Uji Pengaruh Kelengkungan Singkal Terhadap Hasil Pengolahan Tanah Ultisol Dengan Berbagai Kecepatan Kerja

 Oleh

Nabila Fitri Tandra Suci[1] dan Hersyamsi [2]

Program Studi Teknik Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian,

Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari pengaruh kelengkungan bajak singkal terhadap hasil pengolahan tanah ultisol dengan berbagai kecepatan kerja. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan dua faktor perlakuan yaitu sudut kelengkungan bajak (A) dan kecepatan kerja  (B). Masing-masing faktor terdiri dari tiga taraf perlakuan. Taraf perlakuan untuk sudut kelengkungan terdiri dari sudut kelengkungan 120ᵒ, 130ᵒ, dan 140ᵒ sedangkan taraf perlakuan kecepatan kerja bajak yaitu terdiri dari kecepatan kerja 2 km/jam, kecepatan kerja 3 km/jam, dan kecepatan kerja 4 km/jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sudut kelengkungan bajak dan kecepatan kerja bajak berpengaruh nyata terhadap hasil pengolahan tanah ultisol, dengan kombinasi perlakuan sudut kelengkungan bajak 140ᵒ dan kecepatan 4 km/jam menghasilkan rata-rata kelengketan tanah terendah yaitu 104,63 g sedangkan kombinasi perlakuan sudut kelengkungan 120ᵒ dan kecepatan 4km/jam menghasilkan rata-rata kedalaman kerja bajak, tinggi hasil pembajakan , lebar pemotongan bajak , dan lebar tanah yang terbalik tertinggi yaitu secara berturut-turut sebesar 11,67 cm, 11,00 cm, 16,67 cm, dan 20,33 cm.

 PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki lahan yang luas dengan sumber daya alam yang sangat beragam terutama hasil pertaniannya. Tanah merupakan media tumbuh sekaligus tempat penyediaan nutrisi secara alami bagi tanaman, yang merupakan salah satu faktor yang sangat berperan penting dalam bidang pertanian (Taisa, et al., 2019). Tanah terbentuk oleh beberapa faktor yang saling mendukung baik secara fisik maupun kimia dalam proses pembentukannya. Indonesia sendiri memiliki beragam macam jenis tanah di mana masing-masing tanah memiliki karakteristik sifat yang berbeda antara satu jenis tanah dengan jenis yang lainnya (Handayani dan Karnilawati, 2018).

Salah satu jenis tanah yang mendominasi lahan pertanian di Indonesia adalah jenis tanah ultisol atau juga sering disebut sebagai  tanah Podsolik Merah Kuning. Tanah ultisol memiliki sebaran yang sangat luas di Indonesia dengan total luas sekitar 25% dari daratan Indonesia atau mencapai 45.794.000 ha (Syahputra, et al., 2015). Tanah ultisol memiliki tingkat kemasaman tinggi, kadar Fe (Besi) sangat tinggi, kadar bahan organik rendah, kadar unsur hara rendah, derajat kejenuhan basa rendah, kapasitas tukar kation relatif rendah, daya sanggah tanah serta daya menahan air rendah (Sudaryono, et al., 2011). Proses dekomposisi tanah ultisol berjalan dengan cepat, hal ini menyebabkan proses pencucian basa berlangsung lama yang mengakibatkan  kandungan bahan organik tanah ini relatif rendah dan secara langsung berpengaruh pada kandungan unsur hara, hal inilah yang menjadi permasalahan utama pada tanah ultisol ( Pane, et al., 2014).

Tanah ultisol dapat dimanfaatkan sebagai upaya perluasan lahan untuk tanaman pangan dengan pemilihan jenis tanaman dan pengolahan tanah yang tepat (Syahputra, et al., 2015).  Pengolahan tanah didefinisikan sebagai suatu kegiatan untuk menciptakan kondisi tanah yang baik untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Pengolahan tanah yang tidak tepat dapat menjadi penyebab pada kerusakan tanah (Putra, et al., 2017). Para petani saat ini telah banyak menggunakan traktor yang dikombinasikan dengan berbagai alat pengolah tanah untuk mempermudah pekerjaan yang akan dilakukan dalam pengolahan tanah (Artawan, et al., 2019). Salah satu jenis traktor yang sering digunakan para petani untuk pengolahan tanah adalah traktor tangan (hand tractor). Traktor tangan (hand tractor) adalah sumber tenaga sekaligus penggerak dari peralatan pertanian, alat ini digunakan petani untuk mempersingkat waktu dalam kegiatan pengolahan tanah (Ismail, et al., 2012).

Jenis implemen yang sering digandengkan dengan hand tractor adalah bajak. Jenis bajak yang paling sering digunakan untuk mengolah tanah pada umumnya adalah jenis bajak singkal dan bajak rotary (Artawan, et al., 2019).  Bajak singkal merupakan salah satu peralatan pertanian yang paling umum digunakan untuk melakukan pengolahan tanah. Bajak ini digunakan dengan cara digandengkan dengan traktor atau alat pertanian yang dapat menjadi sumber tenaga penarik atau penggerak bajak tersebut. Bajak singkal dalam kegiatan pengolahan tanah memiliki fungsi untuk memotong, membalikkan, memecah serta membenamkan sisa-sisa tanaman ke dalam tanah (Ismail, et al., 2012). Cara kerja bajak singkal yaitu dengan cara melempar dan membalikkan tanah yang berfungsi untuk menggemburkan tanah yang diolah. Hasil pengolahan tanah menggunakan bajak singkal yaitu berupa bongkahan tanah berbentuk gumpalan yang berukuran cukup besar (Artawan, et al., 2019).

Bentuk bajak singkal cenderung berbeda-beda di setiap daerah. Perbedaan tersebut didasarkan oleh jenis tanah yang berbeda di setiap daerah. Sehingga, hasil pengolahan tanah masing-masing daerah memiliki hasil yang berbeda-beda pula. Menurut Latiefuddin dan Lutfi (2013)  perbedaan bentuk bajak dan kecepatan maju traktor dapat mempengaruhi sifat fisik tanah. Jika di tinjau dari pernyataan ini maka variasi bentuk kelengkungan bajak singkal secara teori akan mempengaruhi hasil pengolahan tanah yaitu berupa kedalaman dan lebar kerja bajak, sedangkan kecepatan maju traktor merupakan salah satu faktor yang akan mempengaruhi gaya gesek dan gaya normal pada permukaan bajak. Besarnya gaya tarik untuk melawan reaksi tanah pada saat pengolahan tanah berbanding lurus dengan kecepatan maju bajak, dengan bertambahnya kecepatan maju bajak maka gaya tarik akan bertambah juga.  Oleh karena  itu  perlu  dilakukan  penelitian  lebih  lanjut  tentang   pengaruh bentuk bajak dengan variasi kecepatan kerja bajak terhadap hasil pengolahan tanah dengan memodifikasi derajat kelengkungan pada bajak.

 

  • Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui      dan      mempelajari     pengaruh

 

kelengkungan bajak singkal terhadap hasil pengolahan tanah ultisol dengan berbagai kecepatan kerja.

 

PELAKSANAAN PENELITIAN

2.1.   Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan di Kebun Praktikum dan Riset Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Indralaya. Waktu pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada bulan September 2021 sampai dengan November 2021.

 

2.2.   Alat dan Bahan Penelitian

Adapun alat yang akan digunakan pada penelitian ini adalah 1) Bajak singkal 2) Traktor  tangan (Hand tractor) 3) Meteran 4) Oven 5) Penggaris ukuran 30 cm 6) Ring Sampel 7) Stopwatch 8) Timbangan Digital.

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah bahan bakar solar dan tanah ultisol.

 

2.3.   Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAFK) dengan dua faktor perlakuan yang terdiri dari faktor (A) derajat kelengkungan bajak dan faktor (B) kecepatan maju bajak. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali, dengan taraf perlakuan sebagai berikut :

  1. Faktor (A) derajat kelengkungan bajak singkal, terdiri dari tiga taraf :

A1 = 120

A2 = 130

A3 = 140

  1. Faktor (B) Kecepatan maju bajak singkal, terdiri tiga taraf :

B1 = kecepatan 2 km/jam

B2 = kecepatan 3 km/jam

B3 = kecepatan 4 km/jam

 

2.4. Cara Kerja

         Penelitian akan dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu: persiapan alat dan bahan, persiapan perlakuan, pengukuran, pengujian alat, dan analisis data

 

2.4.1. Persiapan Alat dan Bahan

Pembuatan  bajak singkal yang disesuaikan dengan taraf perlakuan yang akan digunakan untuk penelitian. Persiapan lahan seperti membersihkan lahan dari tumbuhan yang mengganggu proses pengambilan data. Lahan yang digunakan adalah Kebun Praktikum dan Riset Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Indralaya.

 

2.4.2. Persiapan Perlakuan

Persiapan pengukuran kecepatan bajak singkal dalam mengolah tanah dilakukan dengan cara menentukan panjang lintasan atau jarak tempuh bajak dan mencatat waktu yang dibutuhkan bajak singkal mencapai lintasan tersebut. Kecepatan dalam pengolahan tanah diukur menggunakan rumus (Ismail et al., 2012).

 

V = ……………………………………………………..(1)

 

Keterangan :

v    : kecepatan (m/detik)

s     : panjang lintasan (m)

t     : waktu tempuh (detik)

 

2.4.3. Pengujian Alat

Pengujian alat ini dilakukan setelah tanah dikondisikan sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan yang telah dijelaskan pada tahap persiapan lahan. Alat dan Bahan pengujian telah disiapkan di lahan tempat pengujian alat, dan pengoperasian alat disesuaikan dengan faktor kecepatan maju bajak singkal (2 km/jam, 3 km/jam, dan 4 km/jam) pada panjang lintasan pembajakan yang dilakukan pada setiap perlakuan yaitu 5 meter

 

2.4.4. Analisis Data

Pengambilan data dilakukan secara langsung di lapangan dengan mencatat data yang telah didapatkan, serta untuk Pengolahan data pada penelitian dilakukan dengan uji statistik analisa keragaman untuk melihat pengaruh setiap perlakuan terhadap parameter yang diamati.

 

2.4.5. Pengukuran

Pengukuran yang diukuri penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu parameter utama dan parameter pendukung

 

2.4.5.1. Parameter Utama

Parameter utama yang akan diukur dalam penelitian ini diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Kelengketan tanah (g)

Parameter ini diukur dengan cara mengambil hasil tanah yang lengket pada permukaan bajak kemudian ditimbang menggunakan timbangan digital dan dicatat hasilnya.

  1. Kedalaman kerja bajak (cm)

Parameter ini diukur dengan melakukan pengukuran        terhadap          perubahan

 

kedalaman pada tanah ultisol sebelum dan sesudah pengujian.

  1. Lebar kerja bajak (cm)

Parameter ini diukur dengan melakukan pengukuran terhadap perubahan lebar kerja bajak dari sebelum dan sesudah dilakukan pengujian.

  1. Tinggi tanah yang terbalik (cm)

Parameter ini dapat diukur dengan melakukan pengukuran terhadap hasil tinggi tanah yang terbalik setelah  pembajakan.

  1. Lebar tanah yang terbalik (cm)

Parameter ini dapat diukur dengan melakukan pengukuran terhadap hasil lebar tanah yang terbalik setelah  pembajakan

 

2.4.5.2. Parameter Pendukung

  1. Kadar Air Kapasitas Lapang

Kadar air kapasitas lapang secara umum dapat diartikan sebagai kadar air tanah saat drainase sudah berhenti mengalir akibat  adanya  gaya  gravitasi  dengan kondisi tanah yang sebelumnya telah mengalami jenuh sempurna (Haridjaja, et al., 2013). Kadar air dapat dihitung menggunakan rumus (Latiefuddin dan Lutfi, 2013):

 

Kadar Air (%) =   100%………………..(2)

 

Keterangan :

BB              = Berat basah tanah (g)

BK              = Berat Kering tanah (g)

 

  1. Bulk Density

Bulk density (bobot isi) dapat dinyatakan sebagai  perbandingan antara berat tanah  kering  dengan  volume tanah,  nilai   bulk   density   dapat   dihitung  dengan

menggunakan rumus (Atmanto, 2017):

 

Bulk Density =   100%..(3)

 

  1. Slip roda

Slip roda dapat dihitung dengan mengukur jarak perpindahan linier yang dihasilkan roda traktor dengan beban dalam satu putaran penuh pada lintasan dan membandingkannya dengan jarak perpindahan linier yang dihasilkan roda traktor tanpa beban dalam satu putaran penuh yang telah diketahui sebelumnya. Nilai slip roda dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut ( Hermawan dan Setiawan, 2017) :

 

S = …………………………………….(4)

 

Keterangan :

S                  = Slip roda

lt                     = jarak     perpindahan     linier     yang

dihasilkan  satu  putaran   penuh roda traktor tanpa beban

la                    = jarak     perpindahan     linier     yang

dihasilkan  satu  putaran penuh roda traktor dengan beban

 

  1. Perubahan Kecepatan

Perubahan kecepatan dapat dihitung dengan mengurangkan hasil pengukuran kecepatan tanpa beban dengan hasil pengukuran kecepatan saat pembajakan (dengan beban).

 

2.4.6 Analisia Teknis

2.4.6.1. Kelengketan Tanah pada Bajak

Kelengketan tanah pada bajak singkal dapat diukur  dengan cara mengambil atau membersihkan tanah yang lengket pada permukaan bajak hingga tidak ada lagi yang tersisa di  permukan  bajak,  kemudian  tanah  yang  telah  didapat   ditimbang menggunakan timbangan digital. Hasil yang terbaca pada timbangan digital merupakan persentase kelengketan tanah yang menempel pada bajak.

 

2.4.6.2. Persentase Tanah yang Terbalik Sempurna

Persentase tanah yang terbalik sempurna ini dapat diukur dengan membandingkan hasil kedalaman kerja bajak dan lebar kerja bajak dengan hasil tinggi  tanah   yang   terbalik  dan  lebar  tanah  yang  terbalik.  apabila  hasil  yang dihasilkan sama, maka pembajakan tersebut menghasilkan tanah yang terbalik sempurna.

 

2.4.6.3. Kedalaman Hasil Pembajakan

Kedalaman hasil pembajakan dapat di ukur dengan cara melakukan pengukuran terhadap perubahan kedalaman pada tanah ultisol sebelum dan sesudah pengujian.

 

2.4.6.4. Lebar Hasil Pembajakan

Lebar hasil pembajakan dapat di ukur dengan cara mencatat perubahan lebar kerja bajak dari sebelum dan sesudah dilakukan pengujian alat

 

 HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1. Kelengketan Tanah

Kelengketan tanah pada permukaan bajak dapat terjadi akibat gaya  gesek antara tanah dan

 

bajak lebih besar dari gaya kohesi tanah, dimana hal ini dapat dipengaruhi oleh kekasaran permukaan bajak yang digunakan. Selain itu kelengketan tanah juga dapat dipengaruhi oleh tingkat kadar air tanah yang diolah, semakin tinggi kadar air tanah tersebut maka banyaknya tanah yang lengket juga akan semakin banyak. Dimana, pada penelitian ini kadar air tanahnya memiliki rata-rata nilai 25,67% (kadar air sedang) dan bulk density dengan rata-rata 1,32 g/cm3. Hasil rata-rata kelengketan tanah pada pembajakan menggunakan bajak singkal dengan berbagai variasi sudut kelengkungan bajak pada kecepatan kerja bajak yang berbeda dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1. Rata-rata kelengketan tanah pada bajak singkal dengan berbagai variasi sudut kelengkungan bajak pada kecepatan kerja bajak yang berbeda

 

Keterangan :

A1    = Kelengkungan bajak 120ᵒ

A2    = Kelengkungan bajak 130ᵒ

A3    = Kelengkungan bajak 140ᵒ

B1    = Kecepatan kerja 2 km/jam

B2    = Kecepatan kerja 3 km/jam

B3    = Kecepatan kerja 4 km/jam

 

Faktor Rerata BNJ 0,05  = 5,20
B3 111,25 a
B2 127,28 b
B1 138,86 c

Gambar 3.1. menunjukkan bahwa kelengketan tanah pada pembajakan dengan  berbagai variasi sudut kelengkungan bajak pada kecepatan kerja bajak yang berbeda terendah terdapat pada perlakuan A3B3 (kelengkungan bajak 140ᵒ dan kecepatan kerja 4 km/jam) yaitu 104,63 g. Sedangkan kelengketan tanah tertinggi terdapat pada A2B1 (kelengkungan bajak 130ᵒ dan kecepatan kerja 2 km/jam) yaitu 147,48 g.

Hasil rata-rata kelengketan tanah pada pembajakan dengan berbagai variasi sudut kelengkungan bajak pada kecepatan kerja bajak yang berbeda menjelaskan bahwa semakin besar sudut kelengkungan bajak dan semakin tinggi kecepatan kerja bajak maka kelengketan tanah akan semakin rendah. Hal ini disebabkan oleh kelengkungan bajak yang mempengaruhi kedalaman kerja bajak yang mengakibatkan tanah yang terjangkau tidak terlalu dalam sehingga tanah yang lengket relatif sedikit dan kecepatan kerja bajak yang tinggi akan membuat tanah yang lengket mudah terlepas. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5% pengaruh sudut kelengkungan bajak terhadap kelengketan tanah dapat dilihat pada Tabel 3.1.

 

Tabel 3.1.Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5% pengaruh sudut kelengkungan bajak terhadap kelengketan tanah

 

Faktor Rerata BNJ 0,05 = 5,20
A3 117,13 a
A2 129,09 b
A1 131,17 b

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata.

 

Hasil uji BNJ pada Tabel 3.1. menunjukkan bahwa pada taraf uji 5% pengaruh kelengkungan bajak terhadap kelengketan tanah pada A2 (Kelengkungan bajak 130ᵒ) dan A1 (Kelengkungan bajak 120ᵒ) tidak berbeda nyata terhadap hasil kelengketan tanah, namun berbeda nyata dengan perlakuan A3 (Kelengkungan bajak 140ᵒ). Semakin besar sudut kelengkungan bajak atau semakin tidak lengkung bajak tersebut maka kelengketan tanah yang terjadi pada permukaan bajak akan semakin menurun. Hal ini disebabkan oleh kelengkungan bajak yang  mempengaruhi kedalaman kerja bajak yang mengakibatkan pada perlakuan A3 (Kelengkungan bajak 140ᵒ) tanah yang terjangkau tidak terlalu dalam sehingga tanah yang lengket relatif sedikit. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5% pengaruh kecepatan kerja bajak terhadap kelengketan tanah dapat dilihat pada Tabel 3.2.

 

Tabel 3.2.Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5% pengaruh kecepatan kerja bajak bajak terhadap kelengketan tanah

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata.

 

Hasil uji BNJ pada Tabel 3.2. menunjukkan bahwa pada taraf uji 5% pengaruh kecepatan kerja terhadap kelengketan tanah (g) pada B1 (Kecepatan kerja 2 km/jam) berpengaruh nyata terhadap perlakuan lainnya. Semakin besar kecepatan kerja bajak yang digunakan, maka kelengketan tanah pada permukaan bajak akan semakin rendah. Hal ini dikarenakan berkurangnya gaya adhesi yang terjadi pada tanah dan permukaan bajak yang mengakibatkan tanah yang menempel relatif sedikit. Begitu juga sebaliknya semakin rendah kecepatan kerja bajak yang digunakan, maka gaya adhesi yang terjadi pada tanah dan permukaan bajak akan bertambah yang mengakibatkan kelengketan tanah pada permukaan bajak akan semakin  tinggi.  Banyaknya   tanah   yang   lengket  pada  permukaan  bajak  akan

berpengaruh terhadap hasil pengolahan tanah yang dibajak. Hal ini disebabkan oleh tanah yang lengket pada permukaan bajak akan menghalangi proses pembalikan bajak sehinggga hasil yang diperoleh tidak maksimal.

 

3.2. Kedalaman Kerja Bajak

Kedalaman pengolahan kerja bajak dapat diartikan sebagai jarak vertikal antara titik terjauh penetrasi alat dengan permukaan tanah pada saat pengolahan tanah (Ismail, et al., 2012). Kedalaman olah tanah dan kecepatan kerja merupakan faktor yang mempengaruhi besarnya tenaga penarik bajak yang digunakan untuk menahan draft. Semakin dalam pembajakan maka tenaga tarikan yang diperlukan akan semakin besar untuk bergerak sesuai lintasan. Hasil rata-rata kedalaman kerja bajak menggunakan bajak singkal dengan berbagai variasi sudut kelengkungan bajak pada kecepatan kerja bajak yang berbeda dapat dilihat pada Gambar 3.2.

 

 

Gambar 3.2. Rata-rata kedalaman kerja bajak dengan berbagai variasi sudut kelengkungan bajak pada kecepatan kerja bajak yang berbeda

Keterangan :

A1       = Kelengkungan bajak 120ᵒ

A2       = Kelengkungan bajak 130ᵒ

A3       = Kelengkungan bajak 140ᵒ

B1       = Kecepatan kerja 2 km/jam

B2       = Kecepatan kerja 3 km/jam

B3       = Kecepatan kerja 4 km/jam

 

Gambar 3.2. menunjukkan bahwa kedalaman kerja bajak terendah terdapat pada perlakuan A3B2 (kelengkungan bajak 140ᵒ dan kecepatan kerja 3 km/jam) yaitu 8,33 cm, sedangkan kedalaman kerja bajak yang tertinggi terdapat pada perlakuan A1B3 (kelengkungan bajak 120ᵒ dan kecepatan kerja 4 km/jam) yaitu 11,67. Dari hasil rata-rata kedalaman tanah pada pembajakan dengan berbagai variasi sudut kelengkungan bajak pada kecepatan kerja bajak yang berbeda menjelaskan bahwa semakin kecil sudut kelengkungan bajak atau semakin lengkung bajak tersebut dan semakin tinggi kecepatan kerja bajak maka kedalaman tanah akan semakin meningkat. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5% pengaruh sudut kelengkungan bajak singkal terhadap kedalaman tanah dapat dilihat pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5%  pengaruh sudut kelengkungan bajak singkal terhadap kedalaman kerja bajak.

Faktor Rerata BNJ 0,05 = 0,34
A3 8,78 a
A2 10,44 b
A1 11,33 c

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata.

 

Berdasarkan hasil uji beda nyata jujur (BNJ) pada Tabel 3.3. menunjukkan bahwa pada taraf uji 5% pengaruh sudut kelengkungan bajak singkal terhadap kedalaman tanah (cm)  pada  A1  (kelengkungan  bajak  120ᵒ)   berpengaruh  nyata terhadap perlakuan lainnya (A3 dan A2). Hal ini disebabkan oleh semakin lengkung bajak yang digunakan maka kedalaman tanah yang akan dicapai semakin besar. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5% pengaruh kecepatan kerja bajak singkal terhadap kedalaman tanah dapat dilihat pada Tabel 3.4.

 

Tabel 3.4. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5%  pengaruh kecepatan kerja bajak singkal terhadap kedalaman kerja bajak.

 

Faktor Rerata BNJ 0,05 = 0,34
B1 10,00 a
B2 10,00 a
B3 10,56 b

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata.

 

Hasil uji BNJ (beda nyata jujur) pada Tabel 3.4. menunjukkan bahwa pada taraf uji 5% pengaruh kecepatan kerja bajak terhadap kelengketan tanah pada B1 (kecepatan kerja 2 km/jam) dan B2 (kecepatan kerja 3 km/jam) tidak berbeda nyata terhadap hasil kedalaman tanah, namun berbeda nyata dengan perlakuan B3 (kecepatan kerja 4 km/jam). Kedalaman tanah merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap besarnya draftt (tahanan tarik). Semakin dalam tanah yang diolah akan menyebabkan meningkatnya draft pada pengolahan tanah tersebut karena massa dan volume tanah yang akan dipotong serta dibalikkan oleh bajak akan semakin meningkat (Ismail, et al., 2012). Sehingga, semakin meningkatkan kecepatan kerja bajak maka kedalaman yang dihasilkan akan meningkat. Hal ini dikarenakan kecepatan kerja bajak yang tinggi akan mengimbangi massa dan volume tanah yang dipotong dan dibalikkan bajak pada saat pengolahan tanah.

 

3.3.Tinggi Hasil Pembajakan

Tinggi hasil pembajakan atau tinggi tanah yang terbalik adalah jarak puncak tertinggi dari hasil pembajakan terhadap permukaan tanah ( Hilal, 2021). Tinggi tanah yang terbalik terjadi ketika bajak memotong tanah yang kemudian tanah tersebut akan terbalik ke  atas  permukaan  tanah  kemudian  terlempar  ke  samping mengikuti lengkungan singkal akibat pergerakan maju bajak ( Prakasa, 2021). Hasil rata-rata tinggi tanah yang terbalik menggunakan bajak singkal dengan berbagai variasi sudut kelengkungan bajak pada kecepatan kerja bajak yang berbeda dapat dilihat pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3. menunjukkan bahwa tinggi hasil pembajakan yang tertinggi terdapat pada perlakuan A1B3  (kelengkungan  bajak  120ᵒ  dan  kecepatan  kerja  4  km/jam) yaitu 11 cm, sedangkan tinggi hasil pembajakan yang terendah terdapat pada perlakuan A3B2 (kelengkungan bajak 140ᵒ dan kecepatan kerja 3 km/jam) yaitu 7,33 cm. Dari hasil rata-rata tinggi hasil pembajakan dengan berbagai variasi sudut kelengkungan bajak pada kecepatan kerja bajak yang berbeda menjelaskan bahwa semakin kecil sudut kelengkungan bajak atau semakin lengkung bajak tersebut dan semakin tinggi kecepatan kerja bajak maka tinggi tanah yang terbalik juga akan semakin meningkat.

 

 

Gambar 3.3. Rata-rata tinggi hasil pembajakan bajak dengan berbagai variasi sudut kelengkungan bajak pada kecepatan kerja bajak yang berbeda

 

Keterangan :

A1        = Kelengkungan bajak 120ᵒ

A2        = Kelengkungan bajak 130ᵒ

A3        = Kelengkungan bajak 140ᵒ

B1        = Kecepatan kerja 2 km/jam

B2        = Kecepatan kerja 3 km/jam

B3        = Kecepatan kerja 4 km/jam

 

Hasil rata-rata tinggi hasil pembajakan dan hasil rata-rata kedalaman tanah memiliki nilai yang berbanding lurus, hal ini dapat dilihat bahwa nilai terendah maupun tertinggi yang dicapai keduanya terdapat pada perlakuan yang sama yaitu, A1B3 (kelengkungan bajak 120ᵒ dan kecepatan kerja 4 km/jam)  untuk yang tertinggi dan A3B2 (kelengkungan bajak 140ᵒ dan kecepatan kerja 3 km/jam) untuk yang terendah. Hal ini menunjukkan bahwa kedalaman tanah juga mempengaruhi hasil tinggi hasil pembajakan. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5% pengaruh sudut kelengkungan bajak singkal terhadap tinggi hasil pembajakan dapat dilihat pada Tabel 3.5.

 

Tabel 3.5. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5%  pengaruh sudut kelengkungan bajak singkal terhadap tinggi hasil pembajakan.

Faktor Rerata BNJ 0,05 = 0,48
A3 8,22 a
A2 9,67 b
A1 10,11 c

 

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata.

 

Berdasarkan hasil uji beda nyata jujur (BNJ) pada Tabel 3.5. menunjukkan bahwa pada taraf uji 5% pengaruh sudut kelengkungan bajak singkal terhadap kedalaman tanah (cm) pada A1 (kelengkungan bajak 120ᵒ)  berpengaruh nyata terhadap perlakuan lainnya (A3 dan A2). Semakin lengkung bajak yang digunakan maka tinggi tanah yang terbalik akan semakin besar. Hal ini disebabkan oleh semakin  lengkung  bajak  yang  digunakan  akan  menyebabkan  pembajakan  yang terjadi semakin dalam, dengan bertambahnya kedalaman tanah yang dicapai tersebut maka tanah yang terlempar pun akan semakin tinggi.  Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5% pengaruh kecepatan kerja bajak singkal terhadap tinggi hasil pembajakan dapat dilihat pada Tabel 3.6.             

 

Tabel 3.6. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5%  pengaruh kecepatan kerja bajak singkal terhadap tinggi hasil pembajakan.

 

Faktor Rerata BNJ 0,05 = 0,48
B1 8,78 a
B2 9,44 b
B3 9,78 c

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata.

 

Berdasarkan hasil uji beda nyata jujur (BNJ) pada Tabel 3.6. menunjukkan bahwa pada taraf uji 5% pengaruh kecepatan kerja bajak singkal terhadap kedalaman tanah (cm) pada B3 (Kecepatan kerja 4 km/jam) berpengaruh nyata terhadap perlakuan lainnya (B1 dan B2). Semakin besar tingkat kecepatan kerja yang digunakan maka tinggi tanah yang terbalik akan semakin besar. Hal ini disebabkan oleh semakin meningkatkan kecepatan kerja bajak maka kedalaman yang dihasilkan akan meningkat. sehingga tinggi tanah yang dihasilkan pun akan semakin meningkat pula.

 

3.4. Lebar Kerja Bajak

Lebar kerja bajak didapat ketika proses pembajakan berlangsung yaitu pada saat bajak singkal bergerak maju kemudian memotong tanah yang kemudian potongan tanah tersebut akan terlempar dan terbalik ke samping sehingga tanah yang dibajak membentuk cekungan yang kemudian lebar dari cekungan bekas bongkahan tanah yang telah terangkat tersebut dihitung lebar nya dari sisi kanan ke sisi kiri secara horizontal. Lebar kerja bajak atau lebar pemotongan bajak  dapat dipengaruhi oleh ukuran bajak yang digunakan. Ukuran pada bajak singkal merupakan ukuran lebar bajak  dari  sayap  hingga  penahan  samping  dinyatakan  dalam satuan panjang ( Hilal, 2021). Pengukuran lebar kerja bajak diukur menggunakan penggaris ataupun meteran. Hasil rata-rata lebar kerja bajak menggunakan bajak singkal dengan berbagai variasi sudut kelengkungan bajak pada kecepatan kerja bajak yang berbeda dapat dilihat pada Gambar 3.4.

 

 

Gambar 3.4. Rata-rata lebar kerja bajak dengan berbagai variasi sudut kelengkungan bajak pada kecepatan kerja bajak yang berbeda

 

Keterangan :

A1       = Kelengkungan bajak 120ᵒ

A2       = Kelengkungan bajak 130ᵒ

A3       = Kelengkungan bajak 140ᵒ

B1       = Kecepatan kerja 2 km/jam

B2       = Kecepatan kerja 3 km/jam

B3       = Kecepatan kerja 4 km/jam

 

Gambar 3.4. menunjukkan bahwa lebar kerja bajak yang tertinggi terdapat pada perlakuan A1B3 (kelengkungan bajak 120ᵒ dan kecepatan kerja 4 km/jam) yaitu 16,67 cm, sedangkan lebar kerja bajak yang terendah terdapat pada perlakuan  A3B1 (kelengkungan bajak 140ᵒ dan kecepatan kerja 2 km/jam) dan A3B2  (kelengkungan bajak 140ᵒ dan kecepatan kerja 3 km/jam)  yaitu 13,33 cm.

Hasil rata-rata lebar kerja bajak dengan berbagai variasi sudut kelengkungan bajak pada kecepatan kerja bajak yang berbeda menjelaskan bahwa semakin kecil sudut kelengkungan bajak atau semakin lengkung bajak tersebut dan semakin tinggi kecepatan kerja bajak maka lebar kerja bajak juga akan semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh semakin lengkung bajak yang digunakan maka

 

akan semakin lebar potongan tanah yang dibalikkan oleh bajak tersebut dan semakin tinggi kecepatan kerja yang digunakan maka akan mengimbangi massa dari bongkahan yang diangkat oleh bajak tersebut, selain itu semakin bertambahnya kecepatan maju bajak maka tekanan gaya gesek antara tanah dan mata bajak akan semakin besar yang menyebabkan alur lintasan pada sisi samping mengalami keruntuhan tanah sehingga lebar kerja bajak semakin meningkat. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5% pengaruh sudut kelengkungan bajak singkal terhadap lebar kerja bajak dapat dilihat pada Tabel 3.7.

 

Tabel 3.7. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5%  pengaruh sudut kelengkungan bajak singkal terhadap lebar kerja bajak.

Faktor Rerata BNJ 0,05 = 0,40
A3 13,67 a
A2 14,89 b
A1 15,78 c

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata.

 

Berdasarkan hasil uji beda nyata jujur (BNJ) pada Tabel 3.7. menunjukkan bahwa pada taraf uji 5% pengaruh sudut kelengkungan bajak singkal terhadap lebar kerja bajak (cm) pada A1 (kelengkungan bajak 120ᵒ)  berpengaruh nyata terhadap perlakuan A2 (kelengkungan bajak 130ᵒ) dan A3 (kelengkungan bajak 140ᵒ)   Semakin lengkung bajak yang digunakan maka lebar kerja bajak akan semakin besar. Hal ini disebabkan oleh semakin lengkung bajak yang digunakan akan menyebabkan  pembajakan  yang  terjadi  semakin  dalam,  dengan  bertambahnya  kedalaman tanah yang dicapai tersebut maka lebar tanah yang dihasilkan pun akan semakin besar. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5% pengaruh kecepatan kerja bajak singkal terhadap lebar kerja dapat dilihat pada Tabel 3.8.

 

Tabel 3.8. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5%  pengaruh kecepatan kerja bajak singkal terhadap lebar kerja bajak.

Faktor Rerata BNJ 0,05 = 0,40
B1 14,11 a
B2 14,67 b
B3 15,56 c

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata.

Berdasarkan hasil uji beda nyata jujur (BNJ) pada Tabel 3.8. menunjukkan bahwa pada taraf uji 5% pengaruh kecepatan kerja bajak singkal terhadap lebar kerja bajak (cm) pada B3 (Kecepatan kerja 4 km/jam) berpengaruh nyata terhadap perlakuan lainnya (B1 dan B2). Semakin besar tingkat kecepatan kerja yang digunakan maka lebar kerja bajak akan semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh faktor pertambahan kecepatan dan sifat tanah, dimana kecepatan kerja bajak yang semakin meningkat, bulk density yang rendah dengan rata-rata nilai 1,32 g/cm3 dan kedalaman tanah yang meningkat pada alur lintasan menyebabkan gesekan antara tanah dan pisau bajak. Hal ini mengakibatkan tanah mengalami keruntuhan pada bagian sisi alur lintasan sehingga lebar kerja bajak menjadi lebih besar.

 

3.5. Lebar Tanah Hasil Pembajakan

Lebar tanah hasil pembajakan didapat ketika proses pembajakan berlangsung yaitu pada saat bajak singkal bergerak maju kemudian memotong tanah yang kemudian potongan tanah tersebut akan terlempar dan terbalik ke samping sehingga membentuk lengkungan tinggi di atas permukaan tanah yang kemudian lengkungan tersebut dihitung lebar nya dari sisi kanan ke sisi kiri secara horizontal. Lebar tanah hasil pembajakan yang terbalik sempurna akan menghasilkan nilai yang sama dengan lebar kerja bajak. Pengukuran lebar  tanah  hasil  pembajakan  dapat  diukur  menggunakan penggaris ataupun meteran pada sisi samping alur lintasan yang telah diolah. Hasil rata-rata lebar hasil pembajakan menggunakan bajak singkal dengan berbagai variasi sudut kelengkungan bajak pada kecepatan kerja bajak yang berbeda dapat dilihat pada Gambar 3.5.

 

 

Gambar 3.5. Rata-rata lebar hasil pembajakan dengan berbagai variasi sudut kelengkungan bajak pada kecepatan kerja bajak yang berbeda

 

 

Keterangan :

A1    = Kelengkungan bajak 120ᵒ

A2    = Kelengkungan bajak 130ᵒ

A3    = Kelengkungan bajak 140ᵒ

B1    = Kecepatan kerja 2 km/jam

B2    = Kecepatan kerja 3 km/jam

 

Gambar 3.5. menunjukkan bahwa lebar hasil pembajakan yang tertinggi terdapat pada perlakuan A1B3 (kelengkungan bajak 120ᵒ dan kecepatan kerja 4 km/jam) yaitu 20,33 cm, sedangkan lebar kerja bajak yang terendah terdapat pada  perlakuan A3B1 (kelengkungan bajak 140ᵒ dan kecepatan kerja 2 km/jam) dan A3B2  (kelengkungan bajak 140ᵒ dan kecepatan kerja 3 km/jam)  yaitu 16,00 cm. Dari hasil rata-rata lebar hasil pembajakan menjelaskan bahwa semakin kecil sudut kelengkungan bajak atau semakin lengkung bajak tersebut dan semakin tinggi kecepatan kerja bajak maka lebar hasil pembajakan juga akan semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh semakin lengkung bajak yang digunakan maka akan semakin lebar potongan tanah yang dibalikkan oleh bajak tersebut dan semakin tinggi kecepatan kerja yang digunakan maka akan  semakin banyak tanah yang mengalami keruntuhan sehingga lebar hasil pembajakan yang dihasilkan akan semakin meningkat.

Hasil lebar pembajakan dan hasil lebar kerja bajak memiliki nilai yang berbanding lurus, hal ini dapat dilihat bahwa nilai tertinggi sama-sama dicapai pada perlakuan perlakuan A1B3 (kelengkungan bajak 120ᵒ dan kecepatan kerja 4 km/jam) dan yang terendah dicapai pada perlakuan A3B1 (kelengkungan bajak 140ᵒ dan kecepatan kerja 2 km/jam) dan A3B2  (kelengkungan bajak 140ᵒ dan kecepatan kerja 3 km/jam). Hal ini menunjukkan bahwa lebar kerja bajak mempengaruhi hasil dari lebar hasil pembajakan, walaupun hasil yang dihasilkan keduanya tidak menjadi tanah yang terbalik sempurna.Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5% pengaruh sudut kelengkungan bajak singkal terhadap lebar hasil pembajakan dapat dilihat pada Tabel 3.9.

 

Tabel 3.9. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5%  pengaruh sudut kelengkungan bajak singkal terhadap lebar hasil pembajakan.

Faktor Rerata BNJ 0,05 = 0,76
A3 16,33 a
A2 17,67 b
A1 19,00 c

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata.

Berdasarkan hasil uji beda nyata jujur (BNJ) pada Tabel 3.9. menunjukkan bahwa pada taraf uji 5% pengaruh sudut kelengkungan bajak singkal terhadap lebar hasil pembajakan (cm) pada A1 (kelengkungan bajak 120ᵒ)  berpengaruh nyata terhadap perlakuan A2 (kelengkungan bajak 130ᵒ) dan A3 (kelengkungan bajak 140ᵒ)   Semakin lengkung bajak yang digunakan maka lebar hasil pembajakan akan semakin meningkat. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5% pengaruh kecepatan kerja bajak singkal terhadap lebar kerja dapat dilihat pada Tabel 3.10.

 

Tabel 3.10. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5%  pengaruh kecepatan kerja bajak singkal terhadap lebar hasil pembajakan.

Faktor Rerata BNJ 0,05 = 0,76
B1 16,67 a
B2 17,78 b
B3 18,56 c

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata.

 

Berdasarkan hasil uji beda nyata jujur (BNJ) pada Tabel 3.10. menunjukkan bahwa pada taraf uji 5% pengaruh kecepatan kerja bajak singkal terhadap lebar hasil pembajakan (cm) pada B3 (Kecepatan kerja 4 km/jam) berpengaruh nyata terhadap perlakuan lainnya (B1 dan B2). Semakin besar tingkat kecepatan kerja yang digunakan maka lebar hasil pembajakan akan semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya kecepatan maju bajak maka bongkahan tanah yang terlempar ke sisi samping alur lintasan akan semakin banyak, selain itu tingkat kadar air dan bulk density tanah tersebut juga mempengaruhi. Hal ini juga menyebabkan tanah yang terlempar cenderung mengalami keruntuhan yang mengakibatkan lebar hasil pembajakan semakin meningkat.

 

3.6. Slip Roda

Slip roda dapat dihitung dengan mengukur jarak perpindahan linier yang dihasilkan roda traktor dengan beban dalam satu putaran penuh pada lintasan dan membandingkannya dengan jarak perpindahan linier yang dihasilkan roda traktor tanpa beban dalam satu putaran penuh yang telah diketahui sebelumnya (Hermawan dan Setiawan, 2017). Dari data yang telah didapat pada penelitian slip  roda yang paling tinggi diperoleh oleh perlakuan A1B3 (kelengkungan bajak 120ᵒ dan kecepatan kerja 4 km/jam) yaitu dengan rata-rata nilai slip roda

 

kanan sebesar 62% dan roda kiri sebesar 59%, sedangkan nilai terendah slip roda ynag didapat adalah sebesar 0% (tanpa slip) yaitu pada perlakuan  A2B1 (kelengkungan bajak 130ᵒ dan kecepatan kerja 2 km/jam). Hal ini menunjukkan bahwa semakin bertambahnya kelengkungan bajak singkal dan tingkat kecepatan semakin tinggi, maka slip roda akan semakin meningkat. Kelengkungan bajak mempengaruhi kedalaman tanah yang mengakibatkan massa yang diangkat oleh bajak semakin besar sehingga menyebabkan terjadinya slip pada roda, sedangkan kecepatan yang semakin meningkat menyebabkan timbulnya gesekan antara tanah dan roda yang semakin besar, sehingga peluang terjadinya slip semakin meningkat.

 

  • Perubahan Kecepatan

Perubahan kecepatan dapat dihitung dengan mengurangkan hasil pengukuran kecepatan tanpa beban dengan hasil pengukuran kecepatan saat pembajakan (dengan beban). Dari hasil yang terlah didapat pada penelitian, nilai perubahan kecepatan terbesar didapat pada perlakuan A1B2 (kelengkungan bajak 120ᵒ dan kecepatan kerja 3 km/jam), sedangkan nilai perubahan kecepatan terendah didapat pada perlakuan A3B1 (kelengkungan bajak 120ᵒ dan kecepatan kerja 2 km/jam). Hal ini menunjukkan bahwa semakin bertambahnya kelengkungan bajak singkal dan tingkat kecepatan semakin tinggi, maka perubahan kecepatan akan semakin meningkat. Selain itu Perubahan kecepatan dapat dipengaruhi oleh faktor lain yaitu  operator dan slip roda. Semakin banyaknya slip yang terjadi, maka waktu yang ditempuh oleh traktor yang mengakibatkan perubahan kecepatan semakin meningkat.

Operator yang mengoperasikan traktor juga dapat mempengaruhi perubahan kecepatan, yaitu pada saat menyetel gas traktor untuk perlakuan kecepatan sering kali gas mengalami penurunan yang tidak disadari oleh operator yang mengakibatkan waktu tempuh traktor tersebut semakin lama. Traktor yang digunakan pada penelitian ini juga mengalami beberapa kendala yang membuat beberapa fungsi traktor tidak berjalan semestinya sehingga operator mengalami sedikit kesulitan saat mengoperasikan traktor tersebut

 

 KESMIPULAN DAN SARAN

4.1.Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menggunakan bajak singkal dengan berbagai variasi sudut kelengkungan bajak pada kecepatan kerja bajak yang berbeda maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Kelengkungan bajak dan kecepatan kerja pembajakan berpengaruh nyata terhadap hasil kelengketan tanah (g), kedalaman kerja bajak (cm), tinggi hasil pembajakan (cm), lebar kerja bajak (cm), dan lebar hasil pembajakan (cm).
  2. Kombinasi perlakuan sudut kelengkungan bajak 140ᵒ dan kecepatan 4 km/jam menghasilkan rata-rata kelengketan tanah terendah yaitu 104,63 g.
  3. Kombinasi perlakuan sudut kelengkungan 120ᵒ dan kecepatan 4km/jam menghasilkan rata-rata kedalaman kerja bajak, tinggi hasil pembajakan, lebar kerja bajak, dan lebar hasil pembajakan tertinggi yaitu secara berturut-turut sebesar 11,67 cm, 11,00 cm, 16,67 cm, dan 20,33 cm.

 

  • Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan disarankan untuk menggunakan traktor dalam kondisi yang baik agar tidak membebani ketika pengambilan data, serta keterampilan operator dalam melakukan pembajakan juga harus diperhatikan.

[1] Mahasiswa Jurusan Teknologi Pertanian

[2] Dosen Jurusan Teknologi Pertanian

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

24 komentar