Bahkan yang menjadi investor pasar modal terbanyak, adakah Generasi Z dengan usia mulai dari 15 tahun.

Sejalan dengan pesatnya perkembangan transaksi maupun jumlah investor, seiring pula dengan munculnya investasi bodong.

“Atas dasar itulah, kami tidak lagi mendengungkan Yuk Nabung Saham. Melainkan kini sudah pada 3P yakni, Paham, Punya, Pantau. Jadi masyarakat harus antara lain harus memahami investasi yang akan dipilih, memiliki nomor SID Single Investor Identification, serta memantau kinerja emiten yang dipilih untuk menanamkan investasinya,” jelas Hari. (*)

Teks/editor: maya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait